Sunday, December 27, 2009

My Favorite Fairy Tale

Jaman aku SMP dulu (yak, di SMP 4 Pakem, Jalan Kaliurang Km. 17, Sleman, Yogyakarta), aku pernah beruntung sekali dipinjami sebuah buku kumpulan dongeng berjudul "Kisah si Kaki Peri". The coolest fairy tales compilation I've ever read!

Tidak ada cerita yang lebih berkesan di dalam buku itu daripada sebuah dongeng berjudul "Menembus Api", yang menurutku indah, sederhana, magical dan membawa pesan moral yang mulia, bahwa cinta, perjuangan dan ketulusan bisa mengatasi segala perbedaan...huekekeke...kira-kira sih begitu.

Saking terkesannya dengan buku pinjaman itu, aku berinisitif memfotokopi bukunya. *secara di pakem itu jauh ya dari Gramedia....hehehe*. I was so happy to got the (photo)copy!

Unfortunately, buku itu kemudian raib saat dipinjam oleh salah satu sepupuku. Bahkan sampai saat ini pun aku masih belum memaafkan anak itu karena menghilangkannya. huahaha, padahal dia ngilangin pas masih SD, dan sekarang dia sudah kuliah. hihihi, just kidding. :)

Anyway, time went by, and I was so lucky to have chance to experience a super cold winter in a country that celebrates the changing four seasons in a way that will certainly make you falling love with the country. *hayah....compound complex sentence yang ra nggenah...* I might have been inspired by the coldness, dan akhirnya pada February 2005, kutuliskan kembali kisah "Menembus Api" yang bersetting winter yang merana itu...

Sudah kucoba kugooggling kisah ini, namun tiada ketemu. Jadi kukarang saja seingatku, dan aku masih berharap suatu saat nanti, aku bisa nemu buku itu. :)

Ini dia hasil penceritaan kembali itu, dan memang masih separuh jadi, supaya kalian penasaran endingnya bagaimana, atau malah bisa memberiku ide bagaimana melanjutkan ceritanya,....huakakaka. *dasar malas...*

Girls, i know you love fairy tales. :)
Boys, i don't know about you, but, tidak ada larangan untuk menyukai fairy tales.




…Menembus Api…
(Original Title: Through The Fire)

Kisah ini berawal di sebuah rumah kecil yang sempit di kawasan kumuh kota London, yang waktu itu menjadi begitu tidak nyaman akibat begitu banyaknya pabrik berdiri, mengeluarkan cerobong asap yang menyesakkan paru-paru (jaman revolusi industry critane). Di rumah kecil ini tinggal seorang anak laki-laki kecil bernama Jack bersama ibunya, seorang buruh pabrik berupah minimum yang terpaksa harus mencari kerja sambilan di malam hari, sehingga hampir setiap malam, Jack kecil kesepian di depan perapian dapur yang suram.

Malam itu seperti biasa, Jack mencoba menghangatkan tubuhnya yang kecil dan kurus di depan bara api yang menyala-nyala. Cuaca kota London memang semakin tidak bersahabat di malam hari, apalagi untuk dirinya yang memang sering sekali jatuh sakit. Setengah melamun memikirkan jam berapa ibunya akan pulang, Jack nyaris berpikir dia jatuh tertidur dan bermimpi melihat seorang laki-laki kecil melompati bongkahan-bongkahan bara api di tungku. Tetapi laki-laki kecil itu ternyata berbicara kepadanya.

`Hei, kasihan sekali kau, Nak…sepertinya kau kedinginan dan kesepian…` sapa si laki-laki yg besarnya kira-kira seukuran pensil Jack.
`Siapa kau? Dan kenapa kau tidak merasa kepanasan?`, Tanya Jack yang sangat penasaran.
`haha..kepanasan? Aku adalah peri api, aku lahir dari lidah api, aku tinggal di negeri api, aku makan pudding api dan aku minum jus api. Bagaimana aku merasa kepanasan? Ayo, ikutlah bersamaku bermain di negeri api…`ajak si peri api yang nampak ramah.
Jack berpikir sejenak, melihat jam warisan kakek di dinding. Ibunya baru akan pulang 3 jam lagi.
`baiklah…’ jawab Jack akhirnya.

Si peri api meminta Jack memegang pingiran tungkunya, yang anehnya, sama sekali tidak terasa panas bagi si kecil Jack. Secara ajaib, Jack menyusut menjadi seukuran si peri, dan si peri api menolongnya melompat masuk ke dalam api, melompat di antara bongkahan-bongkahan bara. Dalam sekejap, Jack tiba di sebuah negeri yang hangat, sangat berbeda dengan dapur rumahnya yang dingin dan lembab di London. Negeri itu begitu menarik, dengan pohon-pohon berbunga kecil-kecil berwarna merah, dan daun-daun berwarna kuning. Bukit-bukit tampak ramah dengan warna jingganya yang ceria. Si peri api juga menunjukkan sebuah istana indah dengan taman luas, dan burung-burung phoenix yang anggun berterbangan di dalamnya. Itulah istana Raja negeri api.

Tiba-tiba si kecil Jack melihat seorang gadis berdiri termenung di beranda istana. Gadis itu mempunyai mata yang berbinar-binar, dan rambut yang berkilauan sepanjang pinggang. Dia sangat cantik, namun matanya memancarkan kesedihan. Jack bertanya pada si peri api.

`siapakah gadis itu?’ Tanya Jack.
‘oh, itu Putri Pyra, putri kerajaan api`
‘mengapa dia tampak sangat sedih? Bukankah dia tinggal di istana sebuah negeri yang menyenangkan?’ Tanya Jack penasaran, setengah merasa nelangsa mengingat dapur ibunya di London.Hiks…

`oh…dia punya segalanya tentu saja. Tapi kuberitahu sesuatu, musim panas yang lalu dia berjalan-jalan ke negeri bunga (aku ngarang nama negeri nya, soale lali jhe…what could probably be a land suitable from both fire and water?). Dan disanalah segala kesedihan itu berawal. Dia tak sengaja melihat Pangeran Fluvius, dari negeri air, dan jatuh cinta padanya.`

‘kenapa dia malah sedih? Apakah pangeran tidak mencintainya?`
`oh, jika itu yang terjadi, Putri Pyra tak akan sesedih itu. Justru karena sang pangeran juga jatuh cinta padanyalah semuanya menjadi semakin rumit. Mereka tak akan pernah bisa menikah, salah satu dari mereka jelas akan mati kan begitu mereka berdekatan? Entah sang pangeran habis menguap, atau sang putri yang akan padam` Kata Sang Peri seolah menjelaskan bahwa 1 ditambah 1 sama dengan 2. :p

`oooh…’ kata Jack yang baru paham.*batine si Jack: meneketehe…dengan gaya Torsud or Amingwati tapi Cuma dibatin*

Bersambung… (insya Allah ya…:p)

Sunday, December 20, 2009

janji dan rencana sederhana: untuk hidup yang lebih bermakna

Di antara mimpi-mimpi, janji-janji dan rencana-rencana besar yang bahkan belum terbayangkan bentuk dan wujudnya, ada sejumlah janji-janji kecil yang selama ini selalu dibisikkan oleh hati ke telinga setiap pergantian tahun dan usia.

Mungkin itulah kenapa janji-janji itu terkadang lewat begitu saja,...karena hanya dibisikkan ke telinga. Sebuah teori mengatakan, jika tidak dituliskan, bukan rencana namanya...

Belajar dari tahun-tahun itu, maka marilah kita catatkan janji ini dalam sebuah catatan tertulis yang bisa diakses oleh publik, sehingga tidak kalah dengan kontrak kinerja para menteri kabinet Indonesia Bersatu II dengan presiden. hehehe... *teuteup*

1.Shalat di awal waktu.
2.Membaca Al Quran minimal satu ruku' setiap hari.
3.Menelepon rumah minimal sekali dalam seminggu.
4.Mewujudkan semboyan "5 sempurna, 6 lebih utama". :p

Sudah cukup Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Timely belum ya? hihihi.

Tampak sangat sederhana ya? Tapi believe me, empat hal ini sangat susah direalisasikan sejak hidup di Jakarta...opo aku aja yang lebay dan kelewatan ya...hehehe...ngga tau juga sih....

*teman-teman di Jogja atau di manapun Anda berada, sungguh bersyukurlah....*

ya Allah, mohon dimudahkan ya...

Teman-teman, mohon dukungannya ya...:)

matur nuwun.

Bismillah...

Saturday, December 05, 2009

Ingat Puisi Ini?

kulari ke hutan kemudian teriakku
kulari ke pantai kemudian menyanyiku
sepi.. sepi,, sendiri, aku benci
aku ingin bingar, aku ingin di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri

pecahkan saja gelasnya biar ramai!
biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera..
atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai?



Pernah dengar puisi ini? hehehe. Kalo belum, kebangetan deh...tapi ingatkah kalian bait-bait lengkapnya? ingkatkah tiap pilihan katanya?


hahhaa....justru itulah kenapa saya posting di sini...karena sudah terlalu sering kami membecandai puisi ini...setiap kali ada yang nyenggol gelas di acara makan siang diklat atau yang menjatuhkan piring saat buka puasa bersama. :)

hehehe....

pecahkan saja gelasnya biar ramai...

hehehe....

ini puisi yang menarik. :)

merupakan bagian penting dari tonggak sejarah perfilman Indonesia, dan bangkitnya kembali kebanggaan anak bangsa terhadap karya saudaranya.

selamat bernostalgia. hehehe.

*sajak tuwo banget yoo...*

Friday, November 13, 2009

Puisi Sepuluh November

Pertama kali mengenal puisi ini zaman masih SD,dari buku teks bahasa Indonesia milik kakak. Membekas di hati hingga kini.

Satu pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana intonasi yang tepat untuk kata "sayang"? Apakah seperti kata "dear" atau "honey"? Atau "what a shame" atau "too bad"?

Adakah yang bisa menjawab?



Pahlawan Tak Dikenal

(Toto Sudarto Bachtiar)




Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(1955)

Siasat,
Th IX, No. 442
1955

soundtrack of 10 november

remember-remember, sepuluh november...haiyah...ga nyambung...hihihihi...

tapi inilah soundtrack yang saya pilih untuk menemukan kembali the meaning of hero in every one of us... :)

frikitiw....(opo sih???!!)




Go The Distance

(Michael Bolton)



I have often dreamed
Of a far off place
Where a hero's welcome
Would be waiting for me
Where the crowds will cheer
When they see my face
And a voice keeps saying
This is where I'm meant to be

I'll be there someday
I can go the distance
I will find my way
If I can be strong
I know ev'ry mile
Will be worth my while
When I go the distance
I'll be right where I belong

Down an unknown road
To embrace my fate
Though the road may wander
It will lead me to you
And a thousand years
Would be worth the wait
It may take a lifetime
But somehow I'll see it through

And I won't look back
I can go the distance
And I'll stay on track
No I won't accept defeat
It's an uphill slope
But I won't lose hope
Till I go the distance
And my journey is complete

But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart

Like a shooting star
I can go the distance
I will search the world
I will face its harms
I don't care how far
I can go the distance
TillI find my hero's welcome
Waiting in your arms...

I will search the world
I will face its harms
Till I find my hero's welcome
Waiting in your arms...

Tuesday, October 27, 2009

strange but familiar



...as i always said, dari dulu aku payah dalam urusan puisi. Entah dalam memahami maknanya, menulisnya,atau sekedar menilai puisi mana yang indah dan mana yang norak. Sungguh, aku tidak tahu.

Namun demikian, *halah bahasane..plis deh*, dalam kesempatan iseng browsing puisi Pak Sapardi, aku menemukan puisi singkat ini. Aku tidak yakin maknanya, dan mungkin tak tahu maksud beliau ketika menuliskannya, tapi aku suka. :) It's strange, yet familiar.

Jadi, mohon ijin Pak Sapardi, saya posting puisi Bapak di sini, syukur-syukur nanti Bapak bisa menjelaskan makna atau bahkan mungkin suasana batin *halah, bahasane politik praktis bangedh, huikikiki* ketika Bapak menulisnya...

Buat teman-teman, yang suka dan ndhak suka puisi, yang ngerti dan ndhak ngerti Sapardi...selamat menikmati. :)


HATIKU SELEMBAR DAUN

Oleh :
Sapardi Djoko Damono


hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.


Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Tuesday, September 01, 2009

The Tale of The Speech Admirer



Once upon a time, ada seorang anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di sebuah dusun kecil, yang merupakan bagian dari sebuah negeri yang luaaaaaaaaassssss sekali. *saking luasnya, negeri ini tidak terpetakan secara geografis, kekeke* Anak perempuan ini mempunyai sifat periang, dan sifat seperti anak-anak kebanyakan, dengan rasa ingin tahu yang sangat besar (dan kadang terlalu besar sampai membuat orang lain sebal) dan sifat orang dusun pada umumnya, mudah takjub dan terkagum-kagum, atau kata salah satu gurunya dalam bahasa ibunya: “gumunan”(sehingga terkadang si anak memiliki antusiasme yang berlebihan, hehe).

Ketiga sifat ini, dengan ditambah sedikit keberuntungan dan tentunya kehendak Allah tuhan sekalian alam, si anak akhirnya entah bagaimana ceritanya mendapatkan pekerjaan yang cukup lucu di sebuah unit (“unit” gitu loh) di pemerintahan pusat negeri nan luas itu. Si anak, dengan rasa ingin tahu dan rasa gumunan-nya, menyambut tantangan itu dengan ceria dan berkata kepada dirinya: “Di sinilah tempat aku akan mencari sesuap nasi dan segunung ilmu. Yosh, ganbarimasu!!!” *lo, ini sa’jane cerita dari negeri mana sih..hehehe*.

Segera saja, begitu banyak hal baru yang didapatkan anak itu di tempat dia bekerja. Ada yang baik, ada juga yang kurang baik. Ada yang bijak, ada juga yang kurang bijak. Ada yang lurus, ada juga yang berkelok-kelok. “Namun aku yakin, semuanya bisa mengajarkanku kebijaksanaan hidup dan segunung ilmu.”, kata si anak dengan sok tua dan sok tau kepada dirinya sendiri (seperti biasanya dia katakan kepada teman-temannya, yang sebenarnya tidak meminta nasihatnya, hehe.) Jadi, tetep, ganbarimasu, lah pokoke, kata si anak sambil mengikatkan ikat kepala bertuliskan huruf kanji bertuliskan “fight!!” (hih, kok dadi komik banget, wkwkwk ^^v).

Satu hal yang sangat disukai si anak dari pekerjaan barunya adalah kesempatan untuk bertemu dan mendengarkan langsung petuah, ajaran, analisis, kritik pedas, kadang caci maki, sabda dan fatwa dari orang-orang penting, tersohor dan para penentu haluan negeri nan luas itu. Di antara mereka ada yang lembut nan bijak, ada yang meledak-ledak. Ada juga yang sinis nan nylekit, ada yang lugas dan cerdas. Ada yang disebut ceramah, khutbah, wejangan, dan ada juga yang disebut pidato *entah dari mana kata itu bermula, sounds so strange to me, mungkin dari bahasa bangsa kecil yang pernah menjajah namun secara ironis juga turut membidani kelahiran negeri nan luas itu, maaf belum sempet googling* Si anak merasa semua rangkaian kata-kata itu menjadi sumber gunung ilmu dan kebijaksanaan hidup yang merupakan harta yang sangat berharga baginya. *lebay.com, sedulure ebay.com*

Demi mengumpulkan harta itu, si anak menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli sebuah benda canggih nan ajaib berwarna biru untuk menampung dan mengumpulkan segala macam wejangan, ceramah, khutbah dan pidato itu tadi, untuk kemudian dikenang atau diperdengarkan kembali. Benda ini memang tak secanggih pensieve-nya Penyihir Besar Albus Dumbledore (alm.) Kepala Sekolah Hogwarts School of Witchraft and Wizarding yang bisa membawa pemakainya ke dalam sensasi memori empat dimensi (halah, bahasa mana pula ini, hwehe). Namun benda ajaib ini cukup membuat si anak semakin riang dan bersemangat bekerja, sehingga seolah-olah ketika dia berjalan ada pegas di sol sepatunya. *asli lebay nek sing iki, hehehe*

Banyak sudah kata-kata penting ditampung di dalam benda ajaib itu, mulai dari kata-kata bijaksana sang mentri, sambutan mentornya yang selalu menginspirasi, hingga sambutan bersejarah pemimpin kulit berwarna pertama di sebuah negara adidaya-adikuasa yang merupakan tetangga negeri nan luas ini, tentunya yang terakhir ini direkam dari kotak kaca ajaib bernama televisi. Namun bagi si anak, tiada pidato yang paling berkesan selain kata-kata ibu menteri cantik yang terkenal dengan ketajaman pikiran dan selera berbusana batiknya yang tinggi serta antingnya yang serasi *halah*. Sampai hari ini, si anak masih berdecak kagum mengingat keberanian dan keanggunan sang ibu menteri, meskipun dalam banyak hal yang prinsipil si anak sangat berseberangan paham dengan sang ibu menteri. “Sepertinya ibu itu tidak merasa bahwa dirinya terhegemoni”, batin si anak, kali ini dengan sangat-super-sok-tua-dan-sok-tau. *hahaha, silakan protes buat yang mau protes*

Waktu terus berlalu, benda ajaib maha penting itu terus menemani hari-hari si anak. Sampai pada suatu hari, si anak tanpa sengaja meninggalkan benda ajaib di sebuah ruangan di tempat dia bekerja. Satu jam sesudahnya, si anak menyadari kecerobohannya, dan dicarinya benda ajaib ke seluruh sudut yang memungkinkan, ke setiap orang yang sekiranya bisa memberi harapan. Tak satupun memberikan jawaban yang memuaskan. Anak itu sedih bukan kepalang.

Salah seorang sahabat si anak tanpa sengaja mengabarkan bahwa ada seorang sahabatnya yang bisa membaca keberadaan sang kehilangan. Si anak tak menyia-nyiakan timbulnya harapan baru, segera ditanyakanlah keberadaan benda ajaib berwarna biru kepada sang pemilik indera ke tujuh. Sang pemilik indera ke tujuh hanya mengatakan: “ikhlaskan saja...”. Si anak tidak puas dengan jawabannya. “mungkin memang masih ada di sekitar sini...” lanjut temannya. Si anak semakin mendesak. “sudah berpindah tangan...sudah lebih sulit diminta kembali...” jelasnya menenangkan si anak. Si anak yang keras kepala mengatakan akan membelinya kembali, bahkan dengan harga yang lebih tinggi, mengingat benda ajaib itu tak lagi dijual di pasar. “diikhlaskan saja...”. Si anak putus asa, setidaknya untuk hari itu.

Keesokan harinya, si anak kembali, dengan pertanyaan yang sama. Dengan ketidakterimaan yang kurang lebih juga masih sama. “sudah, ikhlaskan saja...” si anak tetap merengek tak mau diam. “benda itu sudah digunakan untuk membiayai pendidikan persamaan...”. Si anak kini terdiam. Baginya, pendidikan adalah sumber kehidupan. Dia menyadari hidupnya tak akan seperti sekarang tanpa pendidikan. Bahkan para pemimpin negerinya juga masih heboh memperjuangkan tentang anggaran pendidikan 20% sesuai amanat konstitusi.*hahaha, kok informasi ini masuk di sini sih...* Pendidikan persamaan, berarti lebih penting lagi, karena ini berarti kesempatan kedua untuk mereka yang tak seberuntung dirinya yang selalu mendapatkan kesempatan pertama, meski dalam keterpencilan tempat kelahiran dan ketidakmewahan hidup orang tuanya.

Akhirnya si anak membatin: “Selamat tinggal benda ajaib-ku, semoga pengorbananmu tidak sia-sia. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Ihiks. Srot-srot. *aih, jijay. Eh, ngga ding, lha wong cuma dibatin thok, kekeke*”

Friday, August 07, 2009

Wednesday, August 05, 2009

Teringat Bapak Macapatan

Entah kenapa, tiba-tiba tembang macapat favorit Bapak yang sering beliau tembangkan ketika memangkuku (masih terbungkus selimut, memandangi orang-orang yang pergi ke sawah dan ke sekolah) di depan rumah di pagi hari dulu terngiang-ngiang.*umur berapa ya waktu itu...?*

Macapat yang beliau pilih berjenis pocung, dan bait pertamanya berbunyi begini:

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku...

*Terusane sudah lali semua...hwehehe*

Kira-kira kalo di translate mungkin "learning is by doing" kali ya? hihihi. Atau "knowledge is implemented by implementing"? hahaha...ada yang bisa ngasi terjemahan lebih bagus?

Apapun maknanya, it takes more than 20 years untuk memunculkan kalimat itu di memoriku dengan begitu kuat. Rasanya seperti flashback yang memantul dengan begitu kuat dan mengetuk-ngetuk lembut gendang telingaku, bertalu-talu, semoga untuk mampir di hati dan otakku.

Mungkin aku memang masih belum sepenuhnya bisa paham apa yang dimaksud si penulis tembang macapat...but i am in search for it.

Bismillah...

Wednesday, July 29, 2009

butterfly



nice sensation.
confusing conclusion.

dear God, please tell me what to do.
dear butterfly, please kindly let me know.

-------------------------------------------------------------------------------------
From Wikipedia - butterflies in the stomach

Butterflies in the stomach is a medical condition characterized by the physical sensation of a "fluttery" feeling in the stomach. This sensation can be a physical sensation related to the body's fight or flight response or it can be an ineffable experience related to the psychology of true love or nervousness.

Some believe that this is caused by the release of epinephrine (adrenaline) when one is nervous, pulling blood away from the stomach and sending it to the muscles. This reduced blood flow, in turn, causes the stomach to temporarily shut down, and possibly the reason for reduced appetite during love sickness.
Butterflies in the stomach is most often experienced prior to important events, related to nervousness and can be experienced in situations of impending danger.

Thursday, July 23, 2009

I want to be the girl in this song (despite the specific fashion item described)

Entah kenapa tiba-tiba pengen pasang status ini di facebook...hehe, dan supaya tidak heboh, aku post skelian the complete lyrics so that you'll understand how cool this girl is. :D

Buat yang belum pernah denger lagu ini, buruan google dan download ya...hehe, keren kok. :)

Enjoy!!

Short Skirt / Long Jacket

(Cake/Comfort Eagle)

I want a girl with a mind like a diamond
I want a girl who knows what's best
I want a girl with shoes that cut
And eyes that burn like cigarettes

I want a girl with the right allocations
Who's fast and thorough
And sharp as a tack
She's playing with her jewelry
She's putting up her hair
She's touring the facility
And picking up slack

I want a girl with a short skirt and a lonnnng jacket......

I want a girl who gets up early
I want a girl who stays up late
I want a girl with uninterrupted prosperity
Who used a machedy to cut through red tape

With fingernails that shine like justice
And a voice that is dark like tinted glass

She is fast and thorough
And sharp as a tack
She's touring the facility
And picking up slack

I want a girl with a short skirt and a lonnnnng.... lonnng jacket

I want a girl with a smooth liquidation
I want a girl with good dividends
And at the city bank we will meet accidentally
We'll start to talk when she borrows my pen

She wants a car with a cupholder arm rest
She wants a car that will get her there
She's changing her name from Kitty to Karen
She's trading her MG for a white Chrystler Laberan

I want a girl with a short skirt and a lonnnnggggggggg jacket

Friday, July 10, 2009

Treasuring Every Second in Jogja...:)

Here are what i treasure, during my two days home:

1. bercengkerama dengan 3 orang teman seperjuangan yang bersama-sama datang dari jakarta, sambil menunggu si thole menjemput.
2. sarapan gudeg bersama si adikecilucu, di tikungan terminal condongcatur. Pilihan tempat yang spontan, sangat sederhana, tapi rasanya ngga kalah mak nyuss dibanding resto gudeg ternama. :)
3. menatap kembali graha sabha pramana, dengan latar belakang sang merapi (it has always been my fave scene!!)
4. mencium tangan ibu dan bapak, yang pertama setelah 4 purnama.
5. berjingkat-jingkat menyentuh dinginnya air cangkringan dan akhirnya memutuskan untuk memakai air yang dipanaskan dengan tungku penuh kayu bakar.
6. beramah-tamah dan menyapa para tetangga, dengan bahasa Jawa yang tertata, the most sophisticated and graceful language can be spoken by my super-ungraceful tongue. :)
7. merajai kembali jalanan desa dengan tarikan gas dan injakan rem sang sahabat setia (feel the breeze, taste the freedom!)hohohoho.
8. menyaksikan Bapak yang menjalankan tugasnya sebagai ketua KPPS meskipun sedang sakit gigi, gara2 kejamnya udara Cangkringan belakangan ini. hehehe. Bapak, i am proud of you! *hiks, terharu deh*
9. mengamati para simbah, pakdhe, mbokdhe, pak lik, bu lik, mas, mbak, yang antri dengan tertib di TPS, menggunakan hak pilih mereka, memilih satu di antara tiga *i was wondering...what's on their mind?*
10.menyadari bahwa ternyata pilihanku berbeda dengan semua anggota keluarga, dan bahwa tidak ada lagi yang berusaha saling mempengaruhi. hehehe. keren kan?
11. menyenderkan diri di pangkuan ibu, as i always do *literally, hehehe*
12.memetik sebutir buah kersen/talok matang yang tersisa, langsung dari pohonnya, yang tumbuh di depan rumahnya di tepi sawah. :)
13. menemukan kembali alasan kenapa aku selalu lebih suka tempe yang dibungkus daun pisang daripada dibungkus plastik. :)
14. srawung, di manapun Anda berada, hehehe.
15. mencium wanginya minyak telon si keponakan bandel tercinta :D
16. membuat ibu dan bapak tertawa, no matter what...;)
17. berpamitan, mengucapkan salam, melambaikan tangan, kepada ibu dan bapak, sambil berkata (dalam hati) bahwa aku akan baik-baik saja dan akan berbuat yang terbaik untuk rakyat dan bangsa. hyahahaha *beberapa kata terakhir lebay*

My home. It is the place where the sun shines brightly, where the blue sky smiles comfortingly, where the air is clean and free, where the green-green grass and canopy embrace me warmly, where the people smiles sincerely....

Terima kasih untuk semua yang berkontribusi untuk 17 butir harta ini...:)

Alhamdulillah. :)

Friday, July 03, 2009

Sepuluh Tahun Menanti Faisal Basri

Hehehe...

Judulnya heboh kan? Sengaja donks!! *i am the queen of lebay-ness, hahahaha*

Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih ber-rok abu-abu, aku telah memendam pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat penting bagiku, namun aku tak tahu bagaimana menyampaikannya kepada orang yang tahu.

Aku masih ingat, aku menulis surat, dan dimuat. Mungkin dibaca oleh ratusan atau mungkin ribuan pembaca. Tetapi aku tak mengajukan pertanyaan itu di sana. Aku hanya menyayangkan dan mengungkapkan kekecewaan saja.

Hari ini, kelasku kedatangan Pak Faisal Basri. Sudah kupersiapkan diri untuk mengajukan pertanyaan *yang tidak relevan dengan seisi kelas* di akhir sesi.Hehehe.

Beliau tidak keberatan, dan beliau menjelaskan. Oooh...ternyata itu ya alasannya...memang kenyataan yang menyedihkan. Dan kini tinggal kita tunggu akhir kisahnya...

Sebuah ironi yang menyedihkan, jika mengingat kelahirannya yang begitu cemerlang dan gemilang. Mungkin memang sudah demikian kisahnya digariskan.

Anyway, tiga sesi tadi cukup menginspirasi dan membuat berpikir kembali. Meskipun jadi tambah pusing dan bingung lagi. :)

Tapi tetap saja, sesi berakhir dengan berkesan karena ditutup dengan foto bersama dan tanda tangan. hehehe, dan mungkin...sedikit norak dan kampungan?

Terima kasih untuk semua yang membantu pertanyaan sepuluh tahun itu menemukan jawabannya hari ini. :)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kesempatan seperti ini akan ada. Hehehe.

Wednesday, May 13, 2009

Doa Seorang Jelata Tentang Sebuah Drama

Karena gemas dengan semua drama seputar kandidat RI 2 hari ini, akhirnya aku nyerah mencet-mencet keypad dan gonta-ganti status di Facebook. Kukeluarkan laptop keramatku dengan dramatis (iya, yang keyboardnya disambung dan menimbulkan sejuta pertanyaan itu…kekeke), dan...bismillah.

Yang kumaksud dengan drama hari ini adalah:

(1) semakin menguatnya pencalonan Pak Boediono sebagai cawapres SBY;
(2) resistensi dan gertakan dari beberapa parpol yang sudah pernah menyatakan komitmennya untuk mendukung SBY;
(3) indikasi bahwa tampaknya PDI P akan akan berkoalisi dengan PD;


Why call it a drama??

(1) Pak Boediono bukan calon dari parpol, which is quite surprising karena selama ini sudah banyak parpol yang mengajukan kandidat cawapres ke SBY, dan karena calon dari parpol memang lebih recommended untuk kepentingan balancing posisi pemerintah baru nanti di DPR;
(2) Parpol-parpol yang kecewa dan marah tidak pernah merasa diajak berkomunikasi oleh SBY tentang nama Pak Boediono;
(3) The fact that Pak Boediono, meskipun bukan orang parpol, adalah “orangnya” Bu Mega, sehingga keputusan untuk mengambil Pak Boediono sebagai cawapres dipersepsikan oleh banyak orang sebagai langkah untuk memuluskan “koalisi” PD dan PDIP;
(4) Semua juga tahu bahwa PDI P adalah parpol yang paling berseberangan dengan PD, dan bahwa SBY pernah bilang bahwa “most likely Ibu Mega akan berkompetisi dengan saya”. Lah….??!!

My thinking on the drama?

(1) Mohon maaf Bapak, tapi SBY terkesan jumawa dan kepedean, dengan “meninggalkan” parpol yang sudah jelas-jelas menyatakan dukungan di pilpres yang akan datang. Be careful, Bapak, it’s politics you are dealing with, not mathematics;

(2) Sayang jika Pak Boediono dijadikan wapres, mengingat beliau adalah ekonom hebat dan teknokrat dengan integritas tinggi yang telalu berharga untuk sekedar dijadikan ban serep.

Mungkin pada titik ini kalian akan mendebat begini : “wapres sebagai ban serep kan cuma jaman suharto?!!”…well, coba ingat-ingat lagi. Sejak kapan wapres tidak menjadi ban serep? Hanya dan hanya jika ketika wapresnya adalah Jusuf Kalla. Kenapa JK tidak menjadi sekedar ban serep? Ada dua alasan menurutku: pertama, karena karakteristik JK yang memang suka “in charge” dan mungkin geregetan kalo ada yang tidak cak-cek (slemanese: cekatan); dan kedua, mungkin yang lebih penting, karena waktu itu Golkar sebagai partai JK berasal, adalah pemenang pemilu dan “penguasa” DPR yang tentunya sangat mempengaruhi posisi tawar wapres dalam “berbagi kekuasaan” dengan presiden. Jadi menurutku, the upcoming wapres, siapapun dia, jika presidennya SBY, maka dia pasti tidak akan sekuat dan sedominan wapres jaman JK. Lha wong, PD yang berjaya di pileg gitu loh…
Jadi, tolong dipikir lagi, what’s the point of making Boediono as the vice president? Bukankah justru akan lebih optimal hasilnya jika Pak Boediono tidak diganggu dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur BI atau posisi strategis lainnya? So, kesimpulanku, eman-eman jika Boediono hanya jadi wapres. Bapak, please do not leave the post…semoga ada yang menyampaikan ini kepada beliau (kali aja ada teman fesbuk yang kenal, kekekek, kan pak Boediono tiyang yogja…).
(3) Sebenarnya agak gegabah jika PD tidak mempedulikan dukungan dari partai-partai yang selama ini mendekati PD. Khawatirnya, rombongan kecewa ini akan berbalik haluan dan bisa menjadi ganjalan yang menghambat jalannya pemerintahan dengan berbuat yang tidak-tidak di DPR. Jika sudah seperti ini, meskipun demokrat mendominasi DPR, tetap saja bahaya jika program ditentang di DPR, mengingat tidak ada lagi partai besar seperti golkar/dukungan kursi koalisi yang mencukupi untuk dijadikan “bemper” (pinjem istilah JK). (I’ve been watching those sessions between the planners and the legislatures, and trust me, kalo sampe barisan sakit hati itu marah, rakyat jelata juga yang susah.)
(4) Kayaknya aneh jika PDI P gabung dengan SBY. Hehehe.*ngga ada anailisis untuk yang ini, pokoknya aneh aja...secara Anas Urbaningrum dengan kalem (tapi super nylekit) pernah bilang: udah lah, PDI P bakatnya jadi oposisi ya jadi oposisi aja….*
(5) Kemungkinan besar SBY tetap memenangkan pilpres (mau taruhan??kekeke), dan mungkin justru akan semakin besar peluangnya jika SBY menggandeng Boediono. Kenapa? Karena ini pemilu langsung, Bung, dan mungkin rakyat justru melihat pilihan SBY tepat untuk tidak menggandeng calon dari parpol. Dari kacamata orang awam (non parpol), teknokrat kalem seperti Pak Boediono mungkin terlihat lebih netral dan kompeten, serta dapat menghindarkan “dagang sapi” yang selama ini terkesan selalu terjadi dalam proses pembentukan kabinet. (capek deh...ket jaman nenek moyang kok ra mundhak-mundhak...)
(6) Dari kacamata seorang jelata semi-semi pengamat (maksudne opo?), aku tidak terlalu setuju dengan pilihan SBY maupun cara SBY menetapkan pilihan ini. Entah, mungkin aku terpengaruh oleh opini seorang pengamat yang mengatakan SBY sengaja mencari kandidat dari non parpol supaya dalam lima tahun ke depan bisa mempersiapkan “putra mahkota” dari kalangan internal partai demokrat, dengan cara tidak membiarkan kader partai lain menempati posisi no.2 paling strategis di negeri ini, yakni posisi wapres. Menurutku opini ini ada benarnya, dan bagiku cenderung mengkhawatirkan untuk keberlanjutan the free and fair democratic system di negeri ini. Soal cara menertapkan pilihan, aku merasa bisa memahami ketika beberapa parpol agak marah-marah, karena SBY tidka mengkomunikasikan ini secara langsung di depan. Menurutku, dalam sistem demokrasi, keterbukaan, termasuk antar mitra koalisi adalah salah satu hal terpenting. Jadi ketika akhirnya para parpol ini tahu berita tentang Boediono dari sumber lainnya…wah-wah…menurutku ini patut disayangkan…meskipun aku juga tidak setuju dengan cara parpol sakit hati itu marah-marah. Hehehe, kurang smart and educated gitu loh...:D
(7) Meski ngga setuju pilihan capresnya, tampaknya aku tetap akan memilih SBY. Hehehe. Ngga ada pilihan lain si, so far, kekekeke.


Jadi, sebagai rakyat jelata, sekarang aku berdoa saja:

(1) Semoga ada yang mengingatkan SBY untuk lebih rendah hati dan memahami tata cara dan etika berdemokrasi di negeri yang “panas” ini supaya tidak terlalu banyak pihak yang kecewa dan tersinggung;
(2) Semoga ada keajaiban agar talenta dan keahlian serta integritas Pak Boediono tidak tersia-siakan dalam 5 tahun ke depan;
(3) Semoga jika parpol menarik dukungan pun, mereka bisa menjadi oposisi yang menyehatkan dan bersikap fair;
(4) Semoga semua drama ini bisa dilalui tanpa pertumpahan darah dan kekerasan dan pada akhirnya akan membawa dampak yang baik bagi kelancaran pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.
(5) Semoga tetap ada yang mau menjadi opisisi, supaya pemerintah tetap bisa terkendali (bayangkan kalo semua masuk koalisi, bisa menjadi hegemoni nanti) , tapi tentu oposisi yang rasional dan intelek, dan mengerti makna menjadi oposisi dalam sistem demokrasi.
(6) Ya Allah berikanlah petunjuk jalan yang lurus dan kebijaksanaan kepada para pemimpin, calon pemimpin dan para penentu pemimpin kami. Aminn….


Sekian dan terima kasih.
wallahualambissawab.

*mohon maaf jika tidak seseru biasanya (halah) dan diformat bullet points, hahaha, biar cepat maksudnya*

Sunday, March 29, 2009

ANDAI AKU MENJADI: CALEG PEREMPUAN?



Dalam seminggu ini, semakin gencar teman-teman bertanya dan berkomentar soal 9 April. Ada yang tidak kebagian tiket pulang atau akan tiba di kampung halaman setelah jam 12 siang hari itu sehingga terancam tidak bisa menggunakan hak pilihnya (langsung disarankan nyari tiket promo dong), ada yang sibuk bertanya-tanya sebaiknya pilih siapa (hehehe, susah juga njawabnya nih), sampai yang bertanya bagian mana yang dicontreng (sampai hapal).

Ngga di taksi, di telepon dan di sms aku semakin gencar mengoceh mendorong mereka untuk pulang ke kampung halaman (dan tiba di TPS sebelum jam 12 siang, karena TPS buka jam 7-12) dan secara sadar dan bertanggung jawab menggunakan hak pilihnya 9 April ini. Selain mengulang-ulang kalimat: ”cukup contreng satu kali di nama/nomor caleg/lambang partai (yang terakhir agak tidak recommended karena bikin capek KPPS kale...) atau wajah calon anggota DPD, dengan gencar aku juga meneriakkan ”pilih caleg perempuan yang berkualitas dan ngertiin perempuan!”. hehehe. Sampai-sampai, ada yang komen di status facebook-ku: ”Kamu nyaleg ya? ” atau ”Wis, mbok nyaleg aja, tak bikinin foto narsis deh nanti!”. hahahaha, emangnya mau dipecat apa, berani-beraninya PNS berafiliasi dengan parpol...

Jadi, kenapa caleg perempuan? Begini ceritanya...


Sekitar sebulan yang lalu, bersyukur banget bisa ikut nongkrongin Rembug Nasional Perempuan, acaranya Elections MDP yang diselenggarakan sebagai respons terhadap putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan sistem kemenangan caleg berdasarkan nomor urut. Alasannya, sistem berdasarkan nomor urut dianggap bertentangan dengan konstitusi yang menjunjung tinggi kesamaan peluang untuk setiap orang tanpa diskriminasi. Keputusan yang cukup masuk akal (yah...berideologi liberal sih tapi..), dan yang jelas, tidak bisa diganggu gugat,...secara Mahkamah Konstitusi gitu loch...mana ada yang bisa menang lawan konstitusi...

Di sisi lain, konsekuensi luar biasa yang diakibatkan oleh keputusan ini adalah: kemungkinan besar tidak terpenuhinya target kuota minimal 30% keanggotaan perempuan di parlemen untuk pemilu tahun ini. Kenapa bisa demikian? Ya iya lah..., karena para caleg perempuan, yang sedianya bisa di-set up sebagai “legislatif jadi” dengan cara diletakkan di nomor urut 1 sampai 3 daftar caleg per partai, kini tidak bisa lagi mengandalkan cara ini untuk memastikan diri melenggang ke gedung perwakilan rakyat...Dengan kata lain, ngga ada lagi “diskriminasi positif” atau bahasa kerennya “affirmative action” buat para caleg perempuan kali ini...dan dengan demikian, agak sia-sialah upaya kuota minimal caleg perempuan yang dipakai oleh KPU dalam verifikasi parpol calon peserta pemilu lalu...

Sudah pasti, dengan keputusan MK ini, banyak caleg perempuan berteriak, mempertanyakan dan mengeluh...

Seperti dalam talk show di acara rembug tadi. Sejumlah pembicara: seorang artis cantik yang menjadi caleg untuk sebuah partai besar untuk yang kedua kalinya (setelah membaca Andrea Hirata’s “Sang Pemimpi”, kami menyimpulkan dia sebagai “Dayang bercarik merah”, hehehe, buat yang ngga paham, ayo baca dulu bukunya...); seorang caleg incumbent dari Sleman (gile, what a coincidence, tempet saya bakal nyontreng nih); seorang akademisi pengamat masalah perempuan dan seorang aktivis LSM Perempuan.

Acara yang menghadirkan para caleg perempuan from all around the archipelago ini bertujuan untuk mencari solusi bareng, dan yang pasti sih membangkitkan semangat para perempuan yang pastinya sempat kecewa berat dengan keputusan Mahkamah Konstitusi tadi.

Sungguh disayangkan, si artis “dayang bercarik merah” itu tidak berbicara seperti harapan. (harapan SAYA mangsudnya). Iya sih, kemampuan public speakingnya tertata baik...namun most of the time she was complaining, about this and that. Antara lain tentang bahwa tetap saja money rules in politics, bahwa orang mengira dia banyak duit dan gampang ngumpulin suara padahal sebenernya tidak, masyarakat/calon konstituen yang dinilai terlalu matre dan njaluk-njaluk (padahal bukan sepenuhnya salah masyarakat juga, dan juga bagaimana dia merasa agak dizolimi oleh partainya sendiri 5 tahun lalu ketika dia menjadi vote getter yang cukup signifikan tapi gagal menjadi legislator karena waktu itu dia ditaruh di nomor urut 6.

Malang nian nasibnya memang…tapi, hellooo, those women candidate were not here to listen to your complaints and to be discouraged by your pessimism and that dark look on your face! Plis deh! (untuk mendramatisir kalimat ini, please kindly pronounce it in Aming’s style, kekekeke-red).

Yang lebih parah lagi, si carik merah ini malah sama sekali tidak mengangkat dan menyinggung apa istimewanya caleg perempuan, atau isu-isu kemaslahatan rakyat yang menjadi concernnya…blas, sama sekali ngga disinggung (kecuali aku yang budeg atau ketiduran, which was quite impossible karena aku nongkrong lumayan dekat panggung). Ya, karena lebih fokus mengkomplain dan mengkritik, beliau jadi lupa hal-hal yang amat sangat penting.

Satu catatan lagi, justru kesan yang saya tangkap dari gaya ngomong si carik merah adalah sok smart dan malah menjadi cenderung arogan…hehehe. Ya maaph yah, saya rasa sih, membangun imej smart tidak harus dengan membuat diri kita terlihat arogan. This is Indonesia, Bung! Kerendahan hati, ke-lembahmanah-an dan filosofi padi yang semakin menunduk ketika semakin berisi masih menjadi panduan. Justru ketika seorang caleg tidak “lembah manah”, apalagi dia perempuan, saya rasa orang lain (apalagi para pria, hayo ngaku…!! Hehehe) akan semakin cenderung tidak memfavoritkannya. Kesian deh…

Pembicara kedua saya rasa lebih mendingan, meskipun bukan artis dan datang dari Sleman, the place where I was born (halah, info ga penting, hehe. Ps: buat yang pade belum tahu Sleman itu dimana, silakan di-google).

Si ibu incumbent clearly stated isu-isu yang menjadi concernnya selama ini di DPRD Sleman, yakni yang terkait dengan PKK, kesenian, dan hal-hal yang dekat dengan kebutuhan mendasar ibu dan keluarga, sehingga dia di-titeni sebagai spesialis isu PKK di DPRD. Ibu ini juga menggarisbawahi bahwa sebagian caleg perempuan yang berkampanye bersamanya masih kesulitan merumuskan isu yang menjadi concern spesifik mereka, bahwa mereka masih suka ”saling menyenggol, tengok kanan-kiri dan berbisik-bisik satu sama lain, saling bertanya jawaban terhadap pertanyaan audiens ketika sedang kampanye” (hehehe, pasti kebayang kan pemandangannya gimana?). Beliau juga menekankan perlunya peran koordinasi dari institusi yang netral (non-parpol) untuk menyuarakan perlunya milih caleg perempuan. Nah, yang kayak gini ni, bisa dibilang berkualitas.

Ibu akademisi menyampaikan tinjauan kritisnya bahwa terkadang tidak otomatis legislator perempuan lebih ngertiin kebutuhan perempuan, dan ini sudah sering terbukti dari banyaknya UU untuk kesejahteraan perempuan yang juga diinisiasi oleh bapak-bapak. Ibu LSM memaparkan data-data statistik keterwakilan perempuan di dewan, dan menyemangati para caleg perempuan untuk tidak patah semangat.

Meski hanya nongkrongin sebagian dari seluruh rangkaian acara, sambutan tokoh, ceramah narasumber, obrolan ringan dengan ibu-ibu caleg di mejaku dan kontemplasi yang megajakku flashback ke kelas Gender dan Politik bersama Mochtar Mas’oed dan Eric Hiariej jaman kuliah dulu membawaku pada kesimpulan ini:

1. Caleg perempuan, meskipun tidak semuanya, are more likely lebih sensitif dengan isu-isu yang terkait dengan perempuan. Ya bagaimana tidak, kira-kira lebih gampang mana ya, berempati dengan sesama jenis atau lawan jenis?

2. Memilih caleg perempuan, meaning memilih satu paket. Kenapa? Karena sebagai ibu atau calon Ibu, logically, perempuan akan memikirkan anak dan pada akhirnya seluruh anggota keluarga. Kira-kira, siapa yang akan lebih sensitif dan memperhatikan angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk, pendidikan anak, angka aborsi kalau bukan ibu/perempuan sendiri, yang lebih dekat dengan pengalaman-pengalaman itu? Pastinya, caleg laki-laki juga ada yang concern dengan isu-isu ini, tapi ada hal-hal lain yang akan lebih mereka prioritaskan yang mungkin sifatnya lebih makro.


3. Setuju tidak, jika dikatakan bahwa caleg perempuan lebih susah kecemplung ke dunia suap, skandal, korupsi dan kompromi-kompromi haram lainnya? Menurut saya sih, dibanding pria, perempuan akan lebih takut dan ragu-ragu mengambil resiko dengan hal-hal seperti ini. Well, tuntutan hidup laki-laki kan lebih besar, dan pria juga lebih berani mengambil resiko (hehe, bener ngga ya?). Yang jelas, katanya sih, godaan hidup kan ada tiga: harta, tahta, dan wanita. Paling tidak, godaan yang ketiga ini tidak akan berlaku untuk caleg perempuan dong...hehehe...(emangnya al amin...capek deh...)Terbukti, sampai saat ini, belum ada legislatif perempuan digelandang KPK kan? (ps: Artalyta perempuan tapi bukan anggota DPR).

4. Keterwakilan perempuan (yang berkualitas) di parlemen sebagai cara untuk mengubah wajah dan kebijakan parlemen menurut saya bukan omong kosong. Mari kita belajar dari Swedia misalnya, yang punya representasi perempuan sangat tinggi di parlemen. Bahkan, sekitar 5 tahun yang lalu, keanggotaan perempuan di parlemennya lebih dari 50%!! Hasilnya, muncul kebijakan-kebijakan yang sangat pro perempuan. Antara lain terkait dengan hal-hal makro seperti...sampai hal-hal yang kecil, yang mungkin terkesan remeh-temeh, seperti kebijakan untuk membuat childcare di tempat kerja. Well, kesannya remeh temeh ya? Tapi coba liat lagi deh dalam 20-30 an tahun ke depan, anak-anak yang mendapatkan perawatan yang memadai sehingga memiliki kecerdasan yang baik ini yang akan menentukan sejarah bangsa Swedia! Hayooo, masih nganggep yang beginian ngga penting?!

5. Caleg perempuan insya Allah akan lebih ”nothing to lose”. Kenapa bisa bilang begitu? Well, untuk berkontribusi, seorang perempuan tidak harus menjadi caleg. Ketika toh akhirnya dia gagal menjadi legislator, masih begitu banyak jalan lain untuk berkontribusi terhadap rakyat dan bangsa, dan yang pasti KELUARGA. Sejak tiga tahun lalu, saya sampai kepada kesimpulan bahwa, sehebat apapun karir dan prestasi sebesar apapun kekuasaan seorang perempuan, menjadi istri dan ibu tetap akan menjadi achievement terhebat dan sangat penting dalam hidupnya. Jika misalnya, sebagai perempuan sebagai seorang legislator atau project manager atau mungkin bahkan presiden belum tentu berhasil menciptakan perubahan perilaku di komunitas atau bangsanya, sebagai seorang ibu, perempuan tersebut diberi wewenang dan kesempatan oleh Allah untuk memastikan bahwa logical framework dan cita-cita idealnya bisa ditanamkan dalam jiwa anak-anaknya. Jika semua ibu bisa melakukan peran ini dengan sempurna, mungkin dalam satu generasi ke depan tidak perlu lagi ada undang-undang ini dan itu untuk mengubah perilaku bangsa menjadi lebih baik. Pasti sudah mendengar hadits nabi “surga berada di telapak kaki ibu” kan? Selain tentang respek kepada Ibu yang memang 3x lipat dibanding kepada Bapak, ini juga bisa dipahami sebagai “sepak terjang dan didikan ibu akan menentukan apakah anaknya akan berjalan di jalur yang benar atau salah”.

6. Memilih caleg perempuan tentunya tidak asal memilih dong! Caleg perempuan yang berkualitas dan ngertiin perempuan, itu yang mesti dipilih. Sayangnya seringkali, perempuan-perempuan yang dicontohkan “sukses” dalam dunia politik justru perempuan-perempuan yang “menjadi lebih macho daripada laki-laki”. Golda Meir (mantan PM Israel) yang bertangan besi dan tega menggempur negara-negara Arab dalam perang Yom Kippur dan oleh David Ben-Gurion dia disebut sebagai "satu-satunya lelaki di dalam Kabinet (Israel)." (buset dah!) ; Margaret Thatcher (PM Inggris) yang terkenal dengan Thatcherism yang super liberal dan “its successes were obtained only at the expense of great social costs to the British population” sehingga membuat 28% anak-anak di inggris hidup di bawah garis kemiskinan.

Sebagai seorang perempuan, saya akan lebih bangga dengan pemimpin perempuan yang bangga dengan sifat-sifat yang identik dengan keperempuanannya. Sifat-sifat yang welas asih, nurturing, lebih memilih negosiasi dan resolusi daripada konfrontasi (HI banget, kekeke), peduli, melindungi, lebih ramah lingkungan,...antara lain adalah sifat-sifat positif yang perlu dipertahankan itu. Jika dikatakan perempuan lebih emosional, mungkin memang benar. Tapi itulah kenapa perempuan perlu bermitra dengan laki-laki, agar bisa saling melengkapi. Karena meskipun lebih rasional, kepemimpinan laki-laki perlu dilengkapi dengan sifat-sifat perempuan/ibu yang positif tadi. (Perlu ditegaskan, perempuan dan laki-laki seharusnya bermitra, saling melengkapi dan saling mengimbangi dalam mengoptimalkan peran, bukan bersaing untuk memainkan peran dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di gedung parlemen ini). In brief, salah satu kriteria caleg perempuan yang keren buat saya adalah yang berani dan sadar “merayakan (celebrating)” keperempuanan dan segala sifat-sifat yang melekat pada dirinya untuk kemudian memberikan kontribusi positif dengan sifat-sifat ini.

Weleh....tulisanku panjang bener yah...hehehehe....ngga nyadar udah jam 3 pagi kekekeke. Yah, demi kehidupan rakyat dan bangsa yang lebih baik, apa sih yang enggak? (halah, lebaybinti exaggerating...kekeke).

Jadi, 9 April 2009, datang ya ke TPS, antara jam 7 sampai jam 12, gunakan hak pilihmu dengan sadar dan bertanggungjawab. Pilih caleg perempuan yang berkualitas dan ngertiin perempuan ya!
Kalo bukan kita yang peduli, sopo meneh?
Wallahu’alam bissawab.

Friday, March 27, 2009

AKU BANGGA MENJADI WARGA INDONESIA (after this 10 years...)

Bismillah...

Dengan meminta izin dari Ibu Direktur Politik dan Komunikasi, Bappenas, saya mem-posting kata pengantar beliau untuk modul civic education berjudul "Aku Bangga Menjadi Warga Indonesia", yang diterbitkan dengan dukungan Program Elections MDP.

Buat Anda yang belum merasa bangga menjadi warga Indonesia atau belum ngerti kenapa kita butuh dan perlu ber-demokrasi, atau kenapa "demokrasi ditetapkan sebagai alat sekaligus tujuan"...bacalah tulisan ini...:)

Insya Allah, setelah itu Anda jadi bangga jadi wong Indonesia, penasaran dengan modulnya, atau paling tidak berpikir dan bertanya...

selamat membaca ya!! :D

-------------------------------------------------------------------------------------


Pengantar Modul
AKU BANGGA MENJADI
WARGA INDONESIA


Tahun 1998,
.....
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak,
doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
.....

(Taufiq Ismail, puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”, 1998)

Puisi Taufiq Ismail ini ditulis saat Indonesia berada pada masa peralihan politik yang sangat mengguncangkan, setelah kerusuhan ”anti-Cina” pada bulan Mei 1998 dan kejatuhan Orba pada bulan yang sama. Saat itu, nama Indonesia di luar negeri sangat direndahkan karena gencarnya media massa yang memberitakan pembakaran, pembunuhan, perkosaan dan perusakan properti orang-orang keturunan Tionghoa di Jakarta. Waktu itu juga disorot Bandara Sukarno-Hatta yang selama berhari-hari penuh orang keturunan Tionghoa yang lari ke luar negeri karena takut. Banyak orang yang malu menyatakan dirinya orang Indonesia di luar negeri, karena akan menjadi bahan cemoohan orang sebagai bagian dari bangsa yang rasistik, tidak toleran dan tidak tahu menghormati minoritas. Selain itu, Taufiq juga malu karena korupsi yang masih merajalela, rakyat miskin yang selalu tersisih oleh penggusuran dan ketidakpedualian, serta banyak lagi ketimpangan sosial ekonomi.

Rasa malu Taufiq Ismail waktu itu adalah rasa malu semua kita yang masih waras dan sadar atas nilai-nilai dasar kebangsaan dan kemanusiaan yang ditanamkan para pendahulu bangsa, Sukarno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain, saat mendirikan bangsa pada 1945. Kemanusiaan yang seringkali terlupa selama beberapa dasarwarsa terakhir, pada saat orang hanya mengutamakan persatuan dan sentralisasi pembangunan. Pada saat rakyat seringkali merasa dikorbankan untuk kepentingan pembangunan fisik semata.


Tahun 2009,

Pertanyaannya, setelah 10 tahun berdemokrasi, apakah warganegara Indonesia sudah lebih bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia dibandingkan dengan sebelumnya. Atau sama saja seperti dulu. Setiap orang tentu memiliki jawaban subjektif sesuai dengan pengalaman pribadi menjadi bagian dari apa yang kita namakan Indonesia.
Lalu, apakah maknanya sebuah ”aku” dan perasaan ”bangga” dalam proses membangun sebuah ”bangsa” yang maju dan demokratis. Apa pentingnya individu pada sebuah proses nation and character building? Pada sebuah masyarakat yang otoriter, ”aku” (”a” kecil) sama sekali tidak penting. Pada sebuah negara komunis, ”aku” (”a” kecil) juga tidak penting. Yang paling penting dalam sebuah masyarakat otoriter atau negara komunis adalah kolektivitas di mana kepentingan perorangan melebur ke dalam kepentingan bersama, milik ”aku” adalah menjadi milik ”masyarakat” pada saat yang sama, komunalitas adalah segala-galanya.

Apa yang akan terjadi pada masyarakat yang tidak menjadikan ”aku” penting? Yang terjadi adalah potensi terjadinya stagnasi dan kegagalan yang menghancurkan masyarakat pada ujungnya. Hal ini terjadi karena sistem politik ototiter melupakan konsep dasar yang asasi, bahwa pada awalnya individulah yang membentuk masyarakat, bukan sebaliknya.

Konsep ”aku” dan ”bangga” berjalan seiring dengan nilai-nilai demokrasi di mana hak-hak kepemilikan pribadi dihormati, keyakinan politik dan keimanan pada agama di junjung tinggi, hak atas keamanan dan bebas dari rasa takut dihargai, dan penghargaan pada kerja dan karier disesuaikan dengan tingkat profesionalisme dan pendidikan orang perorangan. Hanya negara yang menghormati ”aku” akan mendapatkan rasa hormat dan penghargaan dari warganya.

Pada dasarnya demokrasi modern adalah sebuah sistem politik paling sukses menggabungkan antara naluri untuk melalui paham nasionalisme untuk menjadi ”bangsa” dan keinginan untuk dihargai sebagai ”aku” secara individual. Itulah salah satu alasan mengapa Naskah Proklamasi Indonesia yang dibacarakan Bung Karno pada 17 Agustus 1945 diawali dengan kata-kata ”Kami bangsa Indonesia...”. Walaupun demikian, pada sisi lain dari mata uang, ”kami” tidak dibiarkan secara bebas meniadakan ”aku”. Oleh karena itulah, konstitusi Indonesia melindungi secara khusus HAM dan kebebasan berpendapat setiap orang. Oleh karena itulah pemilu demokratis diadakan di mana suara perorangan menentukan perwakilan, lembaga-lembaga demokratis diciptakan, pemisahan kekuasaan diatur. Karena demokrasi menganggap semua manusia sama kuat dan sama lemahnya, maka kepemimpinan mesti digilir, lembaga negara mesti diawasi.

Pada sebuah sistem demokratis pula, kebanggaan dipelihara sedemikian rupa agar tidak menjelma menjadi sikap-sikap chauvinistik, kebanggaan sempit sebagai anggota sebuah bangsa. Demokrasi tidak membenarkan superioritas suku, ras dan agama. Demokrasi memelihara agar kebanggaan tidak menjadi sikap-sikap fasistik dan militeristik, karena demokrasi tidak membiarkan sebuah kelompok berkuasa selama-lamanya. Karena dalam demokrasi sebuah lembaga negara tidak dibiarkan menjadi dominan tanpa tandingan, karena demokrasi menyediakan proses untuk melakukan checks and balances dalam sistem politik.

Hal yang paling penting dari semuanya, hanya dalam sebuah demokrasilah orang dapat menyatakan secara pasti sesuai dengan nilai-nilai pribadi yang diyakininya, apakah seseorang benar-benar bangga menjadi anggota warga sebuah bangsa atau hanya pernyataan bangga yang dikeluarkan karena rasa takut dan ikut-ikutan arus orang banyak. Karena demokrasi menjamin orang untuk berpendapat secara bebas dan terbuka.

Demokrasi menjamin hak orang yang berkata jujur apabila dia bangga menjadi warganegara Indonesia. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia karena Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, berani bertindak terhadap koruptor kelas tinggi. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden berjalan secara demokratis sehingga mendapat pengakuan di dunia internasional. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena memiliki lembaga-lembaga negara seperti Mahkamah Konstitusi (MK) yang mampu berperan sebagai pengawal konstitusi dan seterusnya. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, apabila anak Indonesia berhasil memenangkan kejuaraan olimpiade matematika internasional beberapa tahun berturut-turut.

Situasi yang sama akan terjadi apabila orang menyatakan tidak bangga menjadi warganegara Indonesia. Demokrasi tidak akan menangkap dan memenjarakan orang yang menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia oleh berbagai alasan. Orang boleh menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, apabila tempat tinggalnya digusur paksa tanpa peringatan terlebih dahulu. Orang boleh menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena apabila dalam mengurus surat-surat keterangan jati diri dia harus mengeluarkan ongkos yang jauh melebihi dari biaya administrasi yang ditetapkan oleh peraturan. Orang boleh menyatakan tidak bangga menjadi warganegara Indonesia apabila tim sepakbola ataupun regu bulutangkis nasional kalah di dalam turnamen-turnamen internasional, padahal dulu selalu menang.

Pada kondisi demokratis demikian itu pula waktu mantan Presiden AS John F. Kennedy menyatakan ”Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country,” pada tahun 1961. Orang yang bangga menjadi orang AS atau orang Indonesia tentu akan berbuat sesuatu yang lebih baik lagi untuk memelihara dan menjaga kebanggaannya pada setiap kesempatan. Bahkan tanpa diminta sekalipun. Sebaliknya, mereka yang lebih sering disakiti selama menjadi warganegara Indonesia, wajar apabila dia tidak merasa bangga dan apatis terhadap apa saja yang terjadi pada negerinya, baik atau buruk.

Negara Indonesia yang secara demokratis berusaha sungguh-sungguh memenuhi janji konstitusi UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, tentu akan lebih mampu menjadi subjek rasa bangga masyarakat kepada Indonesia. Negara Indonesia yang secara demokratis berusaha sungguh-sungguh memenuhi amanat konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, tentu akan lebih mampu menjadi subyek rasa bangga dari masyarakat warganegara Indonesia.

Oleh karena semua uraian dan pertimbangan di ataslah, maka Indonesia perlu mempertahankan demokrasi dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Kebanggaan menjadi warganegara di dalam demokrasi bersifat lebih jujur dan otentik. Apa saja yang buruk di dalam demokrasi akan terlihat lebih transparan, sehingga lebih mudah untuk mencari jalan memperbaikinya secara bersama-sama. Demokrasi berusaha mewujudkan kebanggaan orang perorangan menjadi kebanggaan bersama. Demokrasi juga adalah sistem politik dan pemerintahan yang berusaha memelihara keseimbangan antara pemenuhan hak dan kewajiban antara negara dan masyarakat warga untuk menuju kehidupan bersama yang lebih sejahtera.

Modul ”Bangga Menjadi Warga Indonesia” adalah sebuah panduan bagi siapa saja yang mencintai Indonesia agar dapat memasuki ruang publik yang bernama Indonesia secara lebih dewasa, bijaksana dan lapang dada. Modul ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dibaca semua kalangan, berisikan pengetahuan ringkas dan percikan-pecikan mutiara pemikiran para intelektual, negarawan, budayawan, sastrawan Indonesia dan dari mancanegara tentang prinsip-prinsip kehidupan bernegara, berbangsa, juga tentang demokrasi, masyarakat sipil, pemilu dan aspek-aspeknya, serta berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan bersama lainnya.

Modul ini adalah satu kontribusi untuk membangun pemahaman yang lebih baik terhadap demokrasi, karena tanpa demokrasi, upaya membangun kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan akan gagal. Demokrasi merupakan alat sekaligus tujuan pembangunan jangka panjang masyarakat Indonesia. Negara kesejahteraan dan demokrasi adalah dua sisi dari satu mata uang. Kegagalan mencapai salah satunya, akan menggagalkan yang lainnya.

Demikianlah, modul ini disampaikan kepada khalayak dengan seluruh itikad baik, harapan dan kejujuran untuk meningkatkan pemahaman, memelihara dan meningkatkan rasa bangga menjadi dan memiliki Indonesia, bangga berjalan di luar negeri dengan menyebut diri sebagai orang Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Sunday, February 08, 2009

Puisi Lebay Seorang Arai

Puisi untuk satu-satunya cinta dalam hidupku:
..............................................
Rampas jiwaku!
Curi masa depanku!
Jarah harga diriku!
Rampok semua milikku!
Sita!
Sita semuanya!
Mengapa kau masih tak mau mencintaiku?!

---------------------------------------------

Puisi lebay di atas dikisahkan dibacakan oleh Arai, sepupu Ikal, dalam buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul "Edensor" (halaman 94).

Agak norak, terlalu lugas untuk sebuah puisi, jadinya kurang nyeni.
Tapi jujur sekali.

Apakah menurutmu puisi ini hanya berhak ditulis oleh seorang laki-laki?
Apa yang dunia katakan jika Arai seorang perempuan?

Friday, January 23, 2009

A Letter to President Barack Hussein Obama

Dear President Barack Hussein Obama,

First of all, congratulations for your winning on the November 2008 presidential election and for your inauguration as the US’s 44th president.

I am not an American, I’m only one of those millions of non-US citizen who are happy with your winning and inauguration. To make it more specific, I am an Indonesian, who happen to have international relations as academic background that I’ve been an avid observer of the US political dynamics for more than 5 years. 

Currently I’m in my first year as a civil servant in the national development planning agency of the Republic of Indonesia, in the Directorate for Political Affairs and communications. My office’s located in the neighborhood that might be familiar to you, in Menteng, central Jakarta. It takes less than 15 minutes if you walk from my office to your old elementary school, The SD Menteng Besuki.

I wrote this letter due to what happened and what I felt after the 4th of November. After the result of your election was announced, as you’ve might aware of, most part of the world enthusiastically celebrated it, including many people in my country. I can tell you how the media was overwhelmed by breaking news, features, live debates, comments etc related to this historical elections. I can tell you how so many people in my country got very excited to discover that the President-elect of the world’s most powerful and most influential country has once spend his childhood in their country. Not to mention that you brought “believe in change” as your main vision of the coming United States of America. I can also tell you that our televisions broadcasted your inauguration in a very enthusiastic details, and I am telling you that I was only one of maybe thousands of Indonesians who stayed awake until 2 am just to watch your inauguration. I think this is the very first inauguration that is anticipated even more greatly than the FIFA world cup final match.

However, at the same time, many people including my friends asked me one important question which latter became a trigger to write this letter and to really send it to you through facebook. Their question was: Is there any impact of Obama’s winning for us in Indonesia?

There might have been thousands of theories, analysis and prediction based on very detailed calculation and data, but I want to talk to you through this letter not as a political scientist or international relations observer. I want to talk as myself.

I am a Muslim. In my religion, we believe that there is no single leave fall from its trunk without His knowledge. It means, there is nothing in this world happen as a coincidence. Everything happen for reasons, and I believe that they’re good reasons. What I want to say is, I believe that there must be a reason why it is Barack Hussein Obama who won the US 2008 presidential election. There must be reasons why Barack Hussein Obama was born from Kenyan-Muslim father & once had an Indonesian-Muslim step father, has a half-Indonesian Buddhist sister who married to a Chinese, & was raised in Indonesian-Hawaiian multicultural environment.

I believe that God’s willing is already written in very careful and specific details. There must be a reason that you are the one who were elected when hatred, animosity, injustice, and violence and the so-called “clash of civilization” became the main theme in human relations.

Just like many other people all around the world, I remind myself not to keep my hope too high. But few days ago I realized that I can make my hope much more realistic if I write this letter.

I started to conceptualize this letter since your winning last November, what you’ve mentioned in your inauguration has even made it clear that I can keep my hope for you. I don’t know how to explain what I thought, but I think there are several important aspects in you that I always thought as some reasons why you’re destined to be the US’s 44th president.. you are not necessarily directly related to this aspects, but as I’ve mentioned above, these aspects have special or unique connection with you or your background. Those aspects are:
• Islam
The religion which is currently perceived in a very complicated way by most of Americans (and maybe the rest of the world), yet, Islam has played and will still play important role in shaping the world’s future in many ways. Although you’re not a Muslim, I believe that your indirect connection with the believe and its believers will play a role in building the bridge of understanding between Islam and the rest of the world.

• Indonesia
The third largest democracy (after US and India), which is interestingly and uniquely the world’s largest Muslim population, and consequently has a potential to promote peace and understanding among nation. Indonesia is probably the most potential anchor to keep the high hopes for democracy in South East Asia. Your special connection with the country (and now its people as Indonesians are so excited with your presidency), has stimulated my brain to think about so many exciting and benevolent possibilities in the future.

• Women
I’ve read in many articles that Barack Obama inherits the best of him from his Mom, he was raised by his grand parents and very close to his grand mother, and he’s currently the only gentleman in his small-happy family. I believe that the wisdom of women which can be learned from their nurturing nature will generate a wiser leadership.

• African descendant
As I watched the CNN live last night, again, I was reminded that you are the very first African-American president, and it IS already a great change. (I still remember that my lecturer used to tell us about the “WASP” or white-anglosaxon-protestant domination in the US presidency).

• Multiculturalism, pluralism
Indonesia, Hawaii, multicolored family and relatives, “strange” name, relatives with different religion as your background, I believe, will help you understand better what the word “multiculturalism” means.


Your inaugural speech strengthened those thoughts. When you mentioned …we are the nation of Christian and Muslims …I believe that you do have a great concern on the issues I considered important for the future of peace and understanding.

On the other hand, I believe that you still need to listen more from more various people, not only for certain sources. I read the first chapter of your book, The Audacity of Hope excitedly since you dedicated the chapter to talk about my country, Indonesia. (Fyi, the book is translated to Bahasa, but I think it will be better to read the English version, although it’s not so easy to get the English copy here). I concluded that you have a concern about the changing situation in Indonesia. I feel that your concern is also related to the fact that there is a growing number of Muslim women wearing the Islamic clothing and its relations with the growing “fundamentalism”. Since the first time I read the paragraph on this issue, I was imagining a conversation with you, discussing about my opinion on this issue. Yes, there has been growing number of Muslim women wearing Islamic clothing. I am one of those women. Many people, who do not understand, think that we are forced to wear such clothing. Many people perceive the clothing as a symbol male’s domination. I cannot deny that in some cases, in some countries, this thought may (sadly) be true, but you also need to hear from woman like me, who choose to wear the clothing. It is my own decision, based on my belief that I respect my self, my fellow human beings and my God by wearing such clothing. By wearing such clothing, I choose to be valued as a woman who has heart and brain, not merely valued as a physical creature. By wearing the clothing I am showing the world that I am proud to be a Muslim woman, who is proud about the noble teaching of the religion which I believe as the “blessing for the universe” (rahmatan lil alamin). The clothing reminds me to walk and talk based on the noble values, even though I admit it is not always successful for me. :) Maybe you will not believe that I became more determined about the Muslim clothes I wear after attending the “Gender & Politics” classes in my university. The lectures actually convinced me that Islam has it own way to respect women. Our holy book tells us to always think and think, and I am happy with this instructions. The deeper I think about the teaching on Islamic clothing, the more I believe that to wear the clothing is the option that I need to choose. I have more stories, arguments, opinion and et cetera to share with you on this matter, but I will not write it here. :) I believe that many Muslim women in Indonesia also made their own decision like me, and you need to hear them.

I can also tell you that these women are educated, intelligent, raised in democratic environment and very open-minded. My father and brothers never told me to wear the clothing, I was graduated from a quite ‘leftist’ campus, once joined exchange student program in a quite westernized country, I once worked with the American Quakers on peace building and currently working in one institution which is pioneering the efforts to consolidate democracy in Indonesia. And through all these experiences, I never regret my decision to wear this clothing and even I’ve become more and more grateful that I’ve made the decision. (oh, I almost forgot to mention that I listen to American music and watch American movies a lot ;)

I do hope someday that you can visit your old Menteng neighborhood and drop by in my office and discuss many issues more deeply so that I can show my friend that Obama’s presidency does bring good influence for Indonesia. ;) I also dream about visiting your country someday in a diplomatic mission, promoting Indonesia’s democratic success or promoting about the idea that Islam and democracy can get a long with each other in a constructive and positive relationship.

Well, I think the letter is already too long. :) So, I am wishing you all the best for the new term. I hope that your tenure will contribute to the emerging understanding, justice, prosperity and peace, not only for the Americans but also for the rest of the world. :) Wish a good health for you, Ibu Michelle, Malia and Sasha too. :)

Thank you for reading my letter. :)


Sincerely,

Dyah Widiastuti

Saturday, January 17, 2009

WHAT COLOR IS MY AURA?: YES, IT’S GOLD! :)




We don't need a psychic to tell us that you're giving off a Gold vibe. You couldn't ask for a better colour - a glistening gold aura is as good as it gets. A lively blend of yellow and orange, gold people are happy, playful, energetic, sensitive, and generous. Always up for adventure, you'd give a friend in need the shirt off your back. You're spiritual, too - all those halos in old paintings aren't coloured gold by coincidence. Almost childlike in the carefree, joyful way you live your life, you're popular and outgoing with your large circle of friends. Chances are you're so full of light and energy that you sometimes find it hard to sit still and chill out. Instead, you're constantly looking for excitement, no matter how risky or impulsive the occasion. Happy-go-lucky and always laughing, you truly are as good as gold.

Note:

Hehehe...analisa di atas bukan kata saya lo..tp kata facebook. Bener banget ngga sih? hehehehe. di amin-in aja deh...

Monday, January 05, 2009

Bab 7: Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerja Sama Internasional


Pernahkah terpikir olehmu, kenapa Pak Marty mengangkat tangan di foto ini, sendirian?

Mungkin kau sudah tahu bahwa saat itu beliau menyuarakan bahwa Indonesia abstain terhadap resolusi yang mengusulkan penambahan sanksi terhadap Iran terkait kasus pengembangan nuklirnya.

Mengapa repot-repot?

Karena Indonesia punya cita-cita dalam politik luar negerinya, untuk menjadi negara yang dikenal identitasnya sebagai The Third Largest Democracy, tapi sekaligus The World's Largest Muslim Population, untuk menjadi moderating voice, untuk menjadi campaigner reformasi PBB yang proaktif, untuk menjadi inisiator penggunaan dialog dalam resolusi konflik, dan pada akhirnya ... untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Jadi, jika dirimu berpikir bahwa Pak Marty mengangkat tangan untuk sebuah kesia-siaan atau untuk sekedar "beda ajah"...think again.

(weleh, kalimat penutupe national geographic bangedh yah...hehehe)

ps: i love this picture :)