Monday, April 28, 2014

Catatan Saya Tentang Kartini


Setiap 21 April, kutipan-kutipan dahsyat dari seorang perempuan muda Indonesia yang hidup beberapa abad lampau bertebaran di media. Salah satunya bisa dilihat di laman ini.

Mengapa mengawali tulisan ini dengan kutipan? Karena saya termasuk penentang peringatan Hari Kartini dengan cara berlomba-lomba memakai kebaya dan dandanan menor yang tanpa esensi. Kartini her very self saya yakin akan prihatin juga kalo berkesempatan menyaksikan cara sebagian dari kita memaknai Hari Kartini.

So...seperti tahun lalu, saya memilih satu kutipan favorit untuk saya pasang sebagai status di Facebook, sebagai ungkapan rasa respek saya kepada Kartini, yang menurut saya jika hidup di jaman ini pasti akan sehebat [atau bahkan lebih hebat daripada] Hillary Clinton atau Sri Mulyani Indrawati. Perempuan cerdas, pemberani dan tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Tahun lalu, saya ingat,  saya memasang kutipan "teruslah bermimpi", sedangkan tahun ini saya mengunggah kutipan "Aku mau!".

Namun ternyata kutipan paling berkesan Kartini tahun ini baru saya temukan ketika menonton acara favorit baru saya, Indonesia Lawak Klub (ILK). Di akhir acara yang bertema Hari Kartini, Kang Denny sebagi emsi membacakan kutipan Kartini berikut:

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
- Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901-

Touche!
Kutipan ini membuat saya speechless. #halah

Menurut saya kutipan di atas menunjukkan pemahaman Kartini yang tinggi tentang ajaran agamanya di satu sisi, sekaligus kemampuan berpikir kritis dan logis di sisi yang lain. Hal yang luar biasa pada jamannya, di mana sekolah saja susah, internet belum ada, apalagi twitter dan google sebagai tempat bertanya. *round applause untuk Kartini*

Saya pernah mendengar bahwa Kartini memiliki perhatian khusus terhadap ajaran Islam. I have no doubt about it. Sebagai seorang perempuan yang memiliki pikiran sekritis itu dan hidup di jaman yang nggak kebayang payah dan tidak adilnya seperti apa, saya bisa membayangkan Kartini pasti punya banyak pertanyaan tentang ajaran Islam. Haha, saya sotoy banget yah. I know....I just...feel her, maybe?:p

(Ada dua tautan mengenai kaitan Kartini dengan Islam yang saya temukan, pertama yang menurut saya cukup masuk akal di sini, dan yang kedua penuh dengan praduga konstipasi wahyudi yang bikin geli dan tepok jidat sendiri di sini.) 

Singkat cerita, kutipan Kartini ini kembali mengingatkan saya tentang definisi keberhasilan seorang perempuan yang saya pernah utarakan kepada bos pertama saya beberapa tahun lalu. Buat saya, sehebat-hebatnya seorang perempuan di ranah publik, tetap saja penting baginya untuk bisa memainkan peran luar biasa yang hanya perempuanlah yang bisa memerankan karena Tuhan menentukan demikian, yakni sebagai seorang istri dan ibu. Definisi keberhasilan itu saya rumuskan ketika baru mentas dari kelas "Gender dan Politik" yang merupakan salah satu mata kuliah paling berpengaruh terhadap jalan hidup saya (selain tentunya semua mata kuliah di bawah judul Studi Perdamaian), hehe.

Saya tidak bisa tidak sepakat dengan Kartini: perempuan harus cerdas, harus tercerahkan...karena mereka lah yang akan menjadi "the first school" ["madrasah pertama"] of the next generation.


Jadi, mumpung masih bulan April, saya mengucapkan selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia, dan semua laki-laki Indonesia yang menghormati dan menghargai perempuan sebagai madrasah (calon madrasah) pertama bagi anak-anak mereka (kelak). :)


Selamat Hari Kartini. Let us be inspired. Let us be enlightened. Amen.


*ps: mohon maap bahasanya jadi serius begini, sepertinya efek ikutan ngedit draft pidato musrenbangnas tadi siang hahaha...



No comments:

Post a Comment