Saturday, December 15, 2007

A Shared Passion Called Coffee

“Coffee is our passion.
Please help us preserve the high quality of our beans by not smoking in the store.”

Begitu melihat tulisan ini terdisplay di mejaku, mendadak muncul ide untuk menulis ini. Ide tentang “shared passion”. Aku mungkin belum sempet baca buku (yang kayaknya menghebohkan) bertitel The Starbucks Experience, dan nggak yakin kalo ide tulisan ini juga dituliskan di buku tersebut. Tapi yang jelas, aku sangat terkesan dengan cara Starbucks memanfaatkan ide tentang “Shared Passion” (dalam hal ini passion for coffee) sedemikian rupa ini untuk mendorong orang supaya tidak merokok.

It sounds trivial, kedengarannya sepele, memang. Tapi, buat aku yang selama ini melihat orang-orang terlihat tetep “udud nglecis” atau tetep mengepulkan lokomotifnya meski tulisan “No Smoking” terpampang merah dan besar dan mencolok mata atau meski temen-temennya sudah pasang tampang muka keberatan, tulisan kecil di meja starbucks coffee setiabudi ini seperti menyadarkan.

Well, mungkin ini bukan satu-satunya faktor sih, tapi aku yakin nada tulisan yang lebih ramah dalam mengingatkan orang untuk tidak merokok ini berperan cukup penting dalam menghasilkan starbucks coffee yang bebas-asap rokok. Coba kita bayangkan aja, lebih besar mana peluang orang teman kita untuk menaati larangan merokok ketika kita bilang “Pokoknya nggak boleh ngerokok!! Titik!Ngga ada penjelasan, nggak buka sesi Tanya-jawab!” atau “Dilarang merokok! Tau nggak sih, rokok itu bahaya buat kesehatan kamu,tauukk!!” atau “Tolong jangan ngrokok dulu yah. Soalnya kasihan anak kita, ntar perkembangan fisik dan otaknya bisa terganggu loh, kalau ibunya kebanyakan menghirup asap rokok dari Bapaknya…”

Ngga perlu dijawab deh kayaknya…Ide tentang “Shared Passion” tentunya akan lebih kuat, lebih persuasive, dan lebih menggerakkan daripada sekedar “my passion” atau “your passion”. Beruntung Starbucks Coffee punya begitu banyak orang dengan passion yang sama akan kopi.

Bagaimana dengan kita? Coba deh kita cek lagi, adakah “Shared Passion” kita dengan kakak, sohib, klien, mitra, bapak, simbah, cowok, atau suami yang kira-kira berpotensi menjauhkannya dari rokok? Hmm…insya Allah bisa dicari kayaknya. So, tunggu apa lagi, find your “shared passion” and reduce the smoke in the air. 


-------------------------------------------------------------------------------------
Sekelumit Tentang Kopi:
Entah aslinya kopi itu dari mana, tapi yang jelas kopi pertamakali dipopulerkan oleh bangsa Arab. Di rubrik trivianya Jakarta Post, dijelaskan bahwa kopi diminum oleh para “Mohammedan” untuk menunjang ibadah mereka yang kadang bisa sampai malam-malam. Kopi sempat disebut juga sebagai “black wine”. Di bagian lain rubrik yang sama, kopi sempat dilarang oleh gereja vatikan sampai abad ke berapa gitu (lupa deh), karena dianggap minuman kaum pagan. As we can conclude, “Mohammedan” dan “pagan” di sini, refer to Muslims. I personally think that Jakarta Post was a bit unwise in using the dictions. :(

Wah, tapi jadi punya ide nih, sebelum tahajud atau i'tikaf, kita kan bisa ngopi dulu...Buat saya yang minum kopi maksimal sebulan sekali (itupun yang udah campur-campur ga karuan) kayakna bakal ngaruh bgt deh.

3 comments:

  1. Papaku dulu bisa dibilang termasuk perokok berat lo Jiel. Setelah serangan jantung yang diderita beliau, papa memutuskan untuk sedikit demi sedikit mengurangi rokok. Apalagi setelah melihat mama yang setia merawat papa sewaktu sakit, dan lelehan air mata anak-anaknya. Sepertinya beliau tersentil juga melihat kasih sayang yang diberikan keluarga untuk beliau, selain kesadaran ada atas buruknya rokok untuk kesehatan (yang sayangnya datang terlambat setelah beliau kena serangan jantung).

    -www.thearizkia.com-

    ReplyDelete
  2. Dear Mba Thea,
    Wah, jadi ikut terharu membaca tentang bagaimana 'love can overcome the smoke' di keluarga Mbak Thea.
    Semoga semakin banyak 'shared concerns' yang bisa kita temukan untuk mencegah pengasapan di sekeliling kita.
    Adek dan kakak saya juga perokok lumayan berat Mbak. Sampe skrg masih belum menemukan cara menghentikan mereka.
    Padahal semua larangan itu kan atas nama cinta...

    ReplyDelete
  3. kopi itu selalu mengingatkan saya bahwa sehebat dan seberhasil apa pun hidup, selalu saja ada kegagalan dan kepedihan, seperti kopi, semanis apa pun, tetap saja pahitnya tak akan pernah hilang.

    ReplyDelete