Saturday, December 15, 2007

Skenario Sang Maha Sutradara

(catatan di akhir bulan Oktober)

Hari ini nggak ada yang bisa kukatakan selain : What A Day!!
Bermula dari rencana janjian sama Atin, salah satu sohib sehatiku kalo udah urusan weekend .

Karena udah lama nggak kongkow bareng, kita sengaja bikin date sekitar jam setengah dua. Aku ngusulin tempat di Queen, ice cream and bakery, yang berlokasi di sekitar kompleks per-apotikan prapatan ring road jakal. *walah ngendi meneh kuwi…hehehe, sori, bukan penunjuk jalan yang baik nih..*

Sebelum ke Queen, aku mikir masih ada waktu buat nganter si dynabook putihku yang imut ke Casa Grande Ruko no.7, apalagi karena mas tukang servis Toshiba-nya sounds so ramah dan helpful on the phone. *top banget lah,pokoke*

So, jam 1an lewat aku udah ketemuan sama mas Cris, si pemilik Casa Grande 7 yang antuasias bgt begitu aku ngeluarin Dynabook ku. “Wah, kembaran laptop-ku nih!!” begitu katanya…

Ya udah, selama hampir satu jam dia cerita dengan sangat antusias tentang what should I NOT do with the computer. Wow, mas-e ahli bgt padahal jurusannya akuntansi! Toko yang harusnya tutup jam 2 pun ngga dia pedulikan, sampai akhirnya kami menyepakati untuk bereksperimen mengaktifkan kembali keyboard asli si dynabook yang sudah lama dimatikan karena suka ngetik sendiri meskipun di zona bebas makhluk halus. Hehehe.

Aku baru nyadar, ternyata ada sms dari Atin di hp-ku, ngabarin bahwa Queen tutup dan dia ngusulin MP book point yang baru soft opening sebagai tempat alternatif. Aku langsung oke-in, sambil minta maap karena telat *duh, ga enak bgt*

Wow! What a nice book shop! Sambil cerita2 heboh dan minum coklat plus ngemil French fries, kita nggak henti-hentinya mengagumi took buku ini. Desain interior yang ok, letak yang strategis (jakal kam 6,3 bo!), cafĂ© yang asik, buku yang menarik, dan pelayanan yang friendly kayaknya bakal menarik banyak peminat. *gramedia mah liwat, kangmas!* Yang lebih istimewa, Atin ternyata ngasih kejutan! A brand new copy of “the secret”!!(buku yang menurut Atin wajib dibaca dan kemarin sempat dia tanyakan lewat sms.) Aahh, to tweet!! ;)

Sore kami bertambah indah karena jam 4-an, talk show buku “Aku ingin bunuh harry potter” dimulai. Wah-wah, benar-benar nggak nyesel nongkrongin sampe selesai. Talk show yang menjawab pertanyaan kenapa aku tidak lagi bisa menulis selancar dulu, jaman SMP sampai Kuliah. What a revelation. And guess what, I got the (signed) book for free, karena menurut Pak Moderator aku pede abis waktu ngajuin pertanyaan sama Pak Hernowo, si penulis buku. Hehehe. Kata beliau: Percaya diri mengalahkan kebodohan. Hehehe, kalimat ini bisa saja kutafsirkan secara negatif, but currently I am too happy and too grateful to think negatively.

Well, sampai disini mungkin kamu masih belum ngeh, kenapa kok aku menuliskan “What A Day!” di awal tulisan ini mengingat kayaknya sejauh ini ceritanya datar-datar saja. Well, mungkin pikiranmu berubah sesudah melihat yang ini:

1.Kebetulan sudah semingguan ini aku memikirkan Sirius Black
2.Kebetulan sejak hari Kamisnya (ketika aku lihat iklan talk show buku di KR), aku sudah merencanakan untuk mengajak Atin ke MP Book Point, sesudah nongkrong di Queen barang 1-2 jam. Hanya saja aku belum sempat menyampaikan ide ini ke Atin.
3.Kebetulan ketika aku ngecek email paginya, ada informasi dari milis Harry Potter Indonesia yang mengingatkanku kembali kepada berita singkat di KR.
4.Kebetulan MP Book Point terletak hanya sekitar seratusan meter dari Queen.
5.Kebetulan aku penasaran sama isi buku Aku Ingin Bunuh Harry Potter.
6.Kebetulan aku sedang butuh motivasi dan seseorang untuk mengatakan padaku tentang menjadi penulis yang produktif lagi.
7.Kebetulan pak moderator mengatakan “Orang tidak bisa menulis karena miskin kata. Mereka miskin kata karena kurang membaca” ketika ada dua orang memberikan dua buku keren.
8.Kebetulan ketika aku ingin kembali menulis, si dynabook putih bertemu Mas Cris yang memberinya kesempatan untuk kembali menulis. 

Kebetulan. Ndilalah, kalo kata orang jawa. Sampai ada delapan dalam sehari?

Flashback bentar nih…
Aku jadi inget kembali kisah Sarath-san, yang membawa payung ketika mendaki Gunung Takao, padahal cuaca sangat cerah. Eh, kok ya ndilalah di gunung ketemu kakek-kakek keseleo yang kemudian tertolong oleh payung Sarath-san yang kemudian membantunya berjalan. Atau cerita Bulik Is, yang butuh ongkos berobat pas ndilalah dapat rejeki dari seorang pemburu Anthurium.

Well, kalo menurutmu 8 points of ndilalah yang terjadi seharian ini adalah sekedar kebetulan yang nggak ada kaitannya, kayaknya perlu dipikirin ulang deh.

Kalo aku mundur setapak (seperti ketika mengamati lukisan yang berukuran agak besar) dan mengamati, menganalisis dan merenungkan kisah sehari ini, aku jadi ingat sebuah frase yang dituliskan seorang teman SMU (yang sekarang sudah menjadi salah satu Indonesian most promising director) di buku tahunan kami. Frase itu berbunyi : Tuhan Sang Maha Sutradara. Yup, kini aku bisa melihat, di film yang berkisah tentang hari Sabtu-ku ini, Sang Maha Sutradara itu telah menuliskan skenarionya dengan begitu keren, dan begitu menyenangkan untuk dilakoni.

Terimakasih Tuhan, dan terimakasih untuk semua pemain yang diarahkan oleh Anda sebagai Sutradara *dengan huruf kapital* untuk membuat hari ini indah, dengan kisah tentang delapan “ndilalah”.

3 comments:

  1. Wiejil..hiks, aku kok ga diajak...hiks...hiks... :(

    ReplyDelete
  2. Mbak Astri, nanti kita ke MP Book Point sendiri pas tanggal 22 =) Asal kopinya enak sih gapapa...hehe

    Mbak Wiejil, mau sedikit mengutip laskar pelangi, sepertinya relevan dg tulisan ini. Tidak ada selembar daun jatuh tanpa diketahui Tuhan...

    Mya

    ReplyDelete
  3. Walah jie...kok akeh men ndilalahmu.
    Btw, sampe sekarang aku selalu percaya akan hikmah dari sebuah kejadian. God answers our prayer in his own time. Itu tadi...Dia lah sang Maha Sutradara. Jadi semestinya lah manusia terus berusaha dan tidak gambang kecewa, karena InsyaAllah semua usaha kita dijawab oleh Allah:)
    Terus semangat ya Jiel

    ReplyDelete