Friday, December 26, 2014

[Letter of 2014] : 1. Joko Widodo

So, I have this project to close the year of 2014 in a sweet, fun, and rather "gw-banget" way: writing letters to those who made impact in my 2014. 

The first one, is to this person, Indonesia's 7th president. I wrote the letter for a writing competition in June. The letter went through the selection process and got into the big 150 (compiled in a book that I could not find where to buy), but unfortunately failed to win me some tablets and IDRs. haha. 

But anyway...I really like this letter, and I do think more people (other than the judges of the competition, or Mr. President himself) need to read this. 

Enjoy reading this, I hope you have fun! :) 

---

Jakarta, 25 Juni 2014

Yth Bapak Joko Widodo
di hati rakyat…#eaa #uhuk

Assalamualaikum Wr Wb

Apa kabar Pak Jokowi, semoga sehat selalu, panjang umur dan senantiasa diberkahi Allah…ini salam pembuka saya, sekaligus ucapan dan doa selamat ulang tahun kepada Bapak. :)

Perkenalkan, Bapak, saya Dyah Widiastuti, biasa dipanggil Wiwie, namun di media sosial memiliki nama yang agak-agak mirip nama ngetop Bapak, yakni…@dyahwie (haha, maksa ya Pak…mirip belakangnya saja sih…). Saya warga negara biasa, kebetulan mengabdi sebagai pelayan masyarakat di kantor seberang Taman Suropati. 

Betul Pak, kita sempat bertetangga, meskipun sebentar. #infopenting

Tidak pernah terbayang di benak saya, bahwa pengalaman 10 tahun lalu akan terulang. Sepuluh tahun yang lalu, jelang pemilu presiden 2004, saya menulis surat kepada kandidat calon presiden juga, idola saya jaman SMA sampai kuliah, Bapak Amien Rais. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UGM. Dalam surat tersebut, saya menuangkan kekaguman, pujian, harapan serta wejangan-wejangan (#eh #ups) kepada capres yang saya idolakan. Kini, sepuluh tahun kemudian, ketika membaca pengumuman mengenai lomba ini, maka saya tak ragu untuk mulai menulis. Niat utamanya mungkin bukan untuk menang lomba, tapi saya berharap sekali Pak Jokowi benar-benar berkesempatan untuk membaca surat ini. 

Aamiin.

Melalui surat ini, saya ingin menyampaikan hal yang kira-kira serupa yang saya sampaikan kepada Pak Amien Rais sepuluh tahun yang lalu. Boleh ya Pak, hehehe…

Pertama, saya berharap ketika Bapak terpilih menjadi presiden nanti (aamiin, insha Allah), Bapak tetap menjadi diri Bapak yang sekarang. Diri Bapak yang sekarang, yang saya tahu adalah orang baik. Saya sudah sering diberitahu, dan diingatkan, bahwa pastinya tidak ada politisi yang idealis, namun saya percaya bahwa Bapak adalah sedikit dari politisi yang masih baik yang kita miliki sekarang. Bapak tidak korupsi, Bapak amanah, Bapak berpihak kepada rakyat kecil (penganut Marhaenisme setahu saya). Menjadi politisi dan pemimpin yang baik, saya tahu sangat sulit Pak, terlebih lagi di negeri ini. Perlu keberanian superbesar. Kalau yang ini saya menyaksikan dan mengalami sendiri Pak, dari pengalaman lima tahun saya bekerja di birokrasi.

Yang kedua Pak, saya berharap Bapak berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang oportunis di sekitar Bapak, yang sekiranya akan membawa pengaruh kurang baik, dan akan “membelokkan” Bapak dari garis kepemimpinan yang baik dan amanah. Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat sekali, saya mem-bold dan meng-underline pesan dan harapan serupa untuk Pak Amien Rais, karena melihat ini sebagai ancaman yang nyata bagi setiap pemimpin yang relatif idealis (atau saya anggap idealis, hehehe). Saya pernah mendengar cerita dari tangan pertama, bahwa masuknya lobi kaum oportunis (yang merugikan rakyat) ini adalah fenomena yang cukup mengerikan dalam sistem demokrasi kita sekarang. Sebagai pemercaya dan penganjur demokrasi, saya sangat prihatin dan sedih melihat fenomena ini semakin memburuk saja dari hari ke hari. Ini yang menjadi sumber munculnya politik transaksional, yang seringkali menjadi penyebab utama hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Dalam konteks ini, saya percaya bahwa Bapak adalah orang yang berani berkata “tidak” kepada kekuatan-kekuatan oportunis itu…, dan semoga selalu diberikan kekuatan dan kemudahan ya Pak jika benar-benar menjadi presiden nanti...Aamiin, dan Insha Allah, rakyat berada di belakang Bapak.

Selanjutnya, yang ketiga, saya berharap jika Bapak terpilih menjadi presiden, Bapak mampu menjadi jembatan bagi aspirasi kaum minoritas dan maupun mayoritas. Nyuwun sewu Bapak, ini isu yang agak sensitif karena menyangkut SARA…tetapi saya putuskan untuk tetap saya sampaikan karena mungkin tidak akan ada kesempatan lain untuk menyampaikan.

Saya tidak sedikitpun ragu, bahwa Bapak akan melindungi dan memberi rasa aman kepada kaum minoritas, seperti yang diamanahkan Pancasila, dan ini sesuatu yang sangat penting bagi Indonesia. Di sisi lain, saya juga berharap Bapak akan mampu menunjukkan bahwa kekhawatiran kaum mayoritas jika Bapak terpilih tidak akan terjadi. Bapak tentu sudah mendengar bahwa kaum mayoritas, khususnya muslim, khawatir Bapak akan mendukung kristenisasi dan membuka peluang dominasi Islam liberal dalam masyarakat kita.

Semalam saya ngobrol panjang dengan sepupu saya, yang bercerita bahwa keluarga besar kami di Jogja (yang Muhammadiyah sejak lahir dan aktif dalam pengajian di tingkat pengurus ranting) sebagian besar tidak akan memilih Bapak dengan alasan Bapak dianggap dekat dengan pintu kristenisasi, mengacu kepada rekam jejak Bapak yang menggandeng dua wakil kepala daerah beragama nasrani di Solo dan DKI. Awalnya saya menganggap ini lucu dan memperlihatkan kesempitan cara berpikir. Namun kemudian saya coba berempati kepada mereka dengan melihat bahwa mungkin ada pengalaman hidup mereka yang membentuk cara pikir ini, dan tiba-tiba saya teringat kejadian yang pernah saya alami ketika saya bahkan belum masuk ke bangku TK. Waktu itu saya sedih dan marah kepada Bapak saya, yang meminta sekelompok pemuda dan pemudi asing untuk tidak lagi datang ke dusun saya di kaki merapi setiap hari Minggu pagi. Pemuda dan pemudi itu, seingat saya mengajak kami menyanyi dan makan-makan. Baru kemudian setelah saya agak dewasa saya tahu bahwa Bapak saya melindungi kami, anak-anak dusun itu, dari (apa yang dipersepsikan sebagai) kristenisasi. Waktu kecil, saya juga sering mendengar cerita tetangga-tetangga dusun kami (yang kondisi ekonominya kurang beruntung) berpindah keyakinan hanya karena sekardus mie instan.

Saya sendiri masih terlalu kecil untuk memahami atau mengkonfirmasi berita-berita tersebut waktu itu. Namun saya kira pengalaman inilah yang membentuk sikap sebagian dari keluarga besar saya di Jogja, dan mayoritas muslim Indonesia pada umumnya. Di satu sisi, kekhawatiran mereka bisa saya pahami, bahkan sejujurnya, saya sendiri juga terkadang memiliki kekhawatiran terkait ini, hehe. Namun demikian, jejak keluarga besar saya tidak saya ikuti. 

Saya sejujurnya ingin melihat apakah kekhawatiran ini akan terbukti ketika Bapak menjadi pimpinan tertinggi nanti. 

Saya katakan kepada sepupu saya semalam, bahwa Allah pasti punya alasan kenapa kita diciptakan sebagai orang Islam di INDONESIA, alih-alih di negara lain seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab, misalnya. 

Mungkin alasan Allah, salah satunya, adalah agar orang Islam di Indonesia belajar bertoleransi, belajar mengamalkan Islam yang bisa menjadi pengayom bagi saudara sebangsa yang bhinneka, belajar menjadikan Islam sebagai “rahmatan lil alamin” bukan sebatas “rahmatan lil muslimin”.

Harapan saya, Indonesia di bawah Pak Jokowi akan menjadi negeri yang lebih ramah dan adil kepada minoritas, namun saya juga berharap bahwa kondisi yang demikian ini bukan kemudian sesuatu yang buruk dan merugikan bagi kaum mayoritasnya, bahkan mungkin justru bisa menjadi “ladang amal” yang baik bagi mereka. Saya berharap baik kaum mayoritas dan minoritas akan sama-sama tenang dan tenteram, sehingga tidak ada pihak yang merasa insecure. Saya sendiri masih belum kebayang bagaimana langkah rinci untuk menciptakan kondisi ini, tapi saya sungguh berharap Bapak berkenan memikirkan dan mewujudkannya nanti…Saya siap bantu deh Pak, jika diminta. :)

Bapak Jokowi yang saya hormati, yang keempat, saya berharap jika Bapak terpilih nanti, Bapak berkenan untuk keep in mind bahwa Bapak adalah role model dan inspirasi bagi seluruh jajaran di birokrasi. Dua tahun yang lalu, ketika Bapak baru saja terpilih sebagai Gubernur DKI, saya hanya membayangkan saja bahwa anak-anak muda lulusan terbaik yang idealis berbondong-bondong ingin menjadi pegawai negeri jika presidennya adalah Pak Jokowi. (Waktu itu tidak terpikir bahwa Bapak akan benar-benar nyapres). Untuk mereka yang muda, idealis, lulusan terbaik, figur seperti Bapak matters, di tengah jebloknya pandangan masyarakat terhadap profesi pejabat publik dan pegawai negeri sipil pada umumnya. Untuk saya, ini urgen sekali, karena saya menemukan semakin besarnya rasa frustrasi dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pejabat publik dan birokrasi pemerintah kita pada umumnya, yang jika dibiarkan berlarut-larut akan berbahaya bagi keberlanjutan demokrasi kita (karena kemudian mereka jadi rindu sistem lama yang lebih otoriter).

Munculnya Pak Jokowi, Bu Risma, Pak Ahok atau Pak Ridwan Kamil, adalah generasi baru Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir, yang membuat saya berani sedikit berharap, bahwa rasa frustrasi dan ketidakpercayaan itu bisa dicegah agar tidak semakin bergulir membesar. Pemimpin-pemimpin seperti Bapak dan nama-nama yang saya sebutkan di atas saya harapkan akan terus ada dan bertambah banyak, juga untuk menginspirasi kami bahwa kami adalah “civil servants”, pelayan masyarakat, dan bukan sekedar pegawai negara.

Oh ya Pak, sebelum saya akhiri surat saya yang panjang (hehe, jangan-jangan Bapak sudah ketiduran baca surat ini karena saking panjangnya…) ini, saya ingin menyampaikan bahwa Bapak had done quite well di debat capres untuk isu Politik Internasional dan Ketahanan Nasional. Sebagai anak HI tulen, saya merasa surprised Bapak bisa belajar banyak dalam waktu singkat,…hehe, meskipun kelihatan agak grogi dan masih perlu melakukan pendalaman untuk beberapa isu sih, Pak. Tapi all in all, Bapak oke. 

Ternyata ucapan Bapak “wajah ndeso, otak internasional” itu bukan sekedar jargon kampanye ya... :D

Demikian Bapak, surat panjang yang mewakili suara hati saya sebagai rakyat Indonesia yang punya banyak kepentingan: sebagai seorang Indonesia, seorang muslim, seorang pemercaya dan penganjur demokrasi, sekaligus sebagai seorang seorang civil servant, calon anak buah Bapak nanti, aamiin. :D

Salam hormat saya untuk Ibu Iriana dan Pak JK ya Pak…jaga kesehatan selalu, dan semoga senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran, keberkahan dan keamanahan menuju 9 Juli nanti, dan untuk seterusnya. 

Terima kasih banyak sudah berkenan membaca. :)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Hormat saya,
Wiwie
@dyahwie

President Joko Widodo, taking the oath, with the Quran above his right shoulder
[photo source: http://d.ibtimes.co.uk/en/full/1405319/widodo-indonesia.jpg]

Saturday, September 06, 2014

Gengsi?

Posting ini sudah lama dipikirkan, namun baru sekarang dituliskan (akhirnya). Diniatkan sebagai #notetoself untuk #revolusimental yang telah dicanangkan dan prioritas personal yang telah ditetapkan (tsaah, bahasa akuh sangat Tim Transisi :p). Dan mumpung masih insomnia karena jet lag dan alasan-alasan lainnya. ;)g

Lebaran kemarin, tanpa sengaja saya menonton acara kompetisi hafiz (penghapal) Quran cilik di sebuah TV swasta. Hehe, ketinggalan banget ya, baru tahu ada acara yang bikin terbengong-bengong gini. Yep, anak-anak kecil mungil, tapi hapalan ayat Quran-nya bikin saya malu, dan bertanya pada diri sendiri: ngapain aja hidup selama ini jumlah hapalan surat pendeknya bisa dihitung dengan jari? Ouch.

Kali ini dewan juri membuat skema baru untuk para peserta, di mana peserta yang biasanya berkompetisi secara individu dipasang-pasangkan dalam tim yang terdiri dari dua orang. Salah satu tim terdiri dari dua orang anak perempuan kecil, mungkin berumur delapan atau sembilan tahun. Nama kedua anak perempuan ini Sabrina dan Sausan. 

Sabrina sepertinya anak perempuan yang menyenangkan. Ceria, senyam-senyum dan dengan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri yang terdiri dari seorang Pak Ustadz, Deasy Ratnasari dan satu lagi artis perempuan yang tidak saya ingat namanya. Sementara Sausan, lebih banyak diam, dan punya kebiasaan memantul-mantulkan kakinya. Mungkin karena gugup, tapi kesan yang muncul adalah over-confident. Atau dalam bahasa Jawa ala Jogja, saya akan menyebutnya "nggleleng". Sausan hampir tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri tentang perasaannya diduetkan dengan Sabrina. Hampir semuanya dijawab oleh Sabrina.

Namun ketika tiba giliran di-tes hapalan Quran-nya, Sausan terlihat super pede dan menjawab sebelum pertanyaan berakhir (bentuk pertanyaannya meneruskan potongan ayat gitu).

Ibu saya (yes, nonton sama ibuk-bapak, kader Muhammadiyah yang cukup militan, dan  penggemar acara-acara beginian :D) berkomentar bahwa Sausan ini agak sombong dan "nggleleng" itu tadi. However, saya justru membatin...Sausan reminds me a bit of myself. Untung saya lagi agak waras...kalo lagi nyebelin mungkin saya akan nyeletuk: "relax mum, look at your very daughter. she could be much more horrible than that." wkwkwkwk. :p

Setelah tes selesai untuk Sabrina dan Sausan, kembali mereka berdua ditanya-tanya oleh para dewan juri. Salah satu pertanyaannya begini:

"Sabrina dan Sausan saling sayang nggak? Gimana, seneng nggak jadi satu tim? Kalo sayang ayok bilang sayang ke satu sama lain."

Hanya Sabrina yang menjawab. Sausan diem aja. Ketika dewan juri bilang "Kalo sayang, peluk dooong." pun, hanya Sabrina yang berinisiatif maju memeluk Sausan.

Akhirnya Pak Ustadz, satu-satunya juri laki-laki angkat bicara. Beliau menegur Sausan.

"Sausan...Sausan nggak boleh gini ya...jangan gengsi-an untuk bilang sayang. Apalagi nanti Sausan kan jadi ibu...kan harus ngungkapin sayang sama anak-anak Sausan. Latihan ya, Nak....untuk nggak gengsian...."

Lupa kalimat persisnya bagaimana, tapi kira-kira begitulah.

Sungguh saya sebelumnya tidak terpikir kata-kata Pak Ustadz itu. I mean, I never thought of the drawbacks of being gengsi-an in expressing compassion. Nggak gampang ngungkapin rasa sayang, lho. Alasan saya sih karena dalam bahasa ibu saya ungkapan sayang terdengar awkward. Try this: "Aku tresno marang kowe, Buk, Pak, Mas, Le" OMG. Hahaha. Dibayangin aja udah geli setengah mati. Dalam bahasa Indonesia pun masih terdengar awkward. "Aku sayang Ibu, Bapak." Whew.  Dalam bahasa Inggris paling mending, mungkin. Salah satu indikator kegengsian saya yang lain adalah rendahnya frekuensi menangis (di depan publik) saya dibandingkan teman-teman Tim Perumus SabangMerauke. Joke-nya adalah otak saya tidak memiliki amygdala bahkan (bener ora nulise iki?). :p

 Intinya, saya semakin menyadari bahwa nasihat Pak Ustadz untuk Sausan sangat relevan juga untuk saya. There is actually a valid reason why I should consider a bit of change in me.

So...wish me luck? :D


Sunday, August 10, 2014

The Pledge

Pak Quraish Shihab suatu kali pernah ditanya, waktu itu dalam suatu kajian Tafsir Al Mishbah yang disiarkan oleh MetroTV jika saya tidak salah ingat.
"Jika untuk laki-laki, Allah menjanjikan bidadari di surga, apakah untuk perempuan Allah menjanjikan juga bidadara?"
(wkwkwkw, the term"bidadara" kok rather nggilani ya...padahal kasusnya kan sama kayak "pramugara" for "pramugari")
Jawaban Pak Quraish waktu itu saya tidak ingat persis kata per kata. Tapi sepertinya as keren as always. Hehehe.
Intinya beliau mengatakan bahwa karakteristik perempuan itu beda dengan laki-laki. Buat perempuan, kesetiaan jauh lebih penting daripada ketampanan fisik. Jadi dalam Quran tidak pernah disebut-sebut bahwa dijanjikan para bidadara se-rupawan Harry Styles (of One Direction, ahaha) atau se-charming Robert Downey Jr (as Sherlock Holmes) untuk para perempuan salihah. Buat mereka akan jauh lebih penting reward untuk berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka sayangi semasa di dunia. Tapi apakah ini disebutkan secara eksplisit di dalam Al Quran, saya juga ndak ingat, hehehe.
Tapi kira-kira begitulah penjelasan Pak Quraisy mengapa janji reward di akhirat itu bunyinya lebih ke bidadari instead of bidadara. :p
Saya catet di sini soalnya ini salah satu pertanyaan yang pernah saya tanyakan ages ago tentang Quran (maklum daya kritis saya sudah terasah sejak masih unyu wkwkwk), dan rupanya yang bisa jawab pertanyaan macam ini adalah scholar selevel Pak Quraisy....
So, what does the note imply?
I think...even the Quran admit this...women, even though they're said to be better at (mind) multitasking...they probably do lousier job in heart-multitasking a.k.a multitasking hati, compared to their male counterparts.
And probably, we just have to deal with that. And make peace with that.
Probably.

Wednesday, July 23, 2014

The (Rather Shabby) Birthday Note! :p



I am turning 31 on the commuter line's train. :D

I started drafting this post while I got on the last train home. I am not sure what to say about this, really. Haha. But I just had a long dinner/meeting with the awesome mates, future Indonesia's president and future Minister of State Owned Enterprise (amen to that ). 

I wish I were on my bed already, making check marks on my last birthday resolutions. However, this is not so bad as well. :) All I want to remind myself is the two verses I'd have inked on my inner left wrist, had tattoos were halal:

"Is there any reward for good other than good? Then which of the Blessings of your Lord will you deny?"

31 years, He has given me opportunities to live, to experience things, to meet people, to see places, and to feel feelings (nggak nemu diksi yang bagus, jadi feel feelings haha). Countless of blessings, I must say. And did I tell you that my mum nearly experienced a miscarriage when I was about 3 months in her womb? So, I am a really really lucky one to survive, indeed!

31 years is also sufficient to embark on a conclusion, that among other things (such as world peace and Indonesia's consolidated democracy, hell yeah haha), my life's mission is to be my significant other's source of happiness and peace of mind. (please don't laugh, although it does sound funny! haha)

Inspired by Gandhi, to arrive there, I must be happy myself first. I must be able to have peace of mind, to begin with.

Obviously, those two will be my major homework from this moment on.

The date on my mobile phone turning 17 of July when the train arriving at Universitas Indonesia station. And the radio playing John Legend's "All of Me".

:)
Whatever, Dear Lord, I could never thank You enough. :')


(17 July 2014 was a bit of drama , so this rather shabby post is uploaded today :p ) 






Tuesday, July 15, 2014

On Bastian Schweinsteiger, Eight Years Later

There's something special about this world cup final.

Nope, of course not that England finally reached the final, and football finally came home. Haha.

It's Germany vs Argentina in the final. It was Bastian Schweinsteiger that made it special. I am neither Germany's nor Bayern Munchen's fan. I've been loyal to The Three Lions and English Premiership since the first time I knew football.

However, in 2006, out of the blue, after the World Cup tournament finished, hosted by Germany and won by the Italian, I wrote a letter (yes, handwritten, with envelope and stamps) to Sebastian Schweinsteiger. He was very young, and super impressive. He cried miserably on Juergen Klinsmann's shoulder after the painful defeat from Italy (fyi, I have never liked Gli Azzuri). I felt very sorry for him, and I thought he deserved to be written a letter to. Haha. And I've never even written any letter to Eric Cantona, my inspiration! You can see how spontaneous the Schweini letter was.

So, in my letter, I told Schweini that he should not be so sad, he was so talented, young and would have another chance to win the world cup title in the future. I still remember vividly the paper and my (rather nicer than today's) handwriting, telling those words just like he was a little baby brother of mine. Shame that I did not take any pic of the letter (unlike today, 8 years ago mobile phones with cameras were not yet a household item).

And guess what? He replied to the letter! Well, he did not write back a proper letter of course, and probably it was the Bayern Munchen's clerks who did the stuffs...but a picture of him with a signature arrived with envelope and stamps, from Munchen to Sleman (yeah I lived there at that time).

All The Way, From Munchen to Sleman ;)


I don't know whether he got the chance to read the letter or not...but this morning, 8 years after the very letter, western Indonesia's time, I saw him won the world cup title. He was bleeding on the face, got injured by the opponents, and covering the whole midfield for the glory of his team. (Check his moments in the final through pics here!)

Technology has improved so much in the past eight years, that now I get to congratulate him realtime via his "verified" twitter account. Probably he won't get the chance to check his twitter for the coming a month or so (busy celebrating maybe), but I did tell him that I was happy that he won the title. :)

Anyway, congrats Basti! You and your team deserves the title. Thank you for inspiring us that even hard work, talents, and technology like that of the Germans may need the whole eight years to finally succeed. :)





14-07-14


-written mostly while commuting- 

Monday, June 16, 2014

Tentang Manifesto Tulisan Dyahwie

Terinspirasi (uhuk) salah satu parpol peserta pemilu yang baru-baru ini meluncurkan manifesto-nya yang menggegerkan, saya merumuskan manifesto saya dalam menulis. Agak tidak sengaja sih, dan awalnya hanya saya microblog-kan di Twitter, menyambung tweet saya sebelumnya yang self-asking "kapan nulis lagi?"(thanks to Twitter, now speaking to ourselves doesn't count as symptom of insanity :p)
Namun karena sepertinya penting banget, saya putuskan untuk dipindah ke blog ini dan diberi tambahan narasi.

Sebenarnya, apa sih manifesto itu?

Manifesto, kata kamus Oxford adalah kata benda - Noun (plural manifestos), yang berarti "A public declaration of policy and aims,especially one issued before an election by a political party or candidate".
Nah pas kalo gitu kan? :p

Jadi ini adalah policy dan aims saya dalam menulis, yang saya deklarasikan. Tidak necessarily terkait dengan pemilu sih pengennya (tapi mungkin terutama karena jelang copras capres 9 Juli ini saya ingin menulis berbagai hal yang berpotensi membakar esmosi jiwa massa, maka perlu ada policy and aims yang jelas biar ndak banyak dosa hahaha), tapi berlaku seterusnya dan terjaga konsistensinya.

So, here's the manifesto:
1) tuliskan kebenaran (truth)
2) tuliskan pengetahuan (knowledge)
3) tuliskan kebaikan (goodness)
4) tuliskan harapan (hope)
5) tuliskan manfaat (iki opo yo bahasa inggris yg pas...hemm)
6) tuliskan cinta (love/compassion)
7) :) (no need to translate lah)

Pretty much what I aspire to write, flexible enough as a "corridor" (halah bahasane superteknokratis tetep).
Anyway, semoga membantu mengarahkan dan menyemangati dalam menulis ya Kak! :D



Tuesday, June 10, 2014

What a Treasure Means


I don't read the holy quran as frequent as I used to (I know, I know, I really need to do something about this), but it still play an important role in my life (haha, ampun ya Allah). I quoted it for my facebook profile (yeah that kind of role *ikon monkey tutup muka di watsap) at the minimum level, and try to look it up once in a while (level krisis imtaq = rada gawat, HELP!).

So, among several mushafs I still keep, there's one special quran. It is navy blue and gold in colour, with English transliteration. Published by the authority of the Kingdom of Saud. I got this particular quran in Tokyo, Ramadhan 2004. I think it was from a mosque in Yoyogi Uehara Station.
What is so special about the quran?

Well, first of all, it has the most beautiful English transliteration i've ever seen. Everyone knows that I have this particular fascination for everything English. Haha. I don't know, somehow the verses sound cooler when I read and write them in this language. :p

Secondly, I got it in Tokyo, a very special place where I learned about Islam (a rather bizarre phenomenon but it's quite self-explanatory for those who ever experienced living a (practicing) Indonesian muslim life in Tokyo), international-intercultural friendship, and probably where I learned to live far far away from the family for the very first time. 

Finally, the quran has undergone quite a tough yet rather historical moment. On 27 of May 2006, it was buried under the ruins of a house in Southern Jogja, several kilometres only from the epicentrum of that very morning earthquake. It was my closest-to-death experience. A literally bloody head, some stiches and 2 weeks of frustration, if I can summarize it. I did not expect that I could still have it after the earthquake. But apparently some people managed to save and return it to me. The heavy rain that fell on the night after the quake has made the paper in the book rather wavy and dirty. I don't mind really. Instead, the physical condition of the navy blue quran will always remind me what it has been through. And what nearly happened to me.

The quran is indeed a treasure to me.

As I drafted this post, I realized that Ramadhan is coming very soon. I could remember precisely that the Ramadhan when I got the quran was in October-November of the year 2004. However, according to the lunar calendar, the quran will be 10 year old soon. A decade. Oh how time flies. And I've never even read it properly. Let alone memorise its content.

Will I read and learn it more after I write this post? I am not sure, but I know I have no reason for not doing it.

Ganbarimashou ka? 
Doakan saiah, Kaks! :D

#notetoself: harus bikin target kuantitatip dan timeline biar sukses!! #terbappenas :p

- drafted mostly during commuting using the KRL :p -

Friday, May 09, 2014

The Most Impressive Remarks from The #OGPBali Asia Pacific Regional Conference

Just a quick update from me! :D

I was lucky to attend the Open Government Partnership Asia Pacific Regional Conference in Bali earlier this week. A very interesting and important event, I must say. Here's a picture of me at the conference :




*:p #pentingbanget*

And I was even luckier to listen to this very inspiring remark delivered by the CSO Lead Chair of OGP, so I've decided to share the speech here in my blog. As a reminder for myself, a civil servant, a part of the government. And also to inform the people out there, that they deserve to have an open and responsive government, as depicted by this impressive remark.

In addition, this remark can also be a reference to write powerful and meaningful speech. :p

So, enjoy! :)

----



Open Government is Responsive Government
Remarks Delivered at the Asia Pacific Regional Conference
of the Open Government Partnership
Rakesh Rajani, Twaweza, 6 May 2014

President Susilo Bambang Yudhoyono
Ministers, Civil society leaders, colleagues, friends, delegates:

At our warm, welcoming dinner in Bali a few days ago, we witnessed a wonderful presentation of the Ramayana story, of the epic battle between good and evil, of an intense struggle for power. The narrative is familiar to me. As a young boy growing up in my hometown of Mwanza, Tanzania, my grandmother used to tell me the story on many evenings. The details are etched clearly in my mind, and probably continue to influence, in part, how I see the world.

In the Ramayana, what is good and what is evil is not ambiguous. But for many of us today, the challenges we face are less clear. The deeper challenge of our time is whether we live in societies that are more open or more closed; about the quality of the space for citizens in the regimes in which we live.

So how can we know that a government is open?

One of the most critical features of openness is responsiveness. Today I would like to speak with you about four features of a responsive government.

First, an open government is a listening government. It is interested in peoples thinking. It wants to know their concerns, needs and priorities so that it can respond. What matters more, access to water or the quality of the roads? Or is it the bad treatment they receive by the medical staff or the fear they experience from the police? Or the freedom to live their lives and make personal choices without being told that is wrong?

A listening government also knows that it does not have all the answers, and that some of the best ideas to make life better will come from people. So it actively seeks, and sets up practical mechanisms across different branches and levels of government, to solicit ideas and suggestions. It listens to experts and cares about evidence. It is a telling, and unusual, testament of the leadership in this country that President Yudhoyono has personally promoted the work of the Joint Poverty Action Lab (JPAL) so as to foster evidence based policy making.

In addition to informed experts, a listening government asks for ideas from ordinary people and civil society. Imagine, for a moment, the power of that. For an old fisherman or bus driver or cook or teacher who has been used to the government telling him or her what to do and not do who is a little scared of government to now experience government as truly interested in what he thinks or the suggestions she has to solve problems. Imagine what it does for the relationship between the state and the people, about what it does to public trust.

We take inspiration from how Minister Kuntoro, the head of the Presidential Delivery Unit here in Indonesia, dealt with the daunting humanitarian crisis in the Aceh disaster by establishing a transparent platform and sharing information openly on who is doing what where. These experiences have informed the development of Lapor, a platform for continuous citizen feedback. And I note that on social media, President Yudhoyono takes input from 5 million twitter users and over 2.5 million Facebook friends.

Second, an open government informs and educates. It understands that it needs to explain to the public what is going on in the country, what the government is doing and the basis of its policy and budget choices. It explains the nature of trade-offs, such as why some services are free and others are not, or why certain hard decisions must be made, and subjects those decisions to public scrutiny by inviting public debate on those choices.

An open government makes polices and data open. In the United States the Obama administration has opened up over 200,000 federal data sets to every person with online access. In the UK, the government is exercising similar leadership, in partnership with the Omidyar Network, My Society and others. Standards are being developed to make these meaningful, such as disaggregating data to a level that makes sense for local citizen services, and requiring it to be machine readable, so that users can mash and analyze the data. An open government also opens up budgets, by making budget documents and data open, on both budget plans and execution, and the reports of the national audit office. The Open Budget Index (OBI), which ranks countries by budget openness, shows how despite governance challenges, countries such as New Zealand and South Africa are world leaders in budget transparency. 

That said, an open government realizes that there is not a straight line between policy and implementation, between the letters of the law and how they are translated by officials, between orders of a president and the reality on the ground. For this reason, an open government is particularly interested in monitoring practice.

In India, for instance, Nikhil Dey of the civil society group MKSS and his colleagues have invented a practice of painting public budgets on village walls, so that people can know what the plans say and follow up how they match with reality. Using the countrys Right to Information law, through social audits that involve ordinary people, across thousands of communities, they have shown how registers are full of ghost workers and fabricated buildings. By doing so they put public officials on notice to be accountable to the people they are meant to serve.

Third, an open government engages with citizens. It doesnt just say give us your ideas and then trust us and leave us alone. Rather it involves people in the process of governance. It co-governs.

In relation to the MKSS work in India, the response from government has been mixed. There has been a lot of resistance and intimidation. But not everywhere. Some states have embraced the approach and adapted the practice in their governments.

Similarly, the civil society organization the Concerned Citizens of Abra for Good Government (CCAGG) in the Philippines is engaged in monitoring and auditing public infrastructure projects. From the start CCAGG has adopted an approach of constructive engagement, and at times critical collaboration, toward government. It has worked with many parts of central and local government. At first, government engineers belittled CCAGG reports because not all monitors were engineers. Bot over time and with persistence, they changed their mind. The impact of CCAGGs monitoring work can now be seen in policy changes relating to procurement and audits.

These ideas are spreading across the world as hundreds of CSOs and some governments use this experience to fashion social audits of their own.

There are many other forms of engagement. The UK, for instance, has developed the concept of 'open policy making', seeking to create an innovative process involving government and civil society to craft the main norms and rules that regulate society. Or Mexico, where a tripartite group consisting of the executive, the Freedom of Information Commission, and civil society collaborate together to co-shape the country's open government plan. Collaboration means mutual respect but not co-optation; even as they seek to listen and reach consensus, each side maintains its independence and values.

Fourth, an open government protects. It protects all people, but it particularly protects those who have little power. Here I have three groups in mind.

The first group involves people who are historically disadvantaged. Women make up half the population, but they do not enjoy equal security, voice, access, pay or power. In many of our societies children and young people make up more than half the population, but that balance is not reflected in decision making and public safety. An open government makes sure that these 'silenced' majorities are heard and have a fair chance in life.

The second group, that is especially important in a democracy, is minorities. An open government works hard to listen to majorities, but it works even harder to listen to and protect the rights of minorities. These include religious and ethnic minorities, such as the Rohingya in Myanmar. It includes people with disabilities. It also includes people with different life preferences, such as people who love others of the same sex.

The third group includes people who are critics of government. This is especially hard, particularly when the critics are being harsh or unreasonable or causing unease in society.  But the true test of an open government is not only to do the things that we all like, but to protect the space for dissent. To celebrate whistleblowers who expose corruption and journalists who tell the truth. A real leader signals to colleagues in authority that it is important to welcome different and critical ideas, because that is how innovation happens, change happens, growth happens, and how public trust is built over time.

In conclusion, then, an open government is a learning government. It takes risks. It tries out different things. It learns and changes; it is better and more effective today than it was yesterday. So every member of OGP, every government, and every government leader needs to be able answer the questions: What have you learned? What do you realize you were wrong about? What do you know now that you did not know before? What will you change and do differently as a result? And at all times remember that the most important metric is how what we are doing is improving people's lives.

To achieve this there are no easy answers. There are no blueprints. It will take humility and curiosity and courage. But with these three qualities, we can move forward.

Thank you. 


Monday, April 28, 2014

Catatan Saya Tentang Kartini


Setiap 21 April, kutipan-kutipan dahsyat dari seorang perempuan muda Indonesia yang hidup beberapa abad lampau bertebaran di media. Salah satunya bisa dilihat di laman ini.

Mengapa mengawali tulisan ini dengan kutipan? Karena saya termasuk penentang peringatan Hari Kartini dengan cara berlomba-lomba memakai kebaya dan dandanan menor yang tanpa esensi. Kartini her very self saya yakin akan prihatin juga kalo berkesempatan menyaksikan cara sebagian dari kita memaknai Hari Kartini.

So...seperti tahun lalu, saya memilih satu kutipan favorit untuk saya pasang sebagai status di Facebook, sebagai ungkapan rasa respek saya kepada Kartini, yang menurut saya jika hidup di jaman ini pasti akan sehebat [atau bahkan lebih hebat daripada] Hillary Clinton atau Sri Mulyani Indrawati. Perempuan cerdas, pemberani dan tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Tahun lalu, saya ingat,  saya memasang kutipan "teruslah bermimpi", sedangkan tahun ini saya mengunggah kutipan "Aku mau!".

Namun ternyata kutipan paling berkesan Kartini tahun ini baru saya temukan ketika menonton acara favorit baru saya, Indonesia Lawak Klub (ILK). Di akhir acara yang bertema Hari Kartini, Kang Denny sebagi emsi membacakan kutipan Kartini berikut:

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
- Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901-

Touche!
Kutipan ini membuat saya speechless. #halah

Menurut saya kutipan di atas menunjukkan pemahaman Kartini yang tinggi tentang ajaran agamanya di satu sisi, sekaligus kemampuan berpikir kritis dan logis di sisi yang lain. Hal yang luar biasa pada jamannya, di mana sekolah saja susah, internet belum ada, apalagi twitter dan google sebagai tempat bertanya. *round applause untuk Kartini*

Saya pernah mendengar bahwa Kartini memiliki perhatian khusus terhadap ajaran Islam. I have no doubt about it. Sebagai seorang perempuan yang memiliki pikiran sekritis itu dan hidup di jaman yang nggak kebayang payah dan tidak adilnya seperti apa, saya bisa membayangkan Kartini pasti punya banyak pertanyaan tentang ajaran Islam. Haha, saya sotoy banget yah. I know....I just...feel her, maybe?:p

(Ada dua tautan mengenai kaitan Kartini dengan Islam yang saya temukan, pertama yang menurut saya cukup masuk akal di sini, dan yang kedua penuh dengan praduga konstipasi wahyudi yang bikin geli dan tepok jidat sendiri di sini.) 

Singkat cerita, kutipan Kartini ini kembali mengingatkan saya tentang definisi keberhasilan seorang perempuan yang saya pernah utarakan kepada bos pertama saya beberapa tahun lalu. Buat saya, sehebat-hebatnya seorang perempuan di ranah publik, tetap saja penting baginya untuk bisa memainkan peran luar biasa yang hanya perempuanlah yang bisa memerankan karena Tuhan menentukan demikian, yakni sebagai seorang istri dan ibu. Definisi keberhasilan itu saya rumuskan ketika baru mentas dari kelas "Gender dan Politik" yang merupakan salah satu mata kuliah paling berpengaruh terhadap jalan hidup saya (selain tentunya semua mata kuliah di bawah judul Studi Perdamaian), hehe.

Saya tidak bisa tidak sepakat dengan Kartini: perempuan harus cerdas, harus tercerahkan...karena mereka lah yang akan menjadi "the first school" ["madrasah pertama"] of the next generation.


Jadi, mumpung masih bulan April, saya mengucapkan selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia, dan semua laki-laki Indonesia yang menghormati dan menghargai perempuan sebagai madrasah (calon madrasah) pertama bagi anak-anak mereka (kelak). :)


Selamat Hari Kartini. Let us be inspired. Let us be enlightened. Amen.


*ps: mohon maap bahasanya jadi serius begini, sepertinya efek ikutan ngedit draft pidato musrenbangnas tadi siang hahaha...



Tuesday, April 08, 2014

Sebelum Memutuskan untuk Golput Besok Pagi...

"Selamat memilih, semoga kita menghasilkan pemimpin yg lebih baik!"

Pak Ketua KPU menutup pidatonya di TVRI beberapa menit lalu. Sesungguhnya saat ini saya sangat ingin tidur. Maklum dari kemarin belum sempat tidur dengan proper, karena tadi pagi harus mengejar pesawat pertama dari Soekarno-Hatta. Namun saya abaikan semuanya, dan saya lanjutkan mengetik di sini, untuk menegaskan satu hal:

Jangan golput di Pemilu Legislatif 9 April ini.

Kalimat ini segitu pentingnya buat saya. Mengapa? Begini runtutan argumennya:

menggunakan hak pilih --> menjaga berjalannya proses pergantian kepemimpinan yang damai dan nirkekerasan --> menjaga keberlangsungan demokrasi -->  menjaga keberlangsungan perjalanan bangsa di track yang benar --> membantu terwujudnya cita-cita dan tujuan bangsa dan negara (melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan turut serta dalam perdamaian dunia).

Anda mau mendebat pendapat saya bahwa demokrasi adalah "track yang benar"? Monggo, silakan. Tapi saya ingatkan kembali bahwa ongkos tidak berdemokrasi sangat mahal. Contoh? Peristiwa 1965 dan peristiwa 1998. Itu adalah contoh pergantian kepemimpinan yang tidak demokratis/tidak damai yang pernah terpaksa kita jalani.

Di masa Orba, orang memilih golput karena memang pemilu adalah alat untuk melanggengkan sistem dan tatanan yang represif alih-alih untuk membangun demokrasi. Jaman itu golput adalah sikap politik yang keren. Sekarang? Konteksnya sudah berubah. Pemilu, insya Allah, sudah menjadi perangkat demokrasi, alat untuk melakukan suksesi kepemimpinan dan perwakilan dalam tatanan yang (aspiring to be) democratic.

Masih tidak setuju dengan alasan bahwa tidak ada satupun caleg yang layak dipilih?

Baiklah...saya ingin mengutip beberapa pendapat yang menurut saya kena banget terkait mengapa kita tidak boleh golput. Silakan simak:

"Golput 90% pun tak membatalkan pemilu. Berapapun yang datang ke TPS dan memilih, kursi DPR tetap dibagi habis." (Mahfud MD)

"Sekarang pilihannya gini: kita gak milih, tapi kelompok pro status quo tetap milih dan tetap bercokol di kekuasaannya. Mau ambil pilihan yang mana? Milih, awasi, dan tagih janji, menjadi warga yang kritis lahir batin. " (Titi Anggraini - Perludem) 

"One of the penalties for refusing to participate in politics, is that you end up being governed by your inferiors." (Plato)

"Minimal kita memilih untuk mencegah yang PALING buruk yang menang pemilu." (Eric Hiariej - Dosen FISIPOL UGM)

 Ngomong-ngomong, sebelum memutuskan bahwa tetap tidak ada caleg yang layak dipilih sehingga Anda sudah selayaknya golput, coba tanyakan kepada diri sendiri: sudahkah kita berupaya sedikit saja mencari informasi mengenai para kandidat ini? Jawablah dengan jujur.

Saya ingin coba mengungkapkan bahwa pemilu kali ini kita lebih beruntung dibandingkan lima tahun lalu. Lima tahun lalu, saya cukup ingat bahwa:

1) website KPU belum seinformatif sekarang, yang dilengkapi dengan downloadable CV masing-masing kandidat. Coba liat web KPU sekarang:  http://dct.kpu.go.id/index.php 


2) belum banyak platform (online) yang dibuat oleh kalangan masyarakat sipil yang menginformasikan kondisi kelayakan para kandidat legislatif kita seperti sekarang ini. Simak link-link di bawah ini:

http://litsuscaleg2014.wordpress.com/ --> liputan khusus mengenai caleg, good addition to the CV
http://www.bersih2014.net --> referensi caleg yang bersih
https://docs.google.com/file/d/0B5Oc2V6lhwrIeUVyWEF0cVNuOGM/edit --> referensi dari masyarapat pendukung pemberantasan korupsi

Saya terkesan dengan website KPU, dan saya juga sangat amazed dengan berbagai platform online yang memberikan informasi yang melengkapi website KPU mengenai masing-masing kandidat legislatif. Sekali lagi, lima tahun lalu saya ingat betul saya sendiri juga tidak tahu harus mencari informasi ke mana, tetapi waktu itu saya merekomendasikan memilih caleg perempuan dengan sejumlah alasan (baca di link ini ).

Cobalah periksa dan telusuri tautan di atas, cermati. Gunakan akses dan kemampuan serta kecerdasan yang Anda miliki dengan pemahaman bahwa menggunakan hak pilih dengan bertanggungjawab akan membawa kebaikan bagi bangsa. Saya yakin kita bisa mengubah budaya malas/menunggu disuapi yang selama ini masih melekat erat pelan-pelan akan bisa kita kikis, dan rekonstruksi menjadi budaya yang lebih peduli dan proaktif.

Anda memutuskan untuk tetap tidak memilih? Hehe, jika sudah sampai di sini, maka itu terserah pada diri kita masing-masing. Mungkin standar Anda tinggi sekali (been there, done that, many times, in different context...oops, haha), mungkin juga Anda sedari tadi tidak sependapat dengan argumen saya mengenai pentingnya partisipasi dalam pemilu dalam konteks yang lebih luas. Namun tentu Anda harus siap dan paham dengan konsekuensinya. Ketika Anda tidak memilih padahal sudah diberikan hak pilih, berarti Anda juga secara logis memilih untuk melepas hak Anda untuk mengkritisi hasil proses ini nanti. Mau protes anggota DPR yang terpilih itu korup, males, atau bodoh tak terhingga? Wah, ya maaf,...Anda telah melewatkan kesempatan untuk campur tangan dalam proses terpilih/tidak terpilihnya mereka kok. :)

Apapun keputusan Anda besok pagi, yang terpenting, misi saya melalui tulisan ini untuk menuangkan apa yang saya pikirkan dan renungkan hari ini sudah tuntas. Sekarang saya bisa shalat isya' dan bobo nyenyak.

 So...selamat memilih, semoga kita menghasilkan pemimpin  wakil rakyat yg lebih baik! :)

The Morning I Landed in My Hometown. To Vote

Wednesday, April 02, 2014

Tiga Menjadi Trauma

Jadi. Ada tiga macam makanan yang kini terekam di kepala saya sebagai trauma.
Pertama. Bakso. Di akhir masa sarjana saya, di suatu sore yang hujan, dalam kondisi fisik dan pikiran yang tak tergambarkan saya makan bakso. Sampai sekarang saya masih ingat rasanya semua makanan itu tertolak oleh perut saya yang tidak bahagia. Saya ingat persis kejadiannya. Sejak saat itu saya berkata pada diri sendiri: saya tidak suka bakso. Beda dengan Pak Obama.
Kedua. Brokoli. Di suatu petang di London Utara. Semua brokoli termuntahkan lagi. Tidak tahu persis kejadiannya bagaimana. Sejak itu brokoli bukan sayuran favorit saya lagi.
Ketiga. Tahu gejrot. Saya kira saya menemukan makanan Indonesia favorit saya pada tahu jenis ini. Kenyataannya, kemarin malam, untuk pertama kalinya di #sebelasjendela saya merasakan kembali pengalaman dengan bakso dan brokoli. Makan malam dengan tahu gejrot (saja) sungguh bukan ide yang baik tampaknya.
Sungguh saya harus bersyukur. Hanya tiga. Dalam waktu hampir satu dasawarsa. :)