Thursday, December 27, 2007

Little Mr.Sunshine itu Bernama Zidane



Sudah lebih dari satu minggu ini rumah kami mulai diwarnai suara tangis makhluk nan lucu bernama bayi, dan tentunya suara-suara orang dewasa yang mendadak menjadi sok imut dengan berulang-ulang mengatakan atau menyuarakan suara-suara konyol di muka si bayi yang dalam bahasa jawa lazim disebut “ngudang” atau “ngliling”. Semua karena kehadiran Muhammad Zidane Rauf Adabi, bayi laki-laki lucu yang hobi pipis dan minum ASI itu. (ya iya lah, mosok bayi 1.5 bulan hobinya membaca puisi)

Zidane memang baru datang dari Bantul yang hangat (sumuk kalo menurutku) ke Cangkringan yang dingin ini, tapi rasanya bukan faktor Bantul-nya yang membuat suhu di rumah menjadi lebih hangat sejak kehadirannya. Kami, orang-orang dewasa konyol ini seperti mendapatkan mainan lucu atau semacam pelipur lara di kala duka…hehehe…kok bahasane dadi ra nggenah seh…

Tapi bener loh! Semakin banyak tawa ceria di rumah, dan semakin sedikit suara-suara keras dan tegang, dan semakin sedikit pula asap rokok yang biasanya ikut ngomprongi adu mulut antara beberapa orang yang beda paham di rumah kami. (pro dan kontra tentang tembakau dan HAM). Yah, semua karena kelucuan polah dan ekspresi (lha kan masih 1,5 bulan, bisanya baru bereskpresi, belum bisa bertingkah) dan tentunya semua adalah untuk menjaga agar si bocah nyenyak tidur, tetap sehat dan tidak kaget karena suara orang rumah yang kadang-kadang memang melebihi ambang batas polusi suara yang entah berapa decibel ukurannya. (maklum, cah IPS ra kelingan) hehehe.

Pulang kerja, aku, bulik si bayi, (sori ya, males nih dipanggil tante) biasanya langsung transit di kamar si bayi. Jam segitu biasanya Zidane, begitu si bayi biasa dipanggil, sudah atau masih tidur.*mengingat jam tidur makhluk ini sangat tidak jelas, saya jadi bingung mau nulis sudah atau masih* Tapi kalo dia lagi bangun, biasanya aku betah bgt berlama-lama mengajaknya ngobrol atau membuat suara-suara aneh sekedar untuk membuatnya nyengir bahagia, hehehe. *gemes banget* Kadang kalo dia cegukan, aku suka pura-pura menirukan dan tampaknya si bayi suka. Konyol abis pokoknya. Mengganti popok atau celananya, membuatkan susu formula tambahan (dua sendok,60 cc) menjadi sumber hiburan dan terkadang tantangan tersendiri di tengah suasana pulang kerja yang masih cape deh…Kalau lagi nggak ngantor, aku bahkan kadang sempat menggendong dan me-nina-bobo kan si bayi. Karena aku nggak suka lagu nina bobok, biasanya soundtracknya kuganti dengan Under the Bridge-nya Red Hot Chili Peppers atau lagunya D Cinnamon yang aslinya dinyanyikan sama Yana Julio dan aku lupa judulnya. Hehehe. Aneh ya? Tapi kalo suaraku lagi bener (seringnya sih enggak), Zidane biasanya langsung kriyip-kriyip, entah jadi ngantuk atau malah mau protes nyuruh aku berhenti bersenandung. Hehe.

Tidak hanya aku yang merasa begitu. Ibuku, alias Simbah Putri si bayi, tampaknya enjoy banget memandikan dan menimangnya. Bapakku, Mbah Kakungnya, juga paling hepi kalo udah liat si bayi ketawa-ketiwi pas dikudangnya. Yang nggak ketinggalan adikku, Oom si bayi, yang ternyata jauh lebih jago daripada aku dalam menggendong, mengganti popok, menimang, sampai menenangkan si bayi di kala rewel. (setelah membuktikan diri lebih jago dalam urusan masak-memasak dan mengambil hati calon mertua, dia mengalahkanku sekali lagi dalam hal mengurus bocah…walah…sepayah itukah saya…??)

Lepas dari soal siapa yang lebih jago ngurus bayi, Zidane kecil tampaknya juga berpeluang meningkatkan team work di kubu trah Subarjan. *Hehe, istilahnya kok bal-balan banget.* Maksudnya, sejak si bocah datang, paling tidak kami jadi lebih kompak dan tanggap dengan peran masing-masing. Kalo yang satu nyiapin air hangat untuk mandi, yang lain stand by dengan perlengkapan sesudah mandi *minyak talon, bedak dkk*. Kalo si bayi mulai merengek dan ibunya sedang tak bisa menyusui, satu orang langsung siap menimang sementara yang lain meracik Susu Gawean Muja-Muju-nya.

Pasti ada kalanya si bayi bikin panik dan nyaris frustasi saat merengek dan menangis cukup keras untuk membangunkan Mbok Dhe Sis dan Lik Gandung yang tinggal dalam radius 30 meter, tapi overall kehadirannya membawa kehangatan, keceriaan dan keakraban di rumah kami yang terakhir kali diramaikan oleh tangis bayi sekitar tahun 1986 lalu. (weleh, jadul banget…). Alhamdulillah.

2 comments:

  1. hehehe...senengnya yang punya ponakan baru. Btw, sampe skrg aku masi ga berani nggendong bayi lho. Ga bakat jadi ibu po yo...hehehe

    ReplyDelete
  2. iya ni Mbak, seneng bgt! :)
    haha, nggak juga. Nggak ada kata 'Nggak berbakat menjadi seorang ibu'. Trust me, itu udah kodrat, dan kalaupun masih terasa kaku dan takut, it's just a matter of kebiasaan dan latihan. hohoho.(tahun baru, kok jadi tambah sok tahu..walah...gawat)

    ReplyDelete