Saturday, March 27, 2010

Salihara Malam Itu...

Jalan Salihara, No 16.

Pertama kali kubaca papan penanda itu, sedetik sebelum aku berterima kasih banyak pada Pak Supir taksi yang membawaku ke sana di tengah kemacetan Jakarta, Jumat malam. Seperti petunjuk sahabat yang sudah terlebih dahulu berada di sana, tempat itu tidak jauh dari kantor unit pemadam kebakaran (entah kenapa jadi ingat Presiden Obama :p).

Melangkah ke dalam, melewati beberapa kelompok laki-laki dan perempuan, dengan senyum dan penampilan yang mengingatkanku kepada seniman, atau orang-orang lain yang menurutku punya kepribadian yang unik. Sebuah pilihan yang perlu keberanian, tentu, pikirku selalu.

Seseorang mengingatkanku bahwa teater telah penuh, malam itu. Wajar, mereka sedang merayakan seseorang yang dengan brilian mengatakan “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Aku tetap melangkah, melewati pintu samping yang remang-remang. Benar. Penuh. Lesehan di depan pun tidak memungkinkan. Seorang berambut gimbal yang tampaknya senasib denganku juga celingukan. Aku hampir manyun, khawatir diusir. Padahal sudah berjuang, batinku. Seorang perempuan (mungkin panitia) melihat kami, dan menuntun kami ke pintu samping yang lain. Mencoba melihat apakah di sebelah sana masih ada kursi tersedia. Ketika dia menunjuk anak tangga ke kursi-kursi penonton di atas, naluri bonekku hampir membuatku bertanya, apa kami sebaiknya melompat dan memanjat saja? *hehehe, dasar jiwa bonek ra reti sopan santun* Untung pertanyaan itu tak terucap.

Perempuan itu mengajak kami kembali ke pintu samping pertama, kali ini aku berjalan lebih pelan, supaya boot-ku yang berbunyi tak-tok-tak-tok dan terkesan mengintimidasi itu tidak mengganggu kekhusyukan perempuan (yang belakangan teridentifikasi sebagai Happy Salma) yang sedang membaca puisi tentang tsunami. (hari itu ahad, 26 Desember 2004...)

Akhirnya kami dipersilakan duduk di tangga. Namun setelah satu kali tepuk tangan untuk Happy Salma, kami yang duduk di tangga dipersilakan semakin naik untuk duduk di catwalk, karena dikhawatirkan membuat tangga ambrol. Wow. Tak kusangka catwalk bisa menjadi sebuah tempat yang sangat ekslusif untuk sebuah keterlambatan yang agak keterlaluan. Dari atas, aku bisa melihat semuanya, dan aku melambai pada dua sahabat yang duduk tepat di belakang deretan para penampil dan beliau-yang-sedang-kami-rayakan.


Dari atas, dalam keterpencilan, aku termangu-mangu mendengarkan puisi yang sebagian besar belum pernah kudengar. Ini kali pertama aku menghadiri acara semacam ini. Tak kusangka aku bisa tertawa *ngakak, sisan, hehehe*, bertepuk tangan berkepanjangan *hingga telapak tangan terasa kebas*, dan meneteskan airmata... Dalam titik ini aku mencatat : “wie, hidup memang lebih dari sekedar RPJMN, dan facebook” (huakakakaka). Puisi-puisi, tentang tsunami, tentang pisau, tentang rumah-rumah, tentang doa...tiba-tiba saja mengingatkan bahwa aku belum sempat mengatakan cinta dan memanjatkan doa-ku dengan selayaknya kepada mereka yang berhak menerimanya, tanpa syarat, tanpa alasan. Campur aduk, tak terdefinisikan. Sebuah sms masuk, menegaskan padaku bahwa ada banyak cinta dalam hidupku, membuat emosi jiwa semakin tak karuan *hayah, mulai lebay*. Ditutup dengan paduan suara, perjuangan melawan kemacetan malam ini terbayar dengan penuh kesan.

Turun dari catwalk butuh kesabaran. Maklum, kami paling belakang. Kesabaran ini terbayar, ketika akhirnya aku berhasil menyapa dan berjabat tangan langsung dengan beliau-yang-sedang-kami-rayakan. Yang ternyata sangat ramah. Senang sekali rasanya, ketika aku bisa mengatakan ini langsung (dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar): “Selamat ya Pak, semoga sehat selalu dan semoga semua doanya dikabulkan!!!”



Bersyukur bisa di sana malam itu, dan berterima kasih kepada dua sahabat yang telah melengkapi keistimewaannya. Banyak hal berharga untuk diingat, sehingga catatan ini harus jadi hari ini, kataku. Satu hal yang selalu terngiang-ngiang adalah ketika salah satu penampil membacakan larik ini, sambil memandang beliau-yang-sedang-kami-rayakan, yang mengajari kami untuk mencintai dengan sederhana:

“Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu”

Pak Sapardi..., terima kasih ya Pak... semoga diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu! :)

Saturday, March 20, 2010

Tentang /4/ untuk /5/

/4/

Kita mungkin memang diciptakan agar ada
yang bisa merasa bahagia.
Sederhana saja: awan yang lewat
dan sejenak meneduhi kita dari matahari,
balam yang mendengar siut ketapel,
tikus yang lepas dari perangkap,
anjing yang lewat sementara anak-anak
tidak menyambitnya,
cicak yang asyik bercakap-cakap
tanpa didengar Sang Prabu.
Bukan Pangeran yang suka ragu-ragu,
yang di akhir cerita bertarung habis-habisan
hanya untuk mati di singgasana.

Siapa yang berusaha membujukku berduka,
menafsirkan kuning sebagai hitam,
menerima air mata sebagai tangisan?
Jika ada yang lewat – lewat sajalah.
Tak boleh ada yang merasa terganggu
ketika waktu lewat, ketika satu demi
satu yang kita cintai
tak ada lagi di sekeliling kita,
ketika tak ada lagi mengembalikan
setiap tarikan napas kita
menjadi debu.

Dan ketika mendengar tokek di belakang rumah
kita suka menghitung ya, tidak, ya, tidak,
dan ya –
kita pun merasa lepas dari angka-angka
yang rumit, yang mengaburkan pandangan kita.
Untuk apa kita harus merasa tidak bahagia?
Untuk apa laron melepaskan sayap-sayapnya
hanya untuk mendekati cahaya?

Untuk apa pula anak desa itu
berlayar ke negeri-negeri jauh
hanya untuk dikutuk menjadi batu?
Kau tidak melepaskan sayap-sayapmu
dan aku tak pernah
meninggalkan kota ini –
kalau itu hanya mendudukkanku
di pinggir jalan,
menyaksikan orang lalu-lalang.

Kita bisa menerima cahaya, tentu saja,
yang bersijingkat di daunan pohon
depan rumah itu. Sederhana saja:
seekor capung yang hinggap di pagar,
terbang lagi, kembali hinggap lagi –
warnanya hijau dan merah.
Selembar angin yang melayang
entah dari mana dan tak ingin
jatuh ke bumi – dan udara menjadi biru
seperti langit yang memantulkan warna laut.
Kita mungkin memang diciptakan
agar ada yang pernah
merasa bahagia.


***
Sapardi Djoko Damono, 2009:
ada berita apa hari ini, Den Sastro?
Buku Puisi

***


Yang saya hormati Pak Sapardi,

Selamat ulang tahun, Bapak. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan limpahan rahmat Allah, dan diberi kemudahan untuk terus berkarya dan menginspirasi. :)

Sengaja saya mengetik ulang puisi Bapak ini.
Pertama, sebagai semacam “kartu ulang tahun” untuk Bapak.
Kedua, untuk benar-benar memahami makna puisi ini.
Ketiga, untuk berterima kasih kepada mereka yang telah mengingatkan saya untuk tidak bersedih dan tidak menganggap sesuatu yang tidak sesuai harapan sebagai akhir dunia.
Keempat, karena memang puisi ini tidak bisa saya temukan versi e-file-nya, jadi memang harus diketik ulang, hehehe.
Kelima, untuk membantu mempopulerkan puisi yang menurut saya “indah dan penting” ini.
Semoga Bapak berkenan. :p

Demikian kartu ucapan saya Bapak...semoga doa dan harapan Bapak senantiasa diridhoi-Nya.


sincerely,

wie