Thursday, June 10, 2010

Revenge Is Sweet...But Is It...?

Kamis, hampir jam 10 malam.

Jalan Setiabudi Timur empat tampak tenang ketika aku hampir mencapai pagar No.38. Hmm...berhasil juga jalan kaki dari Sudirman. Yay!

Sebuah mobil kijang dari arah berlawanan mendekat, berhenti karena terhalang sebuah mobil hitam di depan No.37 dengan merk yang bagiku terdengar seperti "pikantuk" yang dalam bahasa jawa contoh pemakaiannya adalah sebagai berikut:

"Anggenipun mugut damen sampun pikantuk kathah, Pakdhe?"

(terjemahan: Menyabit jeraminya sudah dapat banyak ya Om?) --> hihihi, aneh tenan...T_T --> btw, ini mau ngebahas apa sih kok pake contoh kalimat bahasa jawa segala...kekeke...

Mobil kijang mengklakson. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Semakin keras. Mobil "pikantuk" tetap diam. Tidak ada tanda-tanda pemilik mobil yang tergopoh-gopoh keluar dari salah satu rumah di jalan kecil itu untuk segera memindahkan mobilnya yang memang diparkir secara kurang ajar itu.

Klakson si kijang terus berbunyi. Memekakkan telinga. Terdengar penuh amarah. Ranselku yang berat kuturunkan dari bahu dan kuletakkan di depan pagar. *ternyata aku lupa bawa kunci lagi...kekeke...penyakit...:p*

Kulangkahkan kakiku mendekati kijang. Pengemudi kijang menurunkan kacanya melihat aku mendekat. Seorang bapak, atau lebih tepatnya kakek. Rambutnya putih semua, mungkin 65 tahun. Istrinya yang berkerudung di sebelahnya.


"Punten Pak,...saya juga tidak tahu mobil ini milik siapa,...tapi mungkin lebih baik Bapak mengambil jalan berputar, karena sepertinya pemiliknya tidak mendengar klaksonnya." Ujarku sesopan mungkin.

Dari balik kaca, si kakek menjawab:

"Saya lebih baik mengklakson terus!"

Aku hanya bisa menjawab pelan:

"Ooh..."

Aku mundur menjauhi mobil kijang. Entah kenapa rasanya kaget dan mata ku berkaca-kaca. Mungkin karena tidak menduga akan menerima jawaban semacam itu dengan nada semacam itu dari seseorang semacam itu (lha iki mangsud e opooo???macam-macam sajah....:p)

"Ya sudah, wie...toh niatmu baik," kata sisi malaikatku.
"woalah, ono wong tuwo kok keras kepala," kata sisi setanku. kekeke. :p

Klakson terus dibunyikan. Sejumlah penghuni Setiabudi Timur 4 mulai keluar dari rumah masing-masing.

Aku menyampaikan kepada seorang perempuan dan bapak-bapak bahwa aku sudah mencoba menyarankan si pemilik kijang untuk memutar. Komentarnya:

"Woo, kalo dia ngga akan mutar mbak, mungkin mobilnya akan ditinggal di situ, dia jalan. Keras orangnya."

"Oh...ya sudah kalo begitu," Aku membatin.

Istri si kakek turun dari Kijangnya dan berjalan menuju rumahnya. Si kakek rupanya belum mau menyerah. Masih di atas kijang dengan klaksonnya. Orang-orang ribut menanyakan siapa sebenarnya pemarkir mobil pikantuk. Tak seorangpun tahu atau mengaku.

Si kakek akhirnya turun. Kukira akan menyusul istrinya. Dia melewati pikantuk hitam, namun sejurus kemudian berbalik dan dengan tanpa keraguan menggoreskan kunci yang dipegangnya di sepanjang badan pikantuk hitam. Atau...mungkin aku hanya berimajinasi?

"Gila...dibaret mobilnya," gumamku takjub.

"Psst..psst...sudah mbak, ngga usah dibilang-bilang,biar jadi pelajaran" kata ibu-ibu di sebelahku.

Kembali kupikir peristiwa tadi adalah khayalanku yang memang suka mendramatisir sebuah peristiwa nggak penting (seperti yang sedan kulakukan saat ini dong, kekekeke)...sampai ketika si Kijang mundur dan memutar, aku mendekati pikantuk hitam. Sebuah cendera mata tertera di sana, di sepanjang badan, dari ujung ke ujung.

Luar bi(n)asa. Revenge, is it really sweet?

***

Jadi...apa hikmah dari peristiwa di atas, Anak-anak??!! :P

1. jangan lupa bawa kunci pager lagi...T_T supaya ngga kelamaan di pager...kekeke
2....
3....
4....