Saturday, March 20, 2010

Tentang /4/ untuk /5/

/4/

Kita mungkin memang diciptakan agar ada
yang bisa merasa bahagia.
Sederhana saja: awan yang lewat
dan sejenak meneduhi kita dari matahari,
balam yang mendengar siut ketapel,
tikus yang lepas dari perangkap,
anjing yang lewat sementara anak-anak
tidak menyambitnya,
cicak yang asyik bercakap-cakap
tanpa didengar Sang Prabu.
Bukan Pangeran yang suka ragu-ragu,
yang di akhir cerita bertarung habis-habisan
hanya untuk mati di singgasana.

Siapa yang berusaha membujukku berduka,
menafsirkan kuning sebagai hitam,
menerima air mata sebagai tangisan?
Jika ada yang lewat – lewat sajalah.
Tak boleh ada yang merasa terganggu
ketika waktu lewat, ketika satu demi
satu yang kita cintai
tak ada lagi di sekeliling kita,
ketika tak ada lagi mengembalikan
setiap tarikan napas kita
menjadi debu.

Dan ketika mendengar tokek di belakang rumah
kita suka menghitung ya, tidak, ya, tidak,
dan ya –
kita pun merasa lepas dari angka-angka
yang rumit, yang mengaburkan pandangan kita.
Untuk apa kita harus merasa tidak bahagia?
Untuk apa laron melepaskan sayap-sayapnya
hanya untuk mendekati cahaya?

Untuk apa pula anak desa itu
berlayar ke negeri-negeri jauh
hanya untuk dikutuk menjadi batu?
Kau tidak melepaskan sayap-sayapmu
dan aku tak pernah
meninggalkan kota ini –
kalau itu hanya mendudukkanku
di pinggir jalan,
menyaksikan orang lalu-lalang.

Kita bisa menerima cahaya, tentu saja,
yang bersijingkat di daunan pohon
depan rumah itu. Sederhana saja:
seekor capung yang hinggap di pagar,
terbang lagi, kembali hinggap lagi –
warnanya hijau dan merah.
Selembar angin yang melayang
entah dari mana dan tak ingin
jatuh ke bumi – dan udara menjadi biru
seperti langit yang memantulkan warna laut.
Kita mungkin memang diciptakan
agar ada yang pernah
merasa bahagia.


***
Sapardi Djoko Damono, 2009:
ada berita apa hari ini, Den Sastro?
Buku Puisi

***


Yang saya hormati Pak Sapardi,

Selamat ulang tahun, Bapak. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan limpahan rahmat Allah, dan diberi kemudahan untuk terus berkarya dan menginspirasi. :)

Sengaja saya mengetik ulang puisi Bapak ini.
Pertama, sebagai semacam “kartu ulang tahun” untuk Bapak.
Kedua, untuk benar-benar memahami makna puisi ini.
Ketiga, untuk berterima kasih kepada mereka yang telah mengingatkan saya untuk tidak bersedih dan tidak menganggap sesuatu yang tidak sesuai harapan sebagai akhir dunia.
Keempat, karena memang puisi ini tidak bisa saya temukan versi e-file-nya, jadi memang harus diketik ulang, hehehe.
Kelima, untuk membantu mempopulerkan puisi yang menurut saya “indah dan penting” ini.
Semoga Bapak berkenan. :p

Demikian kartu ucapan saya Bapak...semoga doa dan harapan Bapak senantiasa diridhoi-Nya.


sincerely,

wie

No comments:

Post a Comment