Wednesday, July 04, 2012

Untuk DKI Jakarta, 11 Juli 2012















“You may not care about politics. But politics care about you.”

Kalimat itu dikatakan oleh Jendral Aung San dari Myanmar, almarhum ayah Aung San Suu Kyi. Saya mendengarnya di sebuah bioskop beberapa bulan lalu.
Kalimat yang sederhana, tapi brilian, dan well-summarize “kegemesan” saya selama ini atas sikap anti-pati sejumlah kawan yang karena muak melihat tingkah laku segelintir…well…segerombolan politisi lantas mengidentikkan bahwa politik itu layak disingkirkan jauh-jauh dari hidup mereka, salah satunya dengan cara memilih untuk golput dan tidak peduli pada pemilihan ini dan itu.

“You may not care about politics. But politics care about you.”


Kita bisa saja tidak peduli. Jijik. Benci. Anti-pati. Alergi. Mencaci-maki. Tidak menggunakan hal pilih yang dimiliki. Tidak akan ada lagi tentara atau kaki-tangan Pemerintah yang memaksa kita ke TPS ala orde baru. Tidak ada juga aturan yang mengharuskan kita membayar denda seperti di beberapa negara lain seperti Australia, misalnya.

Tapi…tetap saja. Hasil dari proses politik yang tidak kita pedulikan tadi akan mempengaruhi hidup kita. Pemimpin yang terpilih tanpa campur tangan kita, entah dia abai atau amanah, bebal atau responsive, bodoh atau cerdas, korup atau bersih…dengan cara sekecil apapun, pasti akan mempengaruhi kehidupan kita. Beruntunglah jika kebetulan pemimpin yang terpilih tadi amanah, responsif, cerdas dan bersih…tapi jika yang terjadi sebaliknya? Kita mau apa? Mencaci-maki dan membodoh-bodohkan pemimpin yang terpilih? Toh kita sudah diberi kesempatan untuk ikut menentukan dan tidak kita gunakan…bisa dikatakan kita bisa ikut bertanggung jawab atas terpilihnya pemimpin yang payah itu karena kita menyia-nyiakan kesempatan untuk menghadangnya dari keterpilihan…

Apakah kita cukup bodoh untuk membiarkan pemimpin yang payah terpilih?

Golput atau golongan putih, dalam sejarah politik Indonesia pernah menjadi pilihan ketika memang sistem perlu diberi pelajaran. Tetapi jaman telah banyak berubah. Sistem telah memberikan lebih banyak pilihan. Meskipun jelas, pilihan yang ada tidak ada yang sempurna.

“You may not care about politics. But politics care about you.”

Kalimat ini penting untuk kita semua, terlebih khusus untuk warga DKI Jakarta, yang akan memilih pemimpin barunya (hopefully) 11 Juli nanti.