Saturday, December 27, 2008

Hadits of The Day: The Power of Niat

Ngga mau kalah sama MTV yang punya request of the day, tadi pas lagi dinner aku nemu hadits bagus yang langsung tak catet dan dinobatkan sebagai hadits of the day:

"Banyak pekerjaan kelihatannya pekerjaan akhirat, tapi dia menjadi pekerjaan yang tidak berpahala karena niatnya yang buruk.Sebaliknya, banyak pekerjaan yang kelihatannya duniawi, tetapi jadi pekerjaan akhirat yang berpahala karena niatnya"

Wuih, the power of niat memang luar biasa yah...jadi inget lagi sama tausiah nya the newly-wed Ibu Widya pas jaman prajab dulu...

Dear God, please remind me ya, untuk selalu berniat baik dan berniat untukMu dalam setiap tindakanku...Amin...(hehehe, jangan2 kalian mikir, emang Allah baca blog? ya iyalah, pasti. Jangankan blog, pikiran kita aja Dia bisa baca...hehehe...kata Quran, Allah kan Maha Mengetahui dan Maha Teliti. As usual, Tuhan itu Maha Keren.)

Udah dulu yah, mau pulang dulu, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tampaknya duniawi (koordinasi, demokrasi, civil society, dan bla-bla-bla lainnya) yang insya Allah bisa untuk bekal dunia-akhirat. Amiin!

Smangadh-smangadh!!!

:)

Friday, December 12, 2008

humming: ...di bawah undang-undang dasar 45, kita menuju ke pemilihan umum....

Tahu tidak, beberapa bulan terakhir ini, hidupku serasa di-soundtrack-i oleh lagu yang terngiang-ngiang dari masa kecilku ini. :)

Yang dulu mengingatkanku pada hijau, kuning, merah, dan istilah asing "kampanye" yang di benakku waktu itu identik dengan rombongan motor meraung-raung sambil mengacung-acungkan jari dengan formasi yang aneh-aneh...hehehe...

di dusunku, kami biasanya akan lari bergegas-gegas bertelanjang kaki (wong ndeso jaman itu kalo di rumah ngga pake sendal apalagi sepatu) sejauh 1 kilo hanya untuk menuju jalan beraspal yang dilewati rombongan-rombongan itu...hehehe,...

well, sekarang semua jauh berbeda untukku...

sebagian karena aku tak lagi tinggal di kampung dan tak lagi bertelanjang kaki
sebagian juga karena aku bukan lagi anak kecil berseragam merah-putih
sebagian lagi karena aku semacam menjadi bagian dari "panitia"nya sekarang

atau, mungkin juga karena sekarang ini sudah benar-benar jamannya demokrasi?
untuk kemungkinan yang ketiga ini, tampaknya harus berdoa dan berusaha dulu deh...
amiiiiiinnnnnnnnnn...

meanwhile, sambil berusaha dan berdoa, nostalgia aja yuk, nyanyi lagu ini...:)
-------------------------------------------------------------------------------------


Pemilihan umum telah memanggil kita
seluruh rakyat menyambut gembira
hak demokrasi pancasila
hikmah Indonesia merdeka

Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
pengemban Ampera yang setia
di bawah Undang-undang Dasar 45
kita menuju ke pemilihan umum


yuuuukkk, mareeeeee...!!!

Monday, November 03, 2008

syukur.cinta.mimpi.pelangi



Konon kabarnya, Giring menulis lagu ini setelah membaca buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul "Edensor", dan bertekad akan menjadikannya sebagai soundtrack jika film Laskar Pelangi dibuat. Konon kabarnya lagi, Mira Lesmana dan Riri Riza ngotot bahwa film Laskar Pelangi mereka harus di-soundtrack-i oleh Nidji.
Jika kedua "konon kabarnya" itu memang benar, luar biasa sekali skenario Sang Maha Sutradara itu yah...
Jika tidak benar terjadi-pun, ada satu "kebetulan" lagi yang mungkin kamu belum tahu. "Nidji" adalah modifikasi dari kata "niji" yang berarti "pelangi" dalam Bahasa Jepang. Jadi mungkin ketika Nidji menulis dan menyanyikan lagu ini, serasa menulis soundtrack untuk diri mereka sendiri kali yah...
Ingatkah kamu kata Ikal di buku pertamanya, bahwa tiada satu helai daun pun jatuh di dunia ini tanpa sepengetahuan-Nya...

Hmmphh...terlepas dari semua kisah di atas...i have to say that I am crazy about this song...hehe...mendengarkannya membuat mataku berkaca-kaca, teringat Lintang, Ikal, cita-cita dan impian mereka...dan mungkin anak-anak Indonesia yang masih berjuang seperti mereka di wilayah-wilayah yang tidak terekam di benak para pengambil kebijakan negeri ini (kecuali mungkin di saat jelang pemilu...hehehe..)

Semua pilihan katanya, nada-nadanya seakan mengkonfirmasi bahwa penciptanya mengkhatamkan dan telah berbagi jiwa dengan penulis bukunya...


Lagu ini memang indah. Kalau tidak percaya, resapi saja liriknya. Jika belum percaya, telpon saja 081-741-242-63, dengarkan ring back tone-nya. :)

Sesudahnya, mungkin kamu akan berkata sama: mendengarkan lagu ini membuatku ingin memeluk penciptanya. hohohoho.

------------------------------------------------------------------------------------

Laskar Pelangi
**Nidji**


mimpi adalah kunci

untuk kita menaklukkan dunia

berlarilah tanpa lelah

sampai engkau meraihnya


laskar pelangi

takkan terikat waktu

bebaskan mimpimu di angkasa

warnai bintang di jiwa


[chorus]


menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia

selamanya


[interlude]


cinta kepada hidup

memberikan senyuman abadi

walau hidup kadang tak adil

tapi cinta lengkapi kita


[interlude]

laskar pelangi

takkan terikat waktu

jangan berhenti mewarnai

jutaan mimpi di bumi


[chorus]


menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia


laskar pelangi

takkan terikat waktu…

***

Tuesday, October 07, 2008

Dyah Widiastuti is charmed by Prof. Sri Edi Swasono…

Itu judul statusku di facebook akhir Ramadhan lalu. Seorang friend di facebook menanggapi dengan menulis di wall-ku: “Enlighten me who is Edi Swasono?”

Hehehe, dan inilah ceritaku tentang sang Profesor…

Pagi itu, Senin 22 September, hari pertama masuk kantor lagi setelah dua minggu hidup di negeri dongeng berisi kisah tentang tarian poco-poco, tidur nyenyak dan mimpi indah di KELAS (yes, you have to believe what you read!), anak kucing yang lucu dan bersemangat, suara TOA meraung-raung di ambang fajar mengagetkan bayi-bayi di dalam kandungan, ujian-ujian yang luar binasa tak terduga, serta ”sesuatu” yang misterius dan bikin penasaran (halah, teuteup!!), yang jauh dari hiruk pikuk Taman Suropati 2 yang menyita sebagian besar hidup kami selama 6 bulan terakhir... (lebay, asli!).

Di papan pengumuman aku melihat selebaran tentang kultum hari ini oleh Prof. Sri Edi Swasono, bertema ”Solidaritas Sosial”. ”Tuhan memang super-baik”, batinku menggumam, berpikir bahwa Dia telah memberi sesuatu yang seru untuk dinantikan sore ini dan membuat pagiku bersemangat.

Jadilah sepagian itu aku dan salah seorang teknokrat muda ekonomi pembangunan Bappenas (sapa hayoo??) mengumumkan via YM kepada seluruh CPNS Bappenas 2007 mengenai bukber dengan kultum dari pejuang ekonomi kerakyatan kita, menantu Drs. Mohammad Hatta, sekaligus dosen sebuah fakultas ekonomi yang dikenal telah melahirkan the so-called ”fundamentalis pasar bebas nusantara” (hehehe, aku sendiri kalee yang bikin istilahnya...).

Jam 5 lewat aku bersyukur beban kerjaan yang urgen sudah beres (plus penundaan keberangkatan ke Jogja untuk kajian yang melegakan), dan asmen lantai 2 tampak sudah lengang. Maklum, Ramadhan hampir berakhir, tentunya berbuka bersama keluarga di rumah semakin menjadi momen istimewa yang tidak akan dilewatkan oleh para Bapak dan Ibu yang telah berkeluarga.

Bergegas-gegas aku menuju SS 3. Di depan SS duduk seorang Bapak agak kurus, memakai baju takwa warna putih-krem, berkacamata tebal, rambut agak keriting, dan dibelah pinggir (agak-agak classic atau istilah kejamnya jadul gitu deh). Aku agak lupa apakah bapak itu berjenggot, tapi kesan penampilannya mengingatkanku pada bapak-bapak yang saleh dan clean. Beliau sedang on the phone. Itulah Prof. Sri Edi Swasono, yang namanya telah kudengar sejak masih di bangku kelas 3 SD (sebagai apa aku lupa, hehehe, malah ingetnya beliau kakaknya Sri Bintang Pamungkas, aktivis anti orde baru).

Di dalam ruangan tampak beberapa gelintir orang, termasuk sejumlah teman-teman seperjuangan yang baru saja bersama-sama menempuh 14 hari yang tak terlupakan di Ciawi (kok lebay lagi yah...). Tampaknya provokasiku kurang berhasil dilihat dari sedikitnya CPNS 2007 yang hadir, bahkan, temanku sang teknokrat ekonomi pembangunan tadi juga urung hadir karena satu dan lain hal (walah, istilah yang amat sangat birokratis, hehe). Tapi tak apalah, mungkin memang teman-temanku masih sibuk.

Beberapa menit kemudian, setelah pembacaan ayat Quran, forum dimulai dengan pembagian hand out (kuliah banget!!) yang memuat dua kliping koran. Yang pertama berjudul ”The Affluent Society” karangan sang pemberi kultum, dan yang kedua tulisan dari seorang mahasiswa pasca sarjana UI tak kukenal berjudul ”Pembangunan Yang Gagal Dan Dehumanisasi”.

Artikel sang profesor bercerita tentang ”the affluent society”, masyarakat yang sangat konsumtif. Istilah tersebut awalnya dipakai oleh John Kenneth Galbraith, seorang ekonom strukturalis (a.k.a ekonom yang peka terhadap ketimpangan struktural/prihatin terhadap ketidakadilan sosial-ekonomi) untuk menyebut masyarakat AS 50 tahun lalu. Prof. Edi melihat bahwa masyarakat Indonesia sekarang sudah mulai menjadi masyarakat semacam ini.

Kultum diawali dengan mengutip Al-Hasyr ayat 7, yang salah satu potongan ayatnya berbunyi ”...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu.” Beliau melihat inilah yang saat ini terjadi. Tadinya aku mengira beliau akan berbicara mengenai zakat dan sedekah, yang akhir-akhir ini sempat menjadi headline surat kabar dengan judul ”20 killed for less than 3 dollars” atau semacamnya. Ternyata beliau menggambarkannya dengan fenomena orang yang mampu berbelanja di mal, makan di restoran mahal, paling murah pun restoran franchise amerika sehingga ”harta” yang didefinisikan secara lebih luas sebagai ”ekonomi” hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja, yaitu masyarakat yang affluent tadi. Sementara tukang soto lamongan, tukang nasi uduk dan kawan-kawannya disapu bersih dari seputaran tempat dagang strategis seperti Bandara Soekarno-Hatta, misalnya.

Kemudian Prof. Edi menyoroti definisi pembangunan yang dianut oleh pamerintah Indonesia sebagai salah satu akar terjadinya permasalahan tersebut. Selama ini pembangunan dimaknai sebagai peningkatan pendapatan per kapita atau istilah kerennya pertumbuhan ekonomi. Definisi pembangunan paling primitif yang tidak canggih, dan aku asbolutely agree. (hehehe, hasil didikan HI UGM sih). Inilah yang kemudian disebut sebagai ”dehumanisasi pembangunan”, yang membuat pembangunan melupakan roh-nya untuk meningkatkan kualitas manusia.

Kemiskinan lahir sebagai salah satu konsekuensi definisi di atas, karena daya beli justru dibelikan kepada yang asing. Kemiskinan yang hadir saat ini adalah societal poverty, terjadi karena kita diam saja melihat kemiskinan itu. Kita telah menjadi irresponsible society.

Beliau sedikit menyinggung tentang John Perkins, seorang ekonom asal Amerika Serikat yang pernah bertugas di Indonesia. Melalui salah satu bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins mengupas bagaimana negara – negara maju khususnya Amerika Serikat menancapkan sistem ekonomi berbasis kapitalis ke dalam sistem perekonomian negara – negara berkembang (new emerging countries). Bentuk neo kolonisasi terhadap dunia ketiga tersebut masuk melalui perusahaan – perusahaan multinasional, sistem keuangan dan campur tangan pemerintah Amerika. Contoh konkretnya adalah Indonesia, dimana ketergantungan terhadap MNC dan sistem keuangan global menjadi mind set para eksekutif dan pengambil kebijakan. Akibatnya, efek bola salju yang dihasilkan dari economic bubble di luar negeri akan berimbas semakin besar ketika sampai di Indonesia.

John Perkins juga menggaris bawahi bahwa sistem ekonomi kapitalis hanya cocok untuk negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi. Di Indonesia, sistem kapitalis yang berbasis pasar murni hanya akan menguntungkan bagi pemilik modal sementara sebagian besar rakyatnya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi, sesuai tema kultum ”The Affluent Society”, proses pembangunan yang terjadi hanya dinikmati sebagian kecil rakyat Indonesia.

Selanjutnya, berbicara mengenai participatory dan emancipatory yang menurut Musrenbangnas kemarin merupakan salah satu pengarusutamaan (mainstreaming), seharusnya bisa membawa serta orang miskin. Namun kenyataannya, mereka seringkali tidak diperhitungkan, termasuk dalam berbagai feasibility study yang dibuat oleh institusi perencana pembangunan nasional negeri ini.

Dimana letak kesalahan kita? Menurut beliau, selain inlander mentality kita yang masih kuat sehingga kita sering terkagum-kagum dengan apapun yang datang dari Barat, ada tiga hal yang lebih spesifik:
1. pemujaan terhadap pasar bebas, sehingga yang diutamakan dalam pembangunan adalah economic gain
2. adanya ”academic hegemony”, paham liberal dalam mendefinisikan pembangunan, termasuk di kampus-kampus fakultas ekonomi di berbagai universitas di negeri kita, sehingga manfaat pembangunan tidak sampai kepada orang miskin karena yang dibangun memang bukan manusianya.
3. banyaknya orang Indonesia berambut hitam dan berkulit coklat yang menjadi ”John Perkins” baru yang meyakinkan bahwa ”there’s no alternative”.

Tiga poin di atas sebenarnya beliau kemukakan demi menanggapi hipotesis kasarku yang kusampaikan di depan forum (dengan agak tidak sabar dan deg-degan, hehehe), bahwa salah satu penyebab kebijakan pembangunan kita tidak berpihak kepada orang miskin adalah karena sebagian besar pengambil kebijakan pembangunan kita tidak pernah miskin sehingga kesulitan berempati terhadap yang miskin.

Beliau bilang, ”Pendapat Anda termasuk yang salah, Non!” (seumur-umur baru kali ini saya dipanggil ”Non”, kikikiki), dan mengalirlah tiga argumen di atas, yang tentunya memang lebih ilmiah daripada hipotesis kasarku. 

Menutup kultumnya, beliau menyampaikan bahwa ”solidaritas bisa direncanakan”, ”it can be designed!”

Dan pertanyaanku tentang “how” nya tidak sempat terjawab karena azan maghrib telah 10 menit yang lalu berkumandang dan si Bapak tidak ingin menunda-nunda shalat.

Pesan beliau yang masih terngiang-ngiang adalah bahwa generasi kami-lah yang harus mengubah paradigma pembangunan itu, yang harus merencanakan solidaritas itu, yang harus menyadari bahwa pembangunan adalah sebuah desain budaya, dan yang harus melakukan “direct attack on poverty”.

Pelajaran penting yang baru yang sempat beliau lontarkan menanggapi celotehanku mengenai “role model PNS Indonesia yang berintegritas tinggi” saat sebagian hadirin sudah bubar adalah:
1. Orang yang hanya mau mendengarkan orang yang lebih bodoh dan tidak mau mendengarkan orang yang lebih pintar adalah orang minder yang selalu ingin terlihat paling pintar.
2. Dalam definisi intelektualitas dan integritas, jangan lupa bahwa ada unsur kemampuan untuk melihat keganjilan-keganjilan, dan pastinya untuk berbuat sesuatu.

Profesor yang ini memang beda. Mungkin beliau dianggap aneh di kampusnya. But surely, I was impressed, or even charmed. Terlebih lagi melihat beliau memunguti dan ngopeni sejumlah handout yang tergeletak tak bertuan di meja-meja Ruang SS 3.

Aku bersyukur bisa menghadiri majelis ini.
--------------------------------------------------------------------------------------
Saya berterimakasih banyak kepada Prakosa Grahayudiandono, salah seorang teknokrat ekonomi pembangunan di angkatan kami, untuk menuliskan paragraf tentang John Perkins dalam entry ini, karena memang saya ngga ngerti siapa itu John Perkins, hehehe.

Saturday, August 23, 2008

Soundtrack of this Cloudy Weekend


Sabtu yang mendung di jakarta dan sekitarnya.
Berbicara dengan teman-teman seperjuangan mengenai siapa, kapan, dan bagaimana saat itu tiba.
Ditemani lagu ini, yang semakin terngiang-ngiang kembali sejak si Bapak pelatih paduan suara menyanyikannya kemarin sore diiringi suara gitarnya yang fals (hehehe).
Buat yang penasaran sama lagu ini, tonton saja film-nya yang berjudul "August Rush".
Sesudah itu, pasti kalian akan kembali ke halaman ini untuk mencari liriknya, karena lagunya emang asli keren. hehehehe.
Enjoy!!


Someday

Performed by: John Legend


As day goes by
And fade tonight
I still question
Why you left
I wonder how
It didn't work out
And now you're gone
And memories all I have for now
But now it's not over
We'll get older we'll get over
We'll live to see
The day that I hope for
Come back to me
I still believe that
We'll get it right again
We'll comeback to life again
We won't say another goodbye again
You'll live forever with me

Someday, someday
We'll be together
Someday, someday
We'll be together

I heard someday
Might be today
Mysterious of destinies
They are somehow
And are someway
For all we know
They come tomorrow
For today
My eyes are open
My arms are missed We are embraced
My hands are here to mend what is over
To feel again to walk on the face
I believe there is more than life
Oh I love you much more than life
And sure
I believe I can change your mind
Revive what is dying inside

Monday, July 21, 2008

The Statesman with Whom I Share a Birthday


“Bagi saya nilai-nilai Islam itu inspirasi. Akan saya perjuangkan secara demokratis.”
-M.Natsir (1908-1993)-


Sambil menunggu Bapak penjual rujak di pojokan SMA 3 membuatkan pesanan istimewaku (lengkap, dengan bengkuang sedikit saja), sabtu kemarin aku iseng melongok ke dagangan Bapak tukang majalah. Sempat bingung, mau beli Tempo atau Cosmo Girl. (Your comment must be: “Hehehe, ga nyambung yah?” Atau “Cosmo Girl?! Plis deh, inget umur-inget umur!!!”)

Well, TEMPO-nya lumayan tebel dan edisi khusus 100 tahun Muhammad Natsir, sementara Cosmo Girl-nya all about being proud of Indonesia plus dapet bonus planner buat seru-seruan…(hehehe, ngga inget umur banget kayakna….)

Toh akhirnya aku memilih Natsir instead of planner seru-seruan. Ngga nyesel setelah mengintip isinya.

Surprise-surprise, ternyata Pak Natsir lahir tanggal 17 Juli!! Exactly the same birthdate as mine, but of course, different year, as he was born in 1908.
Jadi umur kami tepat berjarak 75 tahun (!!)

Natsir in A Nutshell

Mungkin Pak Natsir ngga setenar Soekarno, Hatta atau bahkan Sjahrir. Tapi kalo kamu sama sekali belum pernah dengar namanya, saya berani taruhan…pasti nilai pelajaran sejarah kamu parah banget. Hehehe.

Beliau tercatat di buku-buku teks pelajaran sejarah sebagai salah satu Perdana Menteri Indonesia di era Demokrasi Parlementer, sekaligus pemimpin Partai Masyumi atau Majelis Syura Muslimin Indonesia, yang merupakan representasi dari kekuatan Islam politik di era the so-called “politik aliran”. Belakangan, beliau termasuk salah satu pemimpin yang berani mengkritik kediktatoran Soekarno secara terang-terangan dengan menjadi salah satu pemimpin pemberontakan PRRI/Permesta, bareng-bareng sama Sjafruddin Prawiranegara (mantan perdana menteri pemerintahan darurat RI waktu Soekarno Hatta ditangkap Belanda di Jogja), dan Sumitro Djojohadijkusumo (“Begawan Ekonomi”, kalo ngga salah mantan besan Pak Harto).
Saya pertama kali membaca profilnya jaman SD kelas 2 atau 3, di majalah “Taman Melati” terbitan AMM Syuhada Yogyakarta yang dibelikan Bapak saya. (Apa kabar ya majalah itu…)

Tahun 1980-an, Natsir yang masih aktif sebagai pemimpin berbagai organisasi Islam internasional harus berurusan dengan pemerintah orde baru yang kejam dan bengis (masih pada inget tidak kalo Orde Baru kejam??? Jangan-jangan “sudah lupa, tuh” hehehe, pasti tambah parah deh nilai pelajaran sejarahnya) gara-gara ikut menandatangani the so-called “Petisi 50”, yang mempertanyakan itikad Soeharto terhadap demokrasi.

Di buku sejarah nama Natsir tidak banyak disebut, dan sejauh yang saya tahu, tidak ada jalan bernama “Jalan M. Natsir”. Yah, karena sampai akhir hayatnya, Sang Jenderal Besar (Jenate Mbah Harto mangsudnyah…) tidak pernah memaafkannya.

So What?

Di liputan Tempo edisi khusus ini saya menemukan banyak hal baru tentang Pak Natsir. Belum selesai sih baca semua liputannya, tapi in general, I can conclude that he was one of the greatest statesmen Indonesia ever had.

Integritas, jelas dia punya. Dari awal hingga akhir hayatnya, hidupnya tampak selalu lurus. Tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, hidup (kelewat) sederhana untuk ukuran seorang menteri penerangan atau perdana menteri (mosok kemejanya hanya dua, dan jasnya bertambal?), dan tidak mau menerima yang bukan haknya (menolak mobil pemberian yang kurang jelas dasar hukumnya, dan tetap memakai mobil butut).

Konsistensi, no doubt! Dari awal Pak Natsir sudah inspired oleh political islam, dia membela Islam yang banyak dikritik oleh kaum nasionalis di jaman perjuangan (mosok Dr. Sutomo sampe berani bilang “pergi ke Digul lebih baik daripada pergi naik haji ke Mekah”, lebay banget ga sih Dr. Sutomo??) dan sampai akhir, di konstituante dia tetap memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, instead of Pancasila.

Sincerity, keikhlasan, ini yang langka banget untuk kalangan politisi. Pak Amien Rais (dosen saya, sekaligus idola saya jaman SMA dulu…hehehe) mengatakan bahwa Pak Natsir memasang ayat terakhir Surat Al Ankabut di rumahnya, yang artinya kira-kira begini: “Dan untuk orang-orang yang berjihad (mencari keridaan Kami), Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Implementasi ayat ini tercermin dari sikap Natsir yang ikhlas menjadi seorang public servant, pemimpin politik dan pendengar yang baik.

Tapi kualitas yang mungkin paling penting sekaligus paling jarang di-ekspos dari Pak Natsir mungkin adalah ini: Demokrat sejati.

Saya baru tahu bahwa beliau salah satu yang paling tegas mengkritik kecenderungan Soekarno untuk anti-demokrasi (mengangkat diri sendiri sebagai presiden seumur hidup, pemimpin besar revolusi, membubarkan partai-partai politik, merenteng begitu banyak perempuan, merebut istri orang…ooops…hehehe, sori, kebablasen) dan juga salah satu tokoh yang turut mempertanyakan (dengan santun dan tanpa caci-maki, kata TEMPO) apa maksud pidato lisan Soeharto yang tampak mulai anti-demokrasi (“yang mengkritik saya berarti mengkritik pancasila” dan “lebih baik kami culik satu dari dua pertiga anggota MPR yang akan melakukan perubahan UUD 1945 agar tidak terjadi kuorum”) pada awal 1980-an.

Memang, banyak yang tidak melihat Natsir sebagai seorang demokrat karena perjuangannya di konstituante untuk membawa islam sebagai dasar negara. Tapi lihat dulu kata-katanya soal ini: “Kami memperjuangkan dasar negara Islam secara demokratis di lembaga demokrasi. Tetapi kalau mayoritas rakyat tidak menghendaki, ya kami akan mengalah”.

Atau ketika dalam sebuah diskusi, Sjafrudin Prawiranegara mengatakan bahwa dalam demokrasi, paham komunisme sekalipun ngga bisa dilarang, dan Natsir menjawab , “Kalau komunisme tidak baik, kita hadang paham itu lewat pemilu”.

Toh si Bapak orangnya tetap sportif. Kalo kata buku “Getting to Yes”, beliau sukses “separate people from the problem”, karena di tengah ke-super-anti komunis-annya, beliau masih bisa (dan biasa) ngopi bareng DN Aidit. Heran juga si, kenapa pemimpin-pemimpin di jaman itu jauh lebih mature daripada pemimpin-pemimpin jama sekarang yang hobinya marah (tempo hari ada yang nglempar laporan keuangan), ngambek (ada juga yang ngancem mau ngajak orang rame-rame golput), maki-maki (ini mah tiap hari…hehe).

Apa jangan-jangan karena ngga pada suka pelajaran sejarah? Hehehe.

Well, to sum up, Pak Natsir memang keren. Jadi akhirnya saya bisa berbangga karena ada tokoh keren dengan hari ulang tahun yang sama dengan saya…Hehehe. Yah, bisa se-bangga teman saya yang ultahnya sama dengan demokrat sejati lainnya, Mohammad Hatta (Bapak Aditya Yudanto, apa kabar?), dan yang jelas lebih bangga daripada teman saya yang ultahnya sama dengan Michael Jackson (halo Ibu Lyla Silvina, hehe, Jacko hebat juga kok…ga usah malu dong..hehe)

Bagaimana dengan kamu? Punya tokoh keren dengan hari ulang tahun yang sama juga? Lumayan loh, bisa jadi sumber inspirasi dan topik karangan ngga jelas kayak begini, hehehe…:D

Wednesday, July 16, 2008

crazy enough?

...ehm...
it's three hours to 00.00 am of July 17th,
and i am still in the office.
is that crazy enough?

hehehe...dizzy and lonely.

yet, today, i heard some young-charming professor said that, sometimes loneliness is good when we are preparing something great.

insya allah.
smangadh!!!!!!

Friday, July 11, 2008

hal gila sebelum dualima

...hmm...
tiba-tiba berpikir
ingin melakukan sesuatu yang gila sebelum dualima

tapi apa ya?
any idea?
gimme some idea, but it has to be a good idea!

come on, give me the idea!
kutunggu ya, sebelum usiaku 25 ;)

.....

Tuesday, May 20, 2008

Celebrating 100 Years of Nation's Awakening...

Judul di atas diambil dari slogan Visit Indonesia Year 2008. Sempat dikritik habis karena sebenarnya nggak nyambung dengan dunia pariwisata. (Kritik yang sangat masuk akal, wisatawan asing mana sih yang peduli dengan 100 tahun kebangkitan nasional?? Hehehe...Lebih pas kalo diganti "Indonesia, Exotic Beauty in Diversity", misalnya.)

Tapi kali ini memang mau ngomongin kebangkitan nasional kok, karena hari ini tanggal 20 Mei 2008. Dengan kritik terhadap 10 tahun reformasi yang dinilai tak kunjung membawa kebahagiaan rakyat, rencana kenaikan harga BBM, kemungkinan bertambahnya jumlah orang miskin, seabrek-abrek masalah politik, ekonomi, dan entah apa lagi, dan ditambah lagi kalahnya Tim Uber kita di final kemarin,...apa yang masih bisa ditulis yah?

Well, tadi pagi nggak sengaja liat Deddy Mizwar di TV. Mengucapkan beberapa bait kata, tentang kebangkitan nasional.Dua kali mendengarnya, cukup meyakinkanku bahwa kata-katanya cukup berharga untuk di-googling. :)

And, here it is...

Bangkit Itu…


Bangkit Itu… Susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu… Takut
Takut Korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit Itu… Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan Prestasi

Bangkit itu… Marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu… Tidak Ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu… Aku
Aku…untuk Indonesiaku

(Poetry By Deddy Mizwar)


What d'you think?
I think it's worth to share. Not expecting that we'll get significantly inspired, but just to remind us, that we still can do something...hopefully. :)

Saturday, April 19, 2008

I promise myself to...



Hanya ingin mengungkapkan sebuah niat. Niat yang muncul gara2 mengulang-ulang membaca "The Alchemist" (bukan sok nginggris, tapi emang English Version, hehe). Aku menemukan begitu banyak butir-butir wisdom yang noteworthy, dan lebih menariknya lagi, menurutku wisdom itu banyak yang sinkron dengan nilai-nilai Quran.

Jadi, aku berniat menuliskan setiap butir wisdom itu secara khusus di blog ini, suatu hari nanti dengan mengaitkannya dengan makna Quran.

Baru niat, kenapa sudah dipublish sih, mungkin begitu pikir pembaca yang budiman, tetapi kan niat yang baik sudah dicatet sama malaikat. hehehe. Selain itu, niat yang dipubilkasikan mungkin akan mendorongku untuk segera membuat perencanaan dan tentunya implementasinya. (walah, bahasanya kok jadi aneh begini........)

Well, demikian, daripada tambah kacau.

Bismillah, Ya Allah, berilah waktu, energi dan manfaat yang baik. Amin.

Thursday, March 06, 2008

…and after all




Setelah 4 ekspedisi
Setelah 5 taksaka
Setelah 3 garuda

Setelah puluhan kebimbangan
Setelah belasan keraguan
Setelah ratusan dukungan
Setelah puluhan ribu permohonan
Setelah satu jawaban

Setelah limabelasribu menjadi tiga puluh tujuh….

Dengan satu niat dan tak terhitung harapan, dengan ini saya mengucap:
Alhamdulillahirabbilalamin.
Bismillahirrahmanirrahiim.
Ihdinashirathalmustaqiim.
Laakhaulawalaakuwwata illabillaah.

Niyat kawula ikhlas nglampahi menapa mawon ingkang kedah kula lampahi.
Amin.