Tuesday, October 27, 2009

strange but familiar



...as i always said, dari dulu aku payah dalam urusan puisi. Entah dalam memahami maknanya, menulisnya,atau sekedar menilai puisi mana yang indah dan mana yang norak. Sungguh, aku tidak tahu.

Namun demikian, *halah bahasane..plis deh*, dalam kesempatan iseng browsing puisi Pak Sapardi, aku menemukan puisi singkat ini. Aku tidak yakin maknanya, dan mungkin tak tahu maksud beliau ketika menuliskannya, tapi aku suka. :) It's strange, yet familiar.

Jadi, mohon ijin Pak Sapardi, saya posting puisi Bapak di sini, syukur-syukur nanti Bapak bisa menjelaskan makna atau bahkan mungkin suasana batin *halah, bahasane politik praktis bangedh, huikikiki* ketika Bapak menulisnya...

Buat teman-teman, yang suka dan ndhak suka puisi, yang ngerti dan ndhak ngerti Sapardi...selamat menikmati. :)


HATIKU SELEMBAR DAUN

Oleh :
Sapardi Djoko Damono


hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.


Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.