Pertama kali mengenal puisi ini zaman masih SD,dari buku teks bahasa Indonesia milik kakak. Membekas di hati hingga kini.
Satu pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana intonasi yang tepat untuk kata "sayang"? Apakah seperti kata "dear" atau "honey"? Atau "what a shame" atau "too bad"?
Adakah yang bisa menjawab?
Pahlawan Tak Dikenal
(Toto Sudarto Bachtiar)
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(1955)
Siasat,
Th IX, No. 442
1955
Friday, November 13, 2009
soundtrack of 10 november
remember-remember, sepuluh november...haiyah...ga nyambung...hihihihi...
tapi inilah soundtrack yang saya pilih untuk menemukan kembali the meaning of hero in every one of us... :)
frikitiw....(opo sih???!!)
Go The Distance
(Michael Bolton)
I have often dreamed
Of a far off place
Where a hero's welcome
Would be waiting for me
Where the crowds will cheer
When they see my face
And a voice keeps saying
This is where I'm meant to be
I'll be there someday
I can go the distance
I will find my way
If I can be strong
I know ev'ry mile
Will be worth my while
When I go the distance
I'll be right where I belong
Down an unknown road
To embrace my fate
Though the road may wander
It will lead me to you
And a thousand years
Would be worth the wait
It may take a lifetime
But somehow I'll see it through
And I won't look back
I can go the distance
And I'll stay on track
No I won't accept defeat
It's an uphill slope
But I won't lose hope
Till I go the distance
And my journey is complete
But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart
Like a shooting star
I can go the distance
I will search the world
I will face its harms
I don't care how far
I can go the distance
TillI find my hero's welcome
Waiting in your arms...
I will search the world
I will face its harms
Till I find my hero's welcome
Waiting in your arms...
tapi inilah soundtrack yang saya pilih untuk menemukan kembali the meaning of hero in every one of us... :)
frikitiw....(opo sih???!!)
Go The Distance
(Michael Bolton)
I have often dreamed
Of a far off place
Where a hero's welcome
Would be waiting for me
Where the crowds will cheer
When they see my face
And a voice keeps saying
This is where I'm meant to be
I'll be there someday
I can go the distance
I will find my way
If I can be strong
I know ev'ry mile
Will be worth my while
When I go the distance
I'll be right where I belong
Down an unknown road
To embrace my fate
Though the road may wander
It will lead me to you
And a thousand years
Would be worth the wait
It may take a lifetime
But somehow I'll see it through
And I won't look back
I can go the distance
And I'll stay on track
No I won't accept defeat
It's an uphill slope
But I won't lose hope
Till I go the distance
And my journey is complete
But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart
Like a shooting star
I can go the distance
I will search the world
I will face its harms
I don't care how far
I can go the distance
TillI find my hero's welcome
Waiting in your arms...
I will search the world
I will face its harms
Till I find my hero's welcome
Waiting in your arms...
Tuesday, October 27, 2009
strange but familiar

...as i always said, dari dulu aku payah dalam urusan puisi. Entah dalam memahami maknanya, menulisnya,atau sekedar menilai puisi mana yang indah dan mana yang norak. Sungguh, aku tidak tahu.
Namun demikian, *halah bahasane..plis deh*, dalam kesempatan iseng browsing puisi Pak Sapardi, aku menemukan puisi singkat ini. Aku tidak yakin maknanya, dan mungkin tak tahu maksud beliau ketika menuliskannya, tapi aku suka. :) It's strange, yet familiar.
Jadi, mohon ijin Pak Sapardi, saya posting puisi Bapak di sini, syukur-syukur nanti Bapak bisa menjelaskan makna atau bahkan mungkin suasana batin *halah, bahasane politik praktis bangedh, huikikiki* ketika Bapak menulisnya...
Buat teman-teman, yang suka dan ndhak suka puisi, yang ngerti dan ndhak ngerti Sapardi...selamat menikmati. :)
HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Tuesday, September 01, 2009
The Tale of The Speech Admirer

Once upon a time, ada seorang anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di sebuah dusun kecil, yang merupakan bagian dari sebuah negeri yang luaaaaaaaaassssss sekali. *saking luasnya, negeri ini tidak terpetakan secara geografis, kekeke* Anak perempuan ini mempunyai sifat periang, dan sifat seperti anak-anak kebanyakan, dengan rasa ingin tahu yang sangat besar (dan kadang terlalu besar sampai membuat orang lain sebal) dan sifat orang dusun pada umumnya, mudah takjub dan terkagum-kagum, atau kata salah satu gurunya dalam bahasa ibunya: “gumunan”(sehingga terkadang si anak memiliki antusiasme yang berlebihan, hehe).
Ketiga sifat ini, dengan ditambah sedikit keberuntungan dan tentunya kehendak Allah tuhan sekalian alam, si anak akhirnya entah bagaimana ceritanya mendapatkan pekerjaan yang cukup lucu di sebuah unit (“unit” gitu loh) di pemerintahan pusat negeri nan luas itu. Si anak, dengan rasa ingin tahu dan rasa gumunan-nya, menyambut tantangan itu dengan ceria dan berkata kepada dirinya: “Di sinilah tempat aku akan mencari sesuap nasi dan segunung ilmu. Yosh, ganbarimasu!!!” *lo, ini sa’jane cerita dari negeri mana sih..hehehe*.
Segera saja, begitu banyak hal baru yang didapatkan anak itu di tempat dia bekerja. Ada yang baik, ada juga yang kurang baik. Ada yang bijak, ada juga yang kurang bijak. Ada yang lurus, ada juga yang berkelok-kelok. “Namun aku yakin, semuanya bisa mengajarkanku kebijaksanaan hidup dan segunung ilmu.”, kata si anak dengan sok tua dan sok tau kepada dirinya sendiri (seperti biasanya dia katakan kepada teman-temannya, yang sebenarnya tidak meminta nasihatnya, hehe.) Jadi, tetep, ganbarimasu, lah pokoke, kata si anak sambil mengikatkan ikat kepala bertuliskan huruf kanji bertuliskan “fight!!” (hih, kok dadi komik banget, wkwkwk ^^v).
Satu hal yang sangat disukai si anak dari pekerjaan barunya adalah kesempatan untuk bertemu dan mendengarkan langsung petuah, ajaran, analisis, kritik pedas, kadang caci maki, sabda dan fatwa dari orang-orang penting, tersohor dan para penentu haluan negeri nan luas itu. Di antara mereka ada yang lembut nan bijak, ada yang meledak-ledak. Ada juga yang sinis nan nylekit, ada yang lugas dan cerdas. Ada yang disebut ceramah, khutbah, wejangan, dan ada juga yang disebut pidato *entah dari mana kata itu bermula, sounds so strange to me, mungkin dari bahasa bangsa kecil yang pernah menjajah namun secara ironis juga turut membidani kelahiran negeri nan luas itu, maaf belum sempet googling* Si anak merasa semua rangkaian kata-kata itu menjadi sumber gunung ilmu dan kebijaksanaan hidup yang merupakan harta yang sangat berharga baginya. *lebay.com, sedulure ebay.com*
Demi mengumpulkan harta itu, si anak menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli sebuah benda canggih nan ajaib berwarna biru untuk menampung dan mengumpulkan segala macam wejangan, ceramah, khutbah dan pidato itu tadi, untuk kemudian dikenang atau diperdengarkan kembali. Benda ini memang tak secanggih pensieve-nya Penyihir Besar Albus Dumbledore (alm.) Kepala Sekolah Hogwarts School of Witchraft and Wizarding yang bisa membawa pemakainya ke dalam sensasi memori empat dimensi (halah, bahasa mana pula ini, hwehe). Namun benda ajaib ini cukup membuat si anak semakin riang dan bersemangat bekerja, sehingga seolah-olah ketika dia berjalan ada pegas di sol sepatunya. *asli lebay nek sing iki, hehehe*
Banyak sudah kata-kata penting ditampung di dalam benda ajaib itu, mulai dari kata-kata bijaksana sang mentri, sambutan mentornya yang selalu menginspirasi, hingga sambutan bersejarah pemimpin kulit berwarna pertama di sebuah negara adidaya-adikuasa yang merupakan tetangga negeri nan luas ini, tentunya yang terakhir ini direkam dari kotak kaca ajaib bernama televisi. Namun bagi si anak, tiada pidato yang paling berkesan selain kata-kata ibu menteri cantik yang terkenal dengan ketajaman pikiran dan selera berbusana batiknya yang tinggi serta antingnya yang serasi *halah*. Sampai hari ini, si anak masih berdecak kagum mengingat keberanian dan keanggunan sang ibu menteri, meskipun dalam banyak hal yang prinsipil si anak sangat berseberangan paham dengan sang ibu menteri. “Sepertinya ibu itu tidak merasa bahwa dirinya terhegemoni”, batin si anak, kali ini dengan sangat-super-sok-tua-dan-sok-tau. *hahaha, silakan protes buat yang mau protes*
Waktu terus berlalu, benda ajaib maha penting itu terus menemani hari-hari si anak. Sampai pada suatu hari, si anak tanpa sengaja meninggalkan benda ajaib di sebuah ruangan di tempat dia bekerja. Satu jam sesudahnya, si anak menyadari kecerobohannya, dan dicarinya benda ajaib ke seluruh sudut yang memungkinkan, ke setiap orang yang sekiranya bisa memberi harapan. Tak satupun memberikan jawaban yang memuaskan. Anak itu sedih bukan kepalang.
Salah seorang sahabat si anak tanpa sengaja mengabarkan bahwa ada seorang sahabatnya yang bisa membaca keberadaan sang kehilangan. Si anak tak menyia-nyiakan timbulnya harapan baru, segera ditanyakanlah keberadaan benda ajaib berwarna biru kepada sang pemilik indera ke tujuh. Sang pemilik indera ke tujuh hanya mengatakan: “ikhlaskan saja...”. Si anak tidak puas dengan jawabannya. “mungkin memang masih ada di sekitar sini...” lanjut temannya. Si anak semakin mendesak. “sudah berpindah tangan...sudah lebih sulit diminta kembali...” jelasnya menenangkan si anak. Si anak yang keras kepala mengatakan akan membelinya kembali, bahkan dengan harga yang lebih tinggi, mengingat benda ajaib itu tak lagi dijual di pasar. “diikhlaskan saja...”. Si anak putus asa, setidaknya untuk hari itu.
Keesokan harinya, si anak kembali, dengan pertanyaan yang sama. Dengan ketidakterimaan yang kurang lebih juga masih sama. “sudah, ikhlaskan saja...” si anak tetap merengek tak mau diam. “benda itu sudah digunakan untuk membiayai pendidikan persamaan...”. Si anak kini terdiam. Baginya, pendidikan adalah sumber kehidupan. Dia menyadari hidupnya tak akan seperti sekarang tanpa pendidikan. Bahkan para pemimpin negerinya juga masih heboh memperjuangkan tentang anggaran pendidikan 20% sesuai amanat konstitusi.*hahaha, kok informasi ini masuk di sini sih...* Pendidikan persamaan, berarti lebih penting lagi, karena ini berarti kesempatan kedua untuk mereka yang tak seberuntung dirinya yang selalu mendapatkan kesempatan pertama, meski dalam keterpencilan tempat kelahiran dan ketidakmewahan hidup orang tuanya.
Akhirnya si anak membatin: “Selamat tinggal benda ajaib-ku, semoga pengorbananmu tidak sia-sia. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Ihiks. Srot-srot. *aih, jijay. Eh, ngga ding, lha wong cuma dibatin thok, kekeke*”
Friday, August 07, 2009
Wednesday, August 05, 2009
Teringat Bapak Macapatan
Entah kenapa, tiba-tiba tembang macapat favorit Bapak yang sering beliau tembangkan ketika memangkuku (masih terbungkus selimut, memandangi orang-orang yang pergi ke sawah dan ke sekolah) di depan rumah di pagi hari dulu terngiang-ngiang.*umur berapa ya waktu itu...?*
Macapat yang beliau pilih berjenis pocung, dan bait pertamanya berbunyi begini:
Ngelmu iku, kalakone kanthi laku...
*Terusane sudah lali semua...hwehehe*
Kira-kira kalo di translate mungkin "learning is by doing" kali ya? hihihi. Atau "knowledge is implemented by implementing"? hahaha...ada yang bisa ngasi terjemahan lebih bagus?
Apapun maknanya, it takes more than 20 years untuk memunculkan kalimat itu di memoriku dengan begitu kuat. Rasanya seperti flashback yang memantul dengan begitu kuat dan mengetuk-ngetuk lembut gendang telingaku, bertalu-talu, semoga untuk mampir di hati dan otakku.
Mungkin aku memang masih belum sepenuhnya bisa paham apa yang dimaksud si penulis tembang macapat...but i am in search for it.
Bismillah...
Macapat yang beliau pilih berjenis pocung, dan bait pertamanya berbunyi begini:
Ngelmu iku, kalakone kanthi laku...
*Terusane sudah lali semua...hwehehe*
Kira-kira kalo di translate mungkin "learning is by doing" kali ya? hihihi. Atau "knowledge is implemented by implementing"? hahaha...ada yang bisa ngasi terjemahan lebih bagus?
Apapun maknanya, it takes more than 20 years untuk memunculkan kalimat itu di memoriku dengan begitu kuat. Rasanya seperti flashback yang memantul dengan begitu kuat dan mengetuk-ngetuk lembut gendang telingaku, bertalu-talu, semoga untuk mampir di hati dan otakku.
Mungkin aku memang masih belum sepenuhnya bisa paham apa yang dimaksud si penulis tembang macapat...but i am in search for it.
Bismillah...
Wednesday, July 29, 2009
butterfly

nice sensation.
confusing conclusion.
dear God, please tell me what to do.
dear butterfly, please kindly let me know.
-------------------------------------------------------------------------------------
From Wikipedia - butterflies in the stomach
Butterflies in the stomach is a medical condition characterized by the physical sensation of a "fluttery" feeling in the stomach. This sensation can be a physical sensation related to the body's fight or flight response or it can be an ineffable experience related to the psychology of true love or nervousness.
Some believe that this is caused by the release of epinephrine (adrenaline) when one is nervous, pulling blood away from the stomach and sending it to the muscles. This reduced blood flow, in turn, causes the stomach to temporarily shut down, and possibly the reason for reduced appetite during love sickness.
Butterflies in the stomach is most often experienced prior to important events, related to nervousness and can be experienced in situations of impending danger.
Thursday, July 23, 2009
I want to be the girl in this song (despite the specific fashion item described)
Entah kenapa tiba-tiba pengen pasang status ini di facebook...hehe, dan supaya tidak heboh, aku post skelian the complete lyrics so that you'll understand how cool this girl is. :D
Buat yang belum pernah denger lagu ini, buruan google dan download ya...hehe, keren kok. :)
Enjoy!!
Short Skirt / Long Jacket
(Cake/Comfort Eagle)
I want a girl with a mind like a diamond
I want a girl who knows what's best
I want a girl with shoes that cut
And eyes that burn like cigarettes
I want a girl with the right allocations
Who's fast and thorough
And sharp as a tack
She's playing with her jewelry
She's putting up her hair
She's touring the facility
And picking up slack
I want a girl with a short skirt and a lonnnng jacket......
I want a girl who gets up early
I want a girl who stays up late
I want a girl with uninterrupted prosperity
Who used a machedy to cut through red tape
With fingernails that shine like justice
And a voice that is dark like tinted glass
She is fast and thorough
And sharp as a tack
She's touring the facility
And picking up slack
I want a girl with a short skirt and a lonnnnng.... lonnng jacket
I want a girl with a smooth liquidation
I want a girl with good dividends
And at the city bank we will meet accidentally
We'll start to talk when she borrows my pen
She wants a car with a cupholder arm rest
She wants a car that will get her there
She's changing her name from Kitty to Karen
She's trading her MG for a white Chrystler Laberan
I want a girl with a short skirt and a lonnnnggggggggg jacket
Buat yang belum pernah denger lagu ini, buruan google dan download ya...hehe, keren kok. :)
Enjoy!!
Short Skirt / Long Jacket
(Cake/Comfort Eagle)
I want a girl with a mind like a diamond
I want a girl who knows what's best
I want a girl with shoes that cut
And eyes that burn like cigarettes
I want a girl with the right allocations
Who's fast and thorough
And sharp as a tack
She's playing with her jewelry
She's putting up her hair
She's touring the facility
And picking up slack
I want a girl with a short skirt and a lonnnng jacket......
I want a girl who gets up early
I want a girl who stays up late
I want a girl with uninterrupted prosperity
Who used a machedy to cut through red tape
With fingernails that shine like justice
And a voice that is dark like tinted glass
She is fast and thorough
And sharp as a tack
She's touring the facility
And picking up slack
I want a girl with a short skirt and a lonnnnng.... lonnng jacket
I want a girl with a smooth liquidation
I want a girl with good dividends
And at the city bank we will meet accidentally
We'll start to talk when she borrows my pen
She wants a car with a cupholder arm rest
She wants a car that will get her there
She's changing her name from Kitty to Karen
She's trading her MG for a white Chrystler Laberan
I want a girl with a short skirt and a lonnnnggggggggg jacket
Subscribe to:
Posts (Atom)