Tuesday, October 07, 2008

Dyah Widiastuti is charmed by Prof. Sri Edi Swasono…

Itu judul statusku di facebook akhir Ramadhan lalu. Seorang friend di facebook menanggapi dengan menulis di wall-ku: “Enlighten me who is Edi Swasono?”

Hehehe, dan inilah ceritaku tentang sang Profesor…

Pagi itu, Senin 22 September, hari pertama masuk kantor lagi setelah dua minggu hidup di negeri dongeng berisi kisah tentang tarian poco-poco, tidur nyenyak dan mimpi indah di KELAS (yes, you have to believe what you read!), anak kucing yang lucu dan bersemangat, suara TOA meraung-raung di ambang fajar mengagetkan bayi-bayi di dalam kandungan, ujian-ujian yang luar binasa tak terduga, serta ”sesuatu” yang misterius dan bikin penasaran (halah, teuteup!!), yang jauh dari hiruk pikuk Taman Suropati 2 yang menyita sebagian besar hidup kami selama 6 bulan terakhir... (lebay, asli!).

Di papan pengumuman aku melihat selebaran tentang kultum hari ini oleh Prof. Sri Edi Swasono, bertema ”Solidaritas Sosial”. ”Tuhan memang super-baik”, batinku menggumam, berpikir bahwa Dia telah memberi sesuatu yang seru untuk dinantikan sore ini dan membuat pagiku bersemangat.

Jadilah sepagian itu aku dan salah seorang teknokrat muda ekonomi pembangunan Bappenas (sapa hayoo??) mengumumkan via YM kepada seluruh CPNS Bappenas 2007 mengenai bukber dengan kultum dari pejuang ekonomi kerakyatan kita, menantu Drs. Mohammad Hatta, sekaligus dosen sebuah fakultas ekonomi yang dikenal telah melahirkan the so-called ”fundamentalis pasar bebas nusantara” (hehehe, aku sendiri kalee yang bikin istilahnya...).

Jam 5 lewat aku bersyukur beban kerjaan yang urgen sudah beres (plus penundaan keberangkatan ke Jogja untuk kajian yang melegakan), dan asmen lantai 2 tampak sudah lengang. Maklum, Ramadhan hampir berakhir, tentunya berbuka bersama keluarga di rumah semakin menjadi momen istimewa yang tidak akan dilewatkan oleh para Bapak dan Ibu yang telah berkeluarga.

Bergegas-gegas aku menuju SS 3. Di depan SS duduk seorang Bapak agak kurus, memakai baju takwa warna putih-krem, berkacamata tebal, rambut agak keriting, dan dibelah pinggir (agak-agak classic atau istilah kejamnya jadul gitu deh). Aku agak lupa apakah bapak itu berjenggot, tapi kesan penampilannya mengingatkanku pada bapak-bapak yang saleh dan clean. Beliau sedang on the phone. Itulah Prof. Sri Edi Swasono, yang namanya telah kudengar sejak masih di bangku kelas 3 SD (sebagai apa aku lupa, hehehe, malah ingetnya beliau kakaknya Sri Bintang Pamungkas, aktivis anti orde baru).

Di dalam ruangan tampak beberapa gelintir orang, termasuk sejumlah teman-teman seperjuangan yang baru saja bersama-sama menempuh 14 hari yang tak terlupakan di Ciawi (kok lebay lagi yah...). Tampaknya provokasiku kurang berhasil dilihat dari sedikitnya CPNS 2007 yang hadir, bahkan, temanku sang teknokrat ekonomi pembangunan tadi juga urung hadir karena satu dan lain hal (walah, istilah yang amat sangat birokratis, hehe). Tapi tak apalah, mungkin memang teman-temanku masih sibuk.

Beberapa menit kemudian, setelah pembacaan ayat Quran, forum dimulai dengan pembagian hand out (kuliah banget!!) yang memuat dua kliping koran. Yang pertama berjudul ”The Affluent Society” karangan sang pemberi kultum, dan yang kedua tulisan dari seorang mahasiswa pasca sarjana UI tak kukenal berjudul ”Pembangunan Yang Gagal Dan Dehumanisasi”.

Artikel sang profesor bercerita tentang ”the affluent society”, masyarakat yang sangat konsumtif. Istilah tersebut awalnya dipakai oleh John Kenneth Galbraith, seorang ekonom strukturalis (a.k.a ekonom yang peka terhadap ketimpangan struktural/prihatin terhadap ketidakadilan sosial-ekonomi) untuk menyebut masyarakat AS 50 tahun lalu. Prof. Edi melihat bahwa masyarakat Indonesia sekarang sudah mulai menjadi masyarakat semacam ini.

Kultum diawali dengan mengutip Al-Hasyr ayat 7, yang salah satu potongan ayatnya berbunyi ”...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu.” Beliau melihat inilah yang saat ini terjadi. Tadinya aku mengira beliau akan berbicara mengenai zakat dan sedekah, yang akhir-akhir ini sempat menjadi headline surat kabar dengan judul ”20 killed for less than 3 dollars” atau semacamnya. Ternyata beliau menggambarkannya dengan fenomena orang yang mampu berbelanja di mal, makan di restoran mahal, paling murah pun restoran franchise amerika sehingga ”harta” yang didefinisikan secara lebih luas sebagai ”ekonomi” hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja, yaitu masyarakat yang affluent tadi. Sementara tukang soto lamongan, tukang nasi uduk dan kawan-kawannya disapu bersih dari seputaran tempat dagang strategis seperti Bandara Soekarno-Hatta, misalnya.

Kemudian Prof. Edi menyoroti definisi pembangunan yang dianut oleh pamerintah Indonesia sebagai salah satu akar terjadinya permasalahan tersebut. Selama ini pembangunan dimaknai sebagai peningkatan pendapatan per kapita atau istilah kerennya pertumbuhan ekonomi. Definisi pembangunan paling primitif yang tidak canggih, dan aku asbolutely agree. (hehehe, hasil didikan HI UGM sih). Inilah yang kemudian disebut sebagai ”dehumanisasi pembangunan”, yang membuat pembangunan melupakan roh-nya untuk meningkatkan kualitas manusia.

Kemiskinan lahir sebagai salah satu konsekuensi definisi di atas, karena daya beli justru dibelikan kepada yang asing. Kemiskinan yang hadir saat ini adalah societal poverty, terjadi karena kita diam saja melihat kemiskinan itu. Kita telah menjadi irresponsible society.

Beliau sedikit menyinggung tentang John Perkins, seorang ekonom asal Amerika Serikat yang pernah bertugas di Indonesia. Melalui salah satu bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins mengupas bagaimana negara – negara maju khususnya Amerika Serikat menancapkan sistem ekonomi berbasis kapitalis ke dalam sistem perekonomian negara – negara berkembang (new emerging countries). Bentuk neo kolonisasi terhadap dunia ketiga tersebut masuk melalui perusahaan – perusahaan multinasional, sistem keuangan dan campur tangan pemerintah Amerika. Contoh konkretnya adalah Indonesia, dimana ketergantungan terhadap MNC dan sistem keuangan global menjadi mind set para eksekutif dan pengambil kebijakan. Akibatnya, efek bola salju yang dihasilkan dari economic bubble di luar negeri akan berimbas semakin besar ketika sampai di Indonesia.

John Perkins juga menggaris bawahi bahwa sistem ekonomi kapitalis hanya cocok untuk negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi. Di Indonesia, sistem kapitalis yang berbasis pasar murni hanya akan menguntungkan bagi pemilik modal sementara sebagian besar rakyatnya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi, sesuai tema kultum ”The Affluent Society”, proses pembangunan yang terjadi hanya dinikmati sebagian kecil rakyat Indonesia.

Selanjutnya, berbicara mengenai participatory dan emancipatory yang menurut Musrenbangnas kemarin merupakan salah satu pengarusutamaan (mainstreaming), seharusnya bisa membawa serta orang miskin. Namun kenyataannya, mereka seringkali tidak diperhitungkan, termasuk dalam berbagai feasibility study yang dibuat oleh institusi perencana pembangunan nasional negeri ini.

Dimana letak kesalahan kita? Menurut beliau, selain inlander mentality kita yang masih kuat sehingga kita sering terkagum-kagum dengan apapun yang datang dari Barat, ada tiga hal yang lebih spesifik:
1. pemujaan terhadap pasar bebas, sehingga yang diutamakan dalam pembangunan adalah economic gain
2. adanya ”academic hegemony”, paham liberal dalam mendefinisikan pembangunan, termasuk di kampus-kampus fakultas ekonomi di berbagai universitas di negeri kita, sehingga manfaat pembangunan tidak sampai kepada orang miskin karena yang dibangun memang bukan manusianya.
3. banyaknya orang Indonesia berambut hitam dan berkulit coklat yang menjadi ”John Perkins” baru yang meyakinkan bahwa ”there’s no alternative”.

Tiga poin di atas sebenarnya beliau kemukakan demi menanggapi hipotesis kasarku yang kusampaikan di depan forum (dengan agak tidak sabar dan deg-degan, hehehe), bahwa salah satu penyebab kebijakan pembangunan kita tidak berpihak kepada orang miskin adalah karena sebagian besar pengambil kebijakan pembangunan kita tidak pernah miskin sehingga kesulitan berempati terhadap yang miskin.

Beliau bilang, ”Pendapat Anda termasuk yang salah, Non!” (seumur-umur baru kali ini saya dipanggil ”Non”, kikikiki), dan mengalirlah tiga argumen di atas, yang tentunya memang lebih ilmiah daripada hipotesis kasarku. 

Menutup kultumnya, beliau menyampaikan bahwa ”solidaritas bisa direncanakan”, ”it can be designed!”

Dan pertanyaanku tentang “how” nya tidak sempat terjawab karena azan maghrib telah 10 menit yang lalu berkumandang dan si Bapak tidak ingin menunda-nunda shalat.

Pesan beliau yang masih terngiang-ngiang adalah bahwa generasi kami-lah yang harus mengubah paradigma pembangunan itu, yang harus merencanakan solidaritas itu, yang harus menyadari bahwa pembangunan adalah sebuah desain budaya, dan yang harus melakukan “direct attack on poverty”.

Pelajaran penting yang baru yang sempat beliau lontarkan menanggapi celotehanku mengenai “role model PNS Indonesia yang berintegritas tinggi” saat sebagian hadirin sudah bubar adalah:
1. Orang yang hanya mau mendengarkan orang yang lebih bodoh dan tidak mau mendengarkan orang yang lebih pintar adalah orang minder yang selalu ingin terlihat paling pintar.
2. Dalam definisi intelektualitas dan integritas, jangan lupa bahwa ada unsur kemampuan untuk melihat keganjilan-keganjilan, dan pastinya untuk berbuat sesuatu.

Profesor yang ini memang beda. Mungkin beliau dianggap aneh di kampusnya. But surely, I was impressed, or even charmed. Terlebih lagi melihat beliau memunguti dan ngopeni sejumlah handout yang tergeletak tak bertuan di meja-meja Ruang SS 3.

Aku bersyukur bisa menghadiri majelis ini.
--------------------------------------------------------------------------------------
Saya berterimakasih banyak kepada Prakosa Grahayudiandono, salah seorang teknokrat ekonomi pembangunan di angkatan kami, untuk menuliskan paragraf tentang John Perkins dalam entry ini, karena memang saya ngga ngerti siapa itu John Perkins, hehehe.