Monday, July 21, 2008

The Statesman with Whom I Share a Birthday


“Bagi saya nilai-nilai Islam itu inspirasi. Akan saya perjuangkan secara demokratis.”
-M.Natsir (1908-1993)-


Sambil menunggu Bapak penjual rujak di pojokan SMA 3 membuatkan pesanan istimewaku (lengkap, dengan bengkuang sedikit saja), sabtu kemarin aku iseng melongok ke dagangan Bapak tukang majalah. Sempat bingung, mau beli Tempo atau Cosmo Girl. (Your comment must be: “Hehehe, ga nyambung yah?” Atau “Cosmo Girl?! Plis deh, inget umur-inget umur!!!”)

Well, TEMPO-nya lumayan tebel dan edisi khusus 100 tahun Muhammad Natsir, sementara Cosmo Girl-nya all about being proud of Indonesia plus dapet bonus planner buat seru-seruan…(hehehe, ngga inget umur banget kayakna….)

Toh akhirnya aku memilih Natsir instead of planner seru-seruan. Ngga nyesel setelah mengintip isinya.

Surprise-surprise, ternyata Pak Natsir lahir tanggal 17 Juli!! Exactly the same birthdate as mine, but of course, different year, as he was born in 1908.
Jadi umur kami tepat berjarak 75 tahun (!!)

Natsir in A Nutshell

Mungkin Pak Natsir ngga setenar Soekarno, Hatta atau bahkan Sjahrir. Tapi kalo kamu sama sekali belum pernah dengar namanya, saya berani taruhan…pasti nilai pelajaran sejarah kamu parah banget. Hehehe.

Beliau tercatat di buku-buku teks pelajaran sejarah sebagai salah satu Perdana Menteri Indonesia di era Demokrasi Parlementer, sekaligus pemimpin Partai Masyumi atau Majelis Syura Muslimin Indonesia, yang merupakan representasi dari kekuatan Islam politik di era the so-called “politik aliran”. Belakangan, beliau termasuk salah satu pemimpin yang berani mengkritik kediktatoran Soekarno secara terang-terangan dengan menjadi salah satu pemimpin pemberontakan PRRI/Permesta, bareng-bareng sama Sjafruddin Prawiranegara (mantan perdana menteri pemerintahan darurat RI waktu Soekarno Hatta ditangkap Belanda di Jogja), dan Sumitro Djojohadijkusumo (“Begawan Ekonomi”, kalo ngga salah mantan besan Pak Harto).
Saya pertama kali membaca profilnya jaman SD kelas 2 atau 3, di majalah “Taman Melati” terbitan AMM Syuhada Yogyakarta yang dibelikan Bapak saya. (Apa kabar ya majalah itu…)

Tahun 1980-an, Natsir yang masih aktif sebagai pemimpin berbagai organisasi Islam internasional harus berurusan dengan pemerintah orde baru yang kejam dan bengis (masih pada inget tidak kalo Orde Baru kejam??? Jangan-jangan “sudah lupa, tuh” hehehe, pasti tambah parah deh nilai pelajaran sejarahnya) gara-gara ikut menandatangani the so-called “Petisi 50”, yang mempertanyakan itikad Soeharto terhadap demokrasi.

Di buku sejarah nama Natsir tidak banyak disebut, dan sejauh yang saya tahu, tidak ada jalan bernama “Jalan M. Natsir”. Yah, karena sampai akhir hayatnya, Sang Jenderal Besar (Jenate Mbah Harto mangsudnyah…) tidak pernah memaafkannya.

So What?

Di liputan Tempo edisi khusus ini saya menemukan banyak hal baru tentang Pak Natsir. Belum selesai sih baca semua liputannya, tapi in general, I can conclude that he was one of the greatest statesmen Indonesia ever had.

Integritas, jelas dia punya. Dari awal hingga akhir hayatnya, hidupnya tampak selalu lurus. Tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, hidup (kelewat) sederhana untuk ukuran seorang menteri penerangan atau perdana menteri (mosok kemejanya hanya dua, dan jasnya bertambal?), dan tidak mau menerima yang bukan haknya (menolak mobil pemberian yang kurang jelas dasar hukumnya, dan tetap memakai mobil butut).

Konsistensi, no doubt! Dari awal Pak Natsir sudah inspired oleh political islam, dia membela Islam yang banyak dikritik oleh kaum nasionalis di jaman perjuangan (mosok Dr. Sutomo sampe berani bilang “pergi ke Digul lebih baik daripada pergi naik haji ke Mekah”, lebay banget ga sih Dr. Sutomo??) dan sampai akhir, di konstituante dia tetap memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, instead of Pancasila.

Sincerity, keikhlasan, ini yang langka banget untuk kalangan politisi. Pak Amien Rais (dosen saya, sekaligus idola saya jaman SMA dulu…hehehe) mengatakan bahwa Pak Natsir memasang ayat terakhir Surat Al Ankabut di rumahnya, yang artinya kira-kira begini: “Dan untuk orang-orang yang berjihad (mencari keridaan Kami), Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Implementasi ayat ini tercermin dari sikap Natsir yang ikhlas menjadi seorang public servant, pemimpin politik dan pendengar yang baik.

Tapi kualitas yang mungkin paling penting sekaligus paling jarang di-ekspos dari Pak Natsir mungkin adalah ini: Demokrat sejati.

Saya baru tahu bahwa beliau salah satu yang paling tegas mengkritik kecenderungan Soekarno untuk anti-demokrasi (mengangkat diri sendiri sebagai presiden seumur hidup, pemimpin besar revolusi, membubarkan partai-partai politik, merenteng begitu banyak perempuan, merebut istri orang…ooops…hehehe, sori, kebablasen) dan juga salah satu tokoh yang turut mempertanyakan (dengan santun dan tanpa caci-maki, kata TEMPO) apa maksud pidato lisan Soeharto yang tampak mulai anti-demokrasi (“yang mengkritik saya berarti mengkritik pancasila” dan “lebih baik kami culik satu dari dua pertiga anggota MPR yang akan melakukan perubahan UUD 1945 agar tidak terjadi kuorum”) pada awal 1980-an.

Memang, banyak yang tidak melihat Natsir sebagai seorang demokrat karena perjuangannya di konstituante untuk membawa islam sebagai dasar negara. Tapi lihat dulu kata-katanya soal ini: “Kami memperjuangkan dasar negara Islam secara demokratis di lembaga demokrasi. Tetapi kalau mayoritas rakyat tidak menghendaki, ya kami akan mengalah”.

Atau ketika dalam sebuah diskusi, Sjafrudin Prawiranegara mengatakan bahwa dalam demokrasi, paham komunisme sekalipun ngga bisa dilarang, dan Natsir menjawab , “Kalau komunisme tidak baik, kita hadang paham itu lewat pemilu”.

Toh si Bapak orangnya tetap sportif. Kalo kata buku “Getting to Yes”, beliau sukses “separate people from the problem”, karena di tengah ke-super-anti komunis-annya, beliau masih bisa (dan biasa) ngopi bareng DN Aidit. Heran juga si, kenapa pemimpin-pemimpin di jaman itu jauh lebih mature daripada pemimpin-pemimpin jama sekarang yang hobinya marah (tempo hari ada yang nglempar laporan keuangan), ngambek (ada juga yang ngancem mau ngajak orang rame-rame golput), maki-maki (ini mah tiap hari…hehe).

Apa jangan-jangan karena ngga pada suka pelajaran sejarah? Hehehe.

Well, to sum up, Pak Natsir memang keren. Jadi akhirnya saya bisa berbangga karena ada tokoh keren dengan hari ulang tahun yang sama dengan saya…Hehehe. Yah, bisa se-bangga teman saya yang ultahnya sama dengan demokrat sejati lainnya, Mohammad Hatta (Bapak Aditya Yudanto, apa kabar?), dan yang jelas lebih bangga daripada teman saya yang ultahnya sama dengan Michael Jackson (halo Ibu Lyla Silvina, hehe, Jacko hebat juga kok…ga usah malu dong..hehe)

Bagaimana dengan kamu? Punya tokoh keren dengan hari ulang tahun yang sama juga? Lumayan loh, bisa jadi sumber inspirasi dan topik karangan ngga jelas kayak begini, hehehe…:D

Wednesday, July 16, 2008

crazy enough?

...ehm...
it's three hours to 00.00 am of July 17th,
and i am still in the office.
is that crazy enough?

hehehe...dizzy and lonely.

yet, today, i heard some young-charming professor said that, sometimes loneliness is good when we are preparing something great.

insya allah.
smangadh!!!!!!

Friday, July 11, 2008

hal gila sebelum dualima

...hmm...
tiba-tiba berpikir
ingin melakukan sesuatu yang gila sebelum dualima

tapi apa ya?
any idea?
gimme some idea, but it has to be a good idea!

come on, give me the idea!
kutunggu ya, sebelum usiaku 25 ;)

.....