Wednesday, May 13, 2009

Doa Seorang Jelata Tentang Sebuah Drama

Karena gemas dengan semua drama seputar kandidat RI 2 hari ini, akhirnya aku nyerah mencet-mencet keypad dan gonta-ganti status di Facebook. Kukeluarkan laptop keramatku dengan dramatis (iya, yang keyboardnya disambung dan menimbulkan sejuta pertanyaan itu…kekeke), dan...bismillah.

Yang kumaksud dengan drama hari ini adalah:

(1) semakin menguatnya pencalonan Pak Boediono sebagai cawapres SBY;
(2) resistensi dan gertakan dari beberapa parpol yang sudah pernah menyatakan komitmennya untuk mendukung SBY;
(3) indikasi bahwa tampaknya PDI P akan akan berkoalisi dengan PD;


Why call it a drama??

(1) Pak Boediono bukan calon dari parpol, which is quite surprising karena selama ini sudah banyak parpol yang mengajukan kandidat cawapres ke SBY, dan karena calon dari parpol memang lebih recommended untuk kepentingan balancing posisi pemerintah baru nanti di DPR;
(2) Parpol-parpol yang kecewa dan marah tidak pernah merasa diajak berkomunikasi oleh SBY tentang nama Pak Boediono;
(3) The fact that Pak Boediono, meskipun bukan orang parpol, adalah “orangnya” Bu Mega, sehingga keputusan untuk mengambil Pak Boediono sebagai cawapres dipersepsikan oleh banyak orang sebagai langkah untuk memuluskan “koalisi” PD dan PDIP;
(4) Semua juga tahu bahwa PDI P adalah parpol yang paling berseberangan dengan PD, dan bahwa SBY pernah bilang bahwa “most likely Ibu Mega akan berkompetisi dengan saya”. Lah….??!!

My thinking on the drama?

(1) Mohon maaf Bapak, tapi SBY terkesan jumawa dan kepedean, dengan “meninggalkan” parpol yang sudah jelas-jelas menyatakan dukungan di pilpres yang akan datang. Be careful, Bapak, it’s politics you are dealing with, not mathematics;

(2) Sayang jika Pak Boediono dijadikan wapres, mengingat beliau adalah ekonom hebat dan teknokrat dengan integritas tinggi yang telalu berharga untuk sekedar dijadikan ban serep.

Mungkin pada titik ini kalian akan mendebat begini : “wapres sebagai ban serep kan cuma jaman suharto?!!”…well, coba ingat-ingat lagi. Sejak kapan wapres tidak menjadi ban serep? Hanya dan hanya jika ketika wapresnya adalah Jusuf Kalla. Kenapa JK tidak menjadi sekedar ban serep? Ada dua alasan menurutku: pertama, karena karakteristik JK yang memang suka “in charge” dan mungkin geregetan kalo ada yang tidak cak-cek (slemanese: cekatan); dan kedua, mungkin yang lebih penting, karena waktu itu Golkar sebagai partai JK berasal, adalah pemenang pemilu dan “penguasa” DPR yang tentunya sangat mempengaruhi posisi tawar wapres dalam “berbagi kekuasaan” dengan presiden. Jadi menurutku, the upcoming wapres, siapapun dia, jika presidennya SBY, maka dia pasti tidak akan sekuat dan sedominan wapres jaman JK. Lha wong, PD yang berjaya di pileg gitu loh…
Jadi, tolong dipikir lagi, what’s the point of making Boediono as the vice president? Bukankah justru akan lebih optimal hasilnya jika Pak Boediono tidak diganggu dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur BI atau posisi strategis lainnya? So, kesimpulanku, eman-eman jika Boediono hanya jadi wapres. Bapak, please do not leave the post…semoga ada yang menyampaikan ini kepada beliau (kali aja ada teman fesbuk yang kenal, kekekek, kan pak Boediono tiyang yogja…).
(3) Sebenarnya agak gegabah jika PD tidak mempedulikan dukungan dari partai-partai yang selama ini mendekati PD. Khawatirnya, rombongan kecewa ini akan berbalik haluan dan bisa menjadi ganjalan yang menghambat jalannya pemerintahan dengan berbuat yang tidak-tidak di DPR. Jika sudah seperti ini, meskipun demokrat mendominasi DPR, tetap saja bahaya jika program ditentang di DPR, mengingat tidak ada lagi partai besar seperti golkar/dukungan kursi koalisi yang mencukupi untuk dijadikan “bemper” (pinjem istilah JK). (I’ve been watching those sessions between the planners and the legislatures, and trust me, kalo sampe barisan sakit hati itu marah, rakyat jelata juga yang susah.)
(4) Kayaknya aneh jika PDI P gabung dengan SBY. Hehehe.*ngga ada anailisis untuk yang ini, pokoknya aneh aja...secara Anas Urbaningrum dengan kalem (tapi super nylekit) pernah bilang: udah lah, PDI P bakatnya jadi oposisi ya jadi oposisi aja….*
(5) Kemungkinan besar SBY tetap memenangkan pilpres (mau taruhan??kekeke), dan mungkin justru akan semakin besar peluangnya jika SBY menggandeng Boediono. Kenapa? Karena ini pemilu langsung, Bung, dan mungkin rakyat justru melihat pilihan SBY tepat untuk tidak menggandeng calon dari parpol. Dari kacamata orang awam (non parpol), teknokrat kalem seperti Pak Boediono mungkin terlihat lebih netral dan kompeten, serta dapat menghindarkan “dagang sapi” yang selama ini terkesan selalu terjadi dalam proses pembentukan kabinet. (capek deh...ket jaman nenek moyang kok ra mundhak-mundhak...)
(6) Dari kacamata seorang jelata semi-semi pengamat (maksudne opo?), aku tidak terlalu setuju dengan pilihan SBY maupun cara SBY menetapkan pilihan ini. Entah, mungkin aku terpengaruh oleh opini seorang pengamat yang mengatakan SBY sengaja mencari kandidat dari non parpol supaya dalam lima tahun ke depan bisa mempersiapkan “putra mahkota” dari kalangan internal partai demokrat, dengan cara tidak membiarkan kader partai lain menempati posisi no.2 paling strategis di negeri ini, yakni posisi wapres. Menurutku opini ini ada benarnya, dan bagiku cenderung mengkhawatirkan untuk keberlanjutan the free and fair democratic system di negeri ini. Soal cara menertapkan pilihan, aku merasa bisa memahami ketika beberapa parpol agak marah-marah, karena SBY tidka mengkomunikasikan ini secara langsung di depan. Menurutku, dalam sistem demokrasi, keterbukaan, termasuk antar mitra koalisi adalah salah satu hal terpenting. Jadi ketika akhirnya para parpol ini tahu berita tentang Boediono dari sumber lainnya…wah-wah…menurutku ini patut disayangkan…meskipun aku juga tidak setuju dengan cara parpol sakit hati itu marah-marah. Hehehe, kurang smart and educated gitu loh...:D
(7) Meski ngga setuju pilihan capresnya, tampaknya aku tetap akan memilih SBY. Hehehe. Ngga ada pilihan lain si, so far, kekekeke.


Jadi, sebagai rakyat jelata, sekarang aku berdoa saja:

(1) Semoga ada yang mengingatkan SBY untuk lebih rendah hati dan memahami tata cara dan etika berdemokrasi di negeri yang “panas” ini supaya tidak terlalu banyak pihak yang kecewa dan tersinggung;
(2) Semoga ada keajaiban agar talenta dan keahlian serta integritas Pak Boediono tidak tersia-siakan dalam 5 tahun ke depan;
(3) Semoga jika parpol menarik dukungan pun, mereka bisa menjadi oposisi yang menyehatkan dan bersikap fair;
(4) Semoga semua drama ini bisa dilalui tanpa pertumpahan darah dan kekerasan dan pada akhirnya akan membawa dampak yang baik bagi kelancaran pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.
(5) Semoga tetap ada yang mau menjadi opisisi, supaya pemerintah tetap bisa terkendali (bayangkan kalo semua masuk koalisi, bisa menjadi hegemoni nanti) , tapi tentu oposisi yang rasional dan intelek, dan mengerti makna menjadi oposisi dalam sistem demokrasi.
(6) Ya Allah berikanlah petunjuk jalan yang lurus dan kebijaksanaan kepada para pemimpin, calon pemimpin dan para penentu pemimpin kami. Aminn….


Sekian dan terima kasih.
wallahualambissawab.

*mohon maaf jika tidak seseru biasanya (halah) dan diformat bullet points, hahaha, biar cepat maksudnya*