Wednesday, December 07, 2005

Mirror: Sebuah Refleksi Menyedihkan

Saat menerima lembaran tiket film bertitel Mirror di satu dari sedikit bioskop yang masih bertahan di Jogja dua hari lalu, saya berharap dan terus terang menduga akan menyaksikan sebuah film local yang serem tapi bermutu. Paling tidak, film ini saya prediksi akan lebih menarik daripada film bergenre sejenis yang saya tonton sekitar 2 tahun lalu di tempat yang sama. Saat itu, film horror dengan bintang2 senior yang lumayan punya nama itu membuat saya kecewa karena terlalu banyak hantu pocong berkeliaran, dengan jalan cerita yang lumayan klise, dan special efek yang sama sekali tidak keren.

Lain ceritanya dengan Mirror. Nama Nirina Zubir dan tren semakin meningkatnya kualitas film local garapan sineas2 muda kita membuat saya berharap banyak pada film ini. yah,…, paling tidak, sumbut dengan uang 10.000 pengganti tiket tadi.

Di awal film, sutradara cukup sukses dalam menceritakan kepada penonton karakter dari Kikan (Nirina), sang tokoh utama yang lumayan istimewa, karena bukan tipe cheerleader atau prom-queen, melainkan tipe yang superjahil, super usil, rame dan karena keusilannya malah nggak deket sama temen2 cewek. Adegan Kikan ngerjain temen-temennya dengan kabar kematian palsu Doni (Jonathan Mulia) dan menjadi hantu di lab Kimia, menjadi pembuka keren untuk film ini.

Cerita sebenarnya diawali ketika Kikan yang usil kena batunya, dan tanpa sengaja mendapat kemampuan untuk memprediksi kematian orang dan melihat hantu-hantu melalui ketiadaan bayangan mereka di cermin. Mulai dari Pak Soleh, penjaga sekolah yang gantung diri, tetangganya yang tewas sekeluarga, Bu Guru Fisika yang meninggal dalam kecelakaan mobil travel, semuanya tidak bisa dicegahnya meskipun Kikan sudah mencoba mengingatkan.

Ketika Kikan semakin peka akan kemampuan paranormalnya, hidupnya menjadi semakin mengerikan, dan otomatis film ini menjadi semakin menyeramkan. (gile!! Saya sampe tutup mata nyaris setiap hantunya muncul, dan hanya ikutan menjerit histeris ketika sederetan anak SMU di bangku belakang menjerit dalam koor yang kadang seperti dibuat-buat) Hantu-hantu dalam berbagai versi (dari hantu muka rusak sampe hantu rebondingan) mengikuti Kikan kemanapun dia pergi sendirian. Anehnya, sepertinya sang sutradara ngotot membuat setting dimana Kikan tidak ditemani oleh siapapun. Saking ngototnya, bahkan di mal yang seharusnya rame pengunjung, Kikan bener-bener sendirian sehingga hantu tukang pel leluasa menyamperinya sampe ke parkir bawah tanah mal yang bener2 sepi nyenyet. Bahkan di rumah Doni, tempat Kikan akhirnya mengungsi karena saking takutnya, suasana juga sunyi senyap karena keluarga Doni tidak ditampilkan tanpa alasan yang jelas.

Ketika Doni menyatakan cintanya pada Kikan, cewek kelas satu SMU ini menjadi lebih tenang dan sedikit melupakan indra ke-enamnya. Bahkan seperti layaknya ABG yang lagi JTCT, Kikan masih sempet kebingungan memilih baju apa yg akan dipakai untuk first date nya (hehe, jadi inget AADC^_~). Nah, disinilah klimaks filmnya. Tiba-tiba Kikan menyadari bahwa dia tak bisa melihat bayangannya sendiri di cermin. Cermin meramalkan kematiannya sendiri.

Kepanikan dan ketakutan luar biasa yang dialami Kikan membuatnya histeris. Ditambah lagi dengan nongolnya semakin banyak hantu2 yang ngga jelas asal-usulnya (pokoke waton serem lah!!!). saking takutnya mati, Kikan sampe ngga bertahan tidak tidur 2 hari 2 malem dengan nonton tipi dan makan cabe mentah. Ckckck…Doni yang super romantis dan buaek hati pun ngga bisa membantunya. Akhirnya Kikan ngebut naek mobil sambil nyari solusi masalahnya di majalah misteri yang dijual di kaki lima. Ngebut sambil baca? Hehehe,, ya sudah diduga to…kecelakaan deh. Tapi sosok Kikan masih bisa nyamperin paranormal yang sempet ngetop gara2 boomingnya acara per-hantuan di televisi kita beberapa waktu lalu, yakni Pak Leo. Si bapak yag sekilas mirip pelawak Darto helm ini menyuruh Kikan pulang.

Disini sutradara tampaknya mencoba membuat surprise ala the Sixth Sense-nya Bruce Willis yang terlambat menyadari kematiannya sendiri. Tapi mungkin karena sudah nonton sixth sense, saya ngga kaget lagi kali ye…hehehe. Lagi-lagi mengingatkan kita pada sixth sense, Kikan berusaha memberikan jawaban yang tertunda untuk ungkapan cinta Doni. Tapi sosok Kikan muncul beneran, pake jalan diatas aer n dikerubutin kunang-kunang pula!!! Bukannya romantis, kalo saya jadi Doni, pasti udah kabur deh!!!

Well…pathetic…that’s my conclusion. Bukan melulu karena sutradaranya yang memaksakan setting sepi, banyaknya gerombolan hantu yang keluar, jalan ceritanya yang gampang ditebak, atau gaya hidup yang dibuat sok ke barat-baratan dan mirip sinetron Indonesia..hehehe (apa memang orang Bandung sudah begitu ya? Wah, ndak tau saya)…tapi lebih ke soul dan ide filmnya. Maksud saya, filmnya cethek alias dangkal alias superficial alias menyedihkan alias pathetic itu tadi. Betapa tidak?! Sang tokoh sentral mati konyol. Mati karena ketakutannya akan kematian. Mati karena, sekali lagi, baca majalah misteri, nyari nomer hotlinenya pak Leo, sambil ngebut nyetir mobil!!! Halah2!!! Hopo Tumon Dab???

Boleh saja film ini (kayaknya) terinspirasi oleh Sixth Sense misalnya. Tapi hal terkeren di film itu kok justru malah nggak ada ya? Yang selalu saya inget dari kisah itu adalah si hantu tokoh sentral dan anak kecil yang punya indra keenam punya misi, ngebantu hantu yang masih punya unfinished business di dunia fana, bukan Cuma menjual hantu berbagai macam versi dan mengakhiri kisah si tokoh sentral dengan mati konyol.

Well, nonton Mirror emang lumayan asyik buat bikin deg2an n tereak sekenceng yang kamu mau, tapi apakah ini sebuah refleksi alias cerminan kedangkalan jiwa dan pikiran masyarakat kita? Sedih sekali jika memang demikian. Tapi, mungkin juga, jsutru si sutradara sependapat dengan saya dan justru ingin menunjukkan kepada penonton bahwa kedangkalan pikiran kita akan membawa kita pada kematian konyol!! Kalo itu, baru keren!!!! Hehehehe…

2 comments:

  1. Review nya bagus sngt sejalan dgn inti cerita, hehe

    ReplyDelete
  2. aku mlhn baru skrg liat film nya, udah lewat hampir 10 thn ya,,, hiks. Tp memang film nya cukup bagus buat tegang yg mnonton

    ReplyDelete