Sunday, December 27, 2009

My Favorite Fairy Tale

Jaman aku SMP dulu (yak, di SMP 4 Pakem, Jalan Kaliurang Km. 17, Sleman, Yogyakarta), aku pernah beruntung sekali dipinjami sebuah buku kumpulan dongeng berjudul "Kisah si Kaki Peri". The coolest fairy tales compilation I've ever read!

Tidak ada cerita yang lebih berkesan di dalam buku itu daripada sebuah dongeng berjudul "Menembus Api", yang menurutku indah, sederhana, magical dan membawa pesan moral yang mulia, bahwa cinta, perjuangan dan ketulusan bisa mengatasi segala perbedaan...huekekeke...kira-kira sih begitu.

Saking terkesannya dengan buku pinjaman itu, aku berinisitif memfotokopi bukunya. *secara di pakem itu jauh ya dari Gramedia....hehehe*. I was so happy to got the (photo)copy!

Unfortunately, buku itu kemudian raib saat dipinjam oleh salah satu sepupuku. Bahkan sampai saat ini pun aku masih belum memaafkan anak itu karena menghilangkannya. huahaha, padahal dia ngilangin pas masih SD, dan sekarang dia sudah kuliah. hihihi, just kidding. :)

Anyway, time went by, and I was so lucky to have chance to experience a super cold winter in a country that celebrates the changing four seasons in a way that will certainly make you falling love with the country. *hayah....compound complex sentence yang ra nggenah...* I might have been inspired by the coldness, dan akhirnya pada February 2005, kutuliskan kembali kisah "Menembus Api" yang bersetting winter yang merana itu...

Sudah kucoba kugooggling kisah ini, namun tiada ketemu. Jadi kukarang saja seingatku, dan aku masih berharap suatu saat nanti, aku bisa nemu buku itu. :)

Ini dia hasil penceritaan kembali itu, dan memang masih separuh jadi, supaya kalian penasaran endingnya bagaimana, atau malah bisa memberiku ide bagaimana melanjutkan ceritanya,....huakakaka. *dasar malas...*

Girls, i know you love fairy tales. :)
Boys, i don't know about you, but, tidak ada larangan untuk menyukai fairy tales.




…Menembus Api…
(Original Title: Through The Fire)

Kisah ini berawal di sebuah rumah kecil yang sempit di kawasan kumuh kota London, yang waktu itu menjadi begitu tidak nyaman akibat begitu banyaknya pabrik berdiri, mengeluarkan cerobong asap yang menyesakkan paru-paru (jaman revolusi industry critane). Di rumah kecil ini tinggal seorang anak laki-laki kecil bernama Jack bersama ibunya, seorang buruh pabrik berupah minimum yang terpaksa harus mencari kerja sambilan di malam hari, sehingga hampir setiap malam, Jack kecil kesepian di depan perapian dapur yang suram.

Malam itu seperti biasa, Jack mencoba menghangatkan tubuhnya yang kecil dan kurus di depan bara api yang menyala-nyala. Cuaca kota London memang semakin tidak bersahabat di malam hari, apalagi untuk dirinya yang memang sering sekali jatuh sakit. Setengah melamun memikirkan jam berapa ibunya akan pulang, Jack nyaris berpikir dia jatuh tertidur dan bermimpi melihat seorang laki-laki kecil melompati bongkahan-bongkahan bara api di tungku. Tetapi laki-laki kecil itu ternyata berbicara kepadanya.

`Hei, kasihan sekali kau, Nak…sepertinya kau kedinginan dan kesepian…` sapa si laki-laki yg besarnya kira-kira seukuran pensil Jack.
`Siapa kau? Dan kenapa kau tidak merasa kepanasan?`, Tanya Jack yang sangat penasaran.
`haha..kepanasan? Aku adalah peri api, aku lahir dari lidah api, aku tinggal di negeri api, aku makan pudding api dan aku minum jus api. Bagaimana aku merasa kepanasan? Ayo, ikutlah bersamaku bermain di negeri api…`ajak si peri api yang nampak ramah.
Jack berpikir sejenak, melihat jam warisan kakek di dinding. Ibunya baru akan pulang 3 jam lagi.
`baiklah…’ jawab Jack akhirnya.

Si peri api meminta Jack memegang pingiran tungkunya, yang anehnya, sama sekali tidak terasa panas bagi si kecil Jack. Secara ajaib, Jack menyusut menjadi seukuran si peri, dan si peri api menolongnya melompat masuk ke dalam api, melompat di antara bongkahan-bongkahan bara. Dalam sekejap, Jack tiba di sebuah negeri yang hangat, sangat berbeda dengan dapur rumahnya yang dingin dan lembab di London. Negeri itu begitu menarik, dengan pohon-pohon berbunga kecil-kecil berwarna merah, dan daun-daun berwarna kuning. Bukit-bukit tampak ramah dengan warna jingganya yang ceria. Si peri api juga menunjukkan sebuah istana indah dengan taman luas, dan burung-burung phoenix yang anggun berterbangan di dalamnya. Itulah istana Raja negeri api.

Tiba-tiba si kecil Jack melihat seorang gadis berdiri termenung di beranda istana. Gadis itu mempunyai mata yang berbinar-binar, dan rambut yang berkilauan sepanjang pinggang. Dia sangat cantik, namun matanya memancarkan kesedihan. Jack bertanya pada si peri api.

`siapakah gadis itu?’ Tanya Jack.
‘oh, itu Putri Pyra, putri kerajaan api`
‘mengapa dia tampak sangat sedih? Bukankah dia tinggal di istana sebuah negeri yang menyenangkan?’ Tanya Jack penasaran, setengah merasa nelangsa mengingat dapur ibunya di London.Hiks…

`oh…dia punya segalanya tentu saja. Tapi kuberitahu sesuatu, musim panas yang lalu dia berjalan-jalan ke negeri bunga (aku ngarang nama negeri nya, soale lali jhe…what could probably be a land suitable from both fire and water?). Dan disanalah segala kesedihan itu berawal. Dia tak sengaja melihat Pangeran Fluvius, dari negeri air, dan jatuh cinta padanya.`

‘kenapa dia malah sedih? Apakah pangeran tidak mencintainya?`
`oh, jika itu yang terjadi, Putri Pyra tak akan sesedih itu. Justru karena sang pangeran juga jatuh cinta padanyalah semuanya menjadi semakin rumit. Mereka tak akan pernah bisa menikah, salah satu dari mereka jelas akan mati kan begitu mereka berdekatan? Entah sang pangeran habis menguap, atau sang putri yang akan padam` Kata Sang Peri seolah menjelaskan bahwa 1 ditambah 1 sama dengan 2. :p

`oooh…’ kata Jack yang baru paham.*batine si Jack: meneketehe…dengan gaya Torsud or Amingwati tapi Cuma dibatin*

Bersambung… (insya Allah ya…:p)

No comments:

Post a Comment