Tuesday, September 01, 2009

The Tale of The Speech Admirer



Once upon a time, ada seorang anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di sebuah dusun kecil, yang merupakan bagian dari sebuah negeri yang luaaaaaaaaassssss sekali. *saking luasnya, negeri ini tidak terpetakan secara geografis, kekeke* Anak perempuan ini mempunyai sifat periang, dan sifat seperti anak-anak kebanyakan, dengan rasa ingin tahu yang sangat besar (dan kadang terlalu besar sampai membuat orang lain sebal) dan sifat orang dusun pada umumnya, mudah takjub dan terkagum-kagum, atau kata salah satu gurunya dalam bahasa ibunya: “gumunan”(sehingga terkadang si anak memiliki antusiasme yang berlebihan, hehe).

Ketiga sifat ini, dengan ditambah sedikit keberuntungan dan tentunya kehendak Allah tuhan sekalian alam, si anak akhirnya entah bagaimana ceritanya mendapatkan pekerjaan yang cukup lucu di sebuah unit (“unit” gitu loh) di pemerintahan pusat negeri nan luas itu. Si anak, dengan rasa ingin tahu dan rasa gumunan-nya, menyambut tantangan itu dengan ceria dan berkata kepada dirinya: “Di sinilah tempat aku akan mencari sesuap nasi dan segunung ilmu. Yosh, ganbarimasu!!!” *lo, ini sa’jane cerita dari negeri mana sih..hehehe*.

Segera saja, begitu banyak hal baru yang didapatkan anak itu di tempat dia bekerja. Ada yang baik, ada juga yang kurang baik. Ada yang bijak, ada juga yang kurang bijak. Ada yang lurus, ada juga yang berkelok-kelok. “Namun aku yakin, semuanya bisa mengajarkanku kebijaksanaan hidup dan segunung ilmu.”, kata si anak dengan sok tua dan sok tau kepada dirinya sendiri (seperti biasanya dia katakan kepada teman-temannya, yang sebenarnya tidak meminta nasihatnya, hehe.) Jadi, tetep, ganbarimasu, lah pokoke, kata si anak sambil mengikatkan ikat kepala bertuliskan huruf kanji bertuliskan “fight!!” (hih, kok dadi komik banget, wkwkwk ^^v).

Satu hal yang sangat disukai si anak dari pekerjaan barunya adalah kesempatan untuk bertemu dan mendengarkan langsung petuah, ajaran, analisis, kritik pedas, kadang caci maki, sabda dan fatwa dari orang-orang penting, tersohor dan para penentu haluan negeri nan luas itu. Di antara mereka ada yang lembut nan bijak, ada yang meledak-ledak. Ada juga yang sinis nan nylekit, ada yang lugas dan cerdas. Ada yang disebut ceramah, khutbah, wejangan, dan ada juga yang disebut pidato *entah dari mana kata itu bermula, sounds so strange to me, mungkin dari bahasa bangsa kecil yang pernah menjajah namun secara ironis juga turut membidani kelahiran negeri nan luas itu, maaf belum sempet googling* Si anak merasa semua rangkaian kata-kata itu menjadi sumber gunung ilmu dan kebijaksanaan hidup yang merupakan harta yang sangat berharga baginya. *lebay.com, sedulure ebay.com*

Demi mengumpulkan harta itu, si anak menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli sebuah benda canggih nan ajaib berwarna biru untuk menampung dan mengumpulkan segala macam wejangan, ceramah, khutbah dan pidato itu tadi, untuk kemudian dikenang atau diperdengarkan kembali. Benda ini memang tak secanggih pensieve-nya Penyihir Besar Albus Dumbledore (alm.) Kepala Sekolah Hogwarts School of Witchraft and Wizarding yang bisa membawa pemakainya ke dalam sensasi memori empat dimensi (halah, bahasa mana pula ini, hwehe). Namun benda ajaib ini cukup membuat si anak semakin riang dan bersemangat bekerja, sehingga seolah-olah ketika dia berjalan ada pegas di sol sepatunya. *asli lebay nek sing iki, hehehe*

Banyak sudah kata-kata penting ditampung di dalam benda ajaib itu, mulai dari kata-kata bijaksana sang mentri, sambutan mentornya yang selalu menginspirasi, hingga sambutan bersejarah pemimpin kulit berwarna pertama di sebuah negara adidaya-adikuasa yang merupakan tetangga negeri nan luas ini, tentunya yang terakhir ini direkam dari kotak kaca ajaib bernama televisi. Namun bagi si anak, tiada pidato yang paling berkesan selain kata-kata ibu menteri cantik yang terkenal dengan ketajaman pikiran dan selera berbusana batiknya yang tinggi serta antingnya yang serasi *halah*. Sampai hari ini, si anak masih berdecak kagum mengingat keberanian dan keanggunan sang ibu menteri, meskipun dalam banyak hal yang prinsipil si anak sangat berseberangan paham dengan sang ibu menteri. “Sepertinya ibu itu tidak merasa bahwa dirinya terhegemoni”, batin si anak, kali ini dengan sangat-super-sok-tua-dan-sok-tau. *hahaha, silakan protes buat yang mau protes*

Waktu terus berlalu, benda ajaib maha penting itu terus menemani hari-hari si anak. Sampai pada suatu hari, si anak tanpa sengaja meninggalkan benda ajaib di sebuah ruangan di tempat dia bekerja. Satu jam sesudahnya, si anak menyadari kecerobohannya, dan dicarinya benda ajaib ke seluruh sudut yang memungkinkan, ke setiap orang yang sekiranya bisa memberi harapan. Tak satupun memberikan jawaban yang memuaskan. Anak itu sedih bukan kepalang.

Salah seorang sahabat si anak tanpa sengaja mengabarkan bahwa ada seorang sahabatnya yang bisa membaca keberadaan sang kehilangan. Si anak tak menyia-nyiakan timbulnya harapan baru, segera ditanyakanlah keberadaan benda ajaib berwarna biru kepada sang pemilik indera ke tujuh. Sang pemilik indera ke tujuh hanya mengatakan: “ikhlaskan saja...”. Si anak tidak puas dengan jawabannya. “mungkin memang masih ada di sekitar sini...” lanjut temannya. Si anak semakin mendesak. “sudah berpindah tangan...sudah lebih sulit diminta kembali...” jelasnya menenangkan si anak. Si anak yang keras kepala mengatakan akan membelinya kembali, bahkan dengan harga yang lebih tinggi, mengingat benda ajaib itu tak lagi dijual di pasar. “diikhlaskan saja...”. Si anak putus asa, setidaknya untuk hari itu.

Keesokan harinya, si anak kembali, dengan pertanyaan yang sama. Dengan ketidakterimaan yang kurang lebih juga masih sama. “sudah, ikhlaskan saja...” si anak tetap merengek tak mau diam. “benda itu sudah digunakan untuk membiayai pendidikan persamaan...”. Si anak kini terdiam. Baginya, pendidikan adalah sumber kehidupan. Dia menyadari hidupnya tak akan seperti sekarang tanpa pendidikan. Bahkan para pemimpin negerinya juga masih heboh memperjuangkan tentang anggaran pendidikan 20% sesuai amanat konstitusi.*hahaha, kok informasi ini masuk di sini sih...* Pendidikan persamaan, berarti lebih penting lagi, karena ini berarti kesempatan kedua untuk mereka yang tak seberuntung dirinya yang selalu mendapatkan kesempatan pertama, meski dalam keterpencilan tempat kelahiran dan ketidakmewahan hidup orang tuanya.

Akhirnya si anak membatin: “Selamat tinggal benda ajaib-ku, semoga pengorbananmu tidak sia-sia. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Ihiks. Srot-srot. *aih, jijay. Eh, ngga ding, lha wong cuma dibatin thok, kekeke*”