Friday, March 27, 2009

AKU BANGGA MENJADI WARGA INDONESIA (after this 10 years...)

Bismillah...

Dengan meminta izin dari Ibu Direktur Politik dan Komunikasi, Bappenas, saya mem-posting kata pengantar beliau untuk modul civic education berjudul "Aku Bangga Menjadi Warga Indonesia", yang diterbitkan dengan dukungan Program Elections MDP.

Buat Anda yang belum merasa bangga menjadi warga Indonesia atau belum ngerti kenapa kita butuh dan perlu ber-demokrasi, atau kenapa "demokrasi ditetapkan sebagai alat sekaligus tujuan"...bacalah tulisan ini...:)

Insya Allah, setelah itu Anda jadi bangga jadi wong Indonesia, penasaran dengan modulnya, atau paling tidak berpikir dan bertanya...

selamat membaca ya!! :D

-------------------------------------------------------------------------------------


Pengantar Modul
AKU BANGGA MENJADI
WARGA INDONESIA


Tahun 1998,
.....
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak,
doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
.....

(Taufiq Ismail, puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”, 1998)

Puisi Taufiq Ismail ini ditulis saat Indonesia berada pada masa peralihan politik yang sangat mengguncangkan, setelah kerusuhan ”anti-Cina” pada bulan Mei 1998 dan kejatuhan Orba pada bulan yang sama. Saat itu, nama Indonesia di luar negeri sangat direndahkan karena gencarnya media massa yang memberitakan pembakaran, pembunuhan, perkosaan dan perusakan properti orang-orang keturunan Tionghoa di Jakarta. Waktu itu juga disorot Bandara Sukarno-Hatta yang selama berhari-hari penuh orang keturunan Tionghoa yang lari ke luar negeri karena takut. Banyak orang yang malu menyatakan dirinya orang Indonesia di luar negeri, karena akan menjadi bahan cemoohan orang sebagai bagian dari bangsa yang rasistik, tidak toleran dan tidak tahu menghormati minoritas. Selain itu, Taufiq juga malu karena korupsi yang masih merajalela, rakyat miskin yang selalu tersisih oleh penggusuran dan ketidakpedualian, serta banyak lagi ketimpangan sosial ekonomi.

Rasa malu Taufiq Ismail waktu itu adalah rasa malu semua kita yang masih waras dan sadar atas nilai-nilai dasar kebangsaan dan kemanusiaan yang ditanamkan para pendahulu bangsa, Sukarno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain, saat mendirikan bangsa pada 1945. Kemanusiaan yang seringkali terlupa selama beberapa dasarwarsa terakhir, pada saat orang hanya mengutamakan persatuan dan sentralisasi pembangunan. Pada saat rakyat seringkali merasa dikorbankan untuk kepentingan pembangunan fisik semata.


Tahun 2009,

Pertanyaannya, setelah 10 tahun berdemokrasi, apakah warganegara Indonesia sudah lebih bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia dibandingkan dengan sebelumnya. Atau sama saja seperti dulu. Setiap orang tentu memiliki jawaban subjektif sesuai dengan pengalaman pribadi menjadi bagian dari apa yang kita namakan Indonesia.
Lalu, apakah maknanya sebuah ”aku” dan perasaan ”bangga” dalam proses membangun sebuah ”bangsa” yang maju dan demokratis. Apa pentingnya individu pada sebuah proses nation and character building? Pada sebuah masyarakat yang otoriter, ”aku” (”a” kecil) sama sekali tidak penting. Pada sebuah negara komunis, ”aku” (”a” kecil) juga tidak penting. Yang paling penting dalam sebuah masyarakat otoriter atau negara komunis adalah kolektivitas di mana kepentingan perorangan melebur ke dalam kepentingan bersama, milik ”aku” adalah menjadi milik ”masyarakat” pada saat yang sama, komunalitas adalah segala-galanya.

Apa yang akan terjadi pada masyarakat yang tidak menjadikan ”aku” penting? Yang terjadi adalah potensi terjadinya stagnasi dan kegagalan yang menghancurkan masyarakat pada ujungnya. Hal ini terjadi karena sistem politik ototiter melupakan konsep dasar yang asasi, bahwa pada awalnya individulah yang membentuk masyarakat, bukan sebaliknya.

Konsep ”aku” dan ”bangga” berjalan seiring dengan nilai-nilai demokrasi di mana hak-hak kepemilikan pribadi dihormati, keyakinan politik dan keimanan pada agama di junjung tinggi, hak atas keamanan dan bebas dari rasa takut dihargai, dan penghargaan pada kerja dan karier disesuaikan dengan tingkat profesionalisme dan pendidikan orang perorangan. Hanya negara yang menghormati ”aku” akan mendapatkan rasa hormat dan penghargaan dari warganya.

Pada dasarnya demokrasi modern adalah sebuah sistem politik paling sukses menggabungkan antara naluri untuk melalui paham nasionalisme untuk menjadi ”bangsa” dan keinginan untuk dihargai sebagai ”aku” secara individual. Itulah salah satu alasan mengapa Naskah Proklamasi Indonesia yang dibacarakan Bung Karno pada 17 Agustus 1945 diawali dengan kata-kata ”Kami bangsa Indonesia...”. Walaupun demikian, pada sisi lain dari mata uang, ”kami” tidak dibiarkan secara bebas meniadakan ”aku”. Oleh karena itulah, konstitusi Indonesia melindungi secara khusus HAM dan kebebasan berpendapat setiap orang. Oleh karena itulah pemilu demokratis diadakan di mana suara perorangan menentukan perwakilan, lembaga-lembaga demokratis diciptakan, pemisahan kekuasaan diatur. Karena demokrasi menganggap semua manusia sama kuat dan sama lemahnya, maka kepemimpinan mesti digilir, lembaga negara mesti diawasi.

Pada sebuah sistem demokratis pula, kebanggaan dipelihara sedemikian rupa agar tidak menjelma menjadi sikap-sikap chauvinistik, kebanggaan sempit sebagai anggota sebuah bangsa. Demokrasi tidak membenarkan superioritas suku, ras dan agama. Demokrasi memelihara agar kebanggaan tidak menjadi sikap-sikap fasistik dan militeristik, karena demokrasi tidak membiarkan sebuah kelompok berkuasa selama-lamanya. Karena dalam demokrasi sebuah lembaga negara tidak dibiarkan menjadi dominan tanpa tandingan, karena demokrasi menyediakan proses untuk melakukan checks and balances dalam sistem politik.

Hal yang paling penting dari semuanya, hanya dalam sebuah demokrasilah orang dapat menyatakan secara pasti sesuai dengan nilai-nilai pribadi yang diyakininya, apakah seseorang benar-benar bangga menjadi anggota warga sebuah bangsa atau hanya pernyataan bangga yang dikeluarkan karena rasa takut dan ikut-ikutan arus orang banyak. Karena demokrasi menjamin orang untuk berpendapat secara bebas dan terbuka.

Demokrasi menjamin hak orang yang berkata jujur apabila dia bangga menjadi warganegara Indonesia. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia karena Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, berani bertindak terhadap koruptor kelas tinggi. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden berjalan secara demokratis sehingga mendapat pengakuan di dunia internasional. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena memiliki lembaga-lembaga negara seperti Mahkamah Konstitusi (MK) yang mampu berperan sebagai pengawal konstitusi dan seterusnya. Orang boleh menyatakan bangga menjadi warganegara Indonesia, apabila anak Indonesia berhasil memenangkan kejuaraan olimpiade matematika internasional beberapa tahun berturut-turut.

Situasi yang sama akan terjadi apabila orang menyatakan tidak bangga menjadi warganegara Indonesia. Demokrasi tidak akan menangkap dan memenjarakan orang yang menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia oleh berbagai alasan. Orang boleh menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, apabila tempat tinggalnya digusur paksa tanpa peringatan terlebih dahulu. Orang boleh menyatakan dirinya tidak bangga menjadi warganegara Indonesia, misalnya, karena apabila dalam mengurus surat-surat keterangan jati diri dia harus mengeluarkan ongkos yang jauh melebihi dari biaya administrasi yang ditetapkan oleh peraturan. Orang boleh menyatakan tidak bangga menjadi warganegara Indonesia apabila tim sepakbola ataupun regu bulutangkis nasional kalah di dalam turnamen-turnamen internasional, padahal dulu selalu menang.

Pada kondisi demokratis demikian itu pula waktu mantan Presiden AS John F. Kennedy menyatakan ”Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country,” pada tahun 1961. Orang yang bangga menjadi orang AS atau orang Indonesia tentu akan berbuat sesuatu yang lebih baik lagi untuk memelihara dan menjaga kebanggaannya pada setiap kesempatan. Bahkan tanpa diminta sekalipun. Sebaliknya, mereka yang lebih sering disakiti selama menjadi warganegara Indonesia, wajar apabila dia tidak merasa bangga dan apatis terhadap apa saja yang terjadi pada negerinya, baik atau buruk.

Negara Indonesia yang secara demokratis berusaha sungguh-sungguh memenuhi janji konstitusi UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, tentu akan lebih mampu menjadi subjek rasa bangga masyarakat kepada Indonesia. Negara Indonesia yang secara demokratis berusaha sungguh-sungguh memenuhi amanat konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, tentu akan lebih mampu menjadi subyek rasa bangga dari masyarakat warganegara Indonesia.

Oleh karena semua uraian dan pertimbangan di ataslah, maka Indonesia perlu mempertahankan demokrasi dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Kebanggaan menjadi warganegara di dalam demokrasi bersifat lebih jujur dan otentik. Apa saja yang buruk di dalam demokrasi akan terlihat lebih transparan, sehingga lebih mudah untuk mencari jalan memperbaikinya secara bersama-sama. Demokrasi berusaha mewujudkan kebanggaan orang perorangan menjadi kebanggaan bersama. Demokrasi juga adalah sistem politik dan pemerintahan yang berusaha memelihara keseimbangan antara pemenuhan hak dan kewajiban antara negara dan masyarakat warga untuk menuju kehidupan bersama yang lebih sejahtera.

Modul ”Bangga Menjadi Warga Indonesia” adalah sebuah panduan bagi siapa saja yang mencintai Indonesia agar dapat memasuki ruang publik yang bernama Indonesia secara lebih dewasa, bijaksana dan lapang dada. Modul ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dibaca semua kalangan, berisikan pengetahuan ringkas dan percikan-pecikan mutiara pemikiran para intelektual, negarawan, budayawan, sastrawan Indonesia dan dari mancanegara tentang prinsip-prinsip kehidupan bernegara, berbangsa, juga tentang demokrasi, masyarakat sipil, pemilu dan aspek-aspeknya, serta berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan bersama lainnya.

Modul ini adalah satu kontribusi untuk membangun pemahaman yang lebih baik terhadap demokrasi, karena tanpa demokrasi, upaya membangun kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan akan gagal. Demokrasi merupakan alat sekaligus tujuan pembangunan jangka panjang masyarakat Indonesia. Negara kesejahteraan dan demokrasi adalah dua sisi dari satu mata uang. Kegagalan mencapai salah satunya, akan menggagalkan yang lainnya.

Demikianlah, modul ini disampaikan kepada khalayak dengan seluruh itikad baik, harapan dan kejujuran untuk meningkatkan pemahaman, memelihara dan meningkatkan rasa bangga menjadi dan memiliki Indonesia, bangga berjalan di luar negeri dengan menyebut diri sebagai orang Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

2 comments:

  1. Asyik banget sih tulisannya bu Wiwiek, siapa sih yang nulis. Pengen kenalan, akkakakakak

    ReplyDelete
  2. wakakakakaka...iya Pak, tulisan yang luar biasa keren...

    kenalan sendiri saja lah...hehehe

    thanks to Pak Indra, maka tulisan ini bisa hadir di hadapan Anda semua. :)

    ReplyDelete