Tuesday, April 08, 2014

Sebelum Memutuskan untuk Golput Besok Pagi...

"Selamat memilih, semoga kita menghasilkan pemimpin yg lebih baik!"

Pak Ketua KPU menutup pidatonya di TVRI beberapa menit lalu. Sesungguhnya saat ini saya sangat ingin tidur. Maklum dari kemarin belum sempat tidur dengan proper, karena tadi pagi harus mengejar pesawat pertama dari Soekarno-Hatta. Namun saya abaikan semuanya, dan saya lanjutkan mengetik di sini, untuk menegaskan satu hal:

Jangan golput di Pemilu Legislatif 9 April ini.

Kalimat ini segitu pentingnya buat saya. Mengapa? Begini runtutan argumennya:

menggunakan hak pilih --> menjaga berjalannya proses pergantian kepemimpinan yang damai dan nirkekerasan --> menjaga keberlangsungan demokrasi -->  menjaga keberlangsungan perjalanan bangsa di track yang benar --> membantu terwujudnya cita-cita dan tujuan bangsa dan negara (melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan turut serta dalam perdamaian dunia).

Anda mau mendebat pendapat saya bahwa demokrasi adalah "track yang benar"? Monggo, silakan. Tapi saya ingatkan kembali bahwa ongkos tidak berdemokrasi sangat mahal. Contoh? Peristiwa 1965 dan peristiwa 1998. Itu adalah contoh pergantian kepemimpinan yang tidak demokratis/tidak damai yang pernah terpaksa kita jalani.

Di masa Orba, orang memilih golput karena memang pemilu adalah alat untuk melanggengkan sistem dan tatanan yang represif alih-alih untuk membangun demokrasi. Jaman itu golput adalah sikap politik yang keren. Sekarang? Konteksnya sudah berubah. Pemilu, insya Allah, sudah menjadi perangkat demokrasi, alat untuk melakukan suksesi kepemimpinan dan perwakilan dalam tatanan yang (aspiring to be) democratic.

Masih tidak setuju dengan alasan bahwa tidak ada satupun caleg yang layak dipilih?

Baiklah...saya ingin mengutip beberapa pendapat yang menurut saya kena banget terkait mengapa kita tidak boleh golput. Silakan simak:

"Golput 90% pun tak membatalkan pemilu. Berapapun yang datang ke TPS dan memilih, kursi DPR tetap dibagi habis." (Mahfud MD)

"Sekarang pilihannya gini: kita gak milih, tapi kelompok pro status quo tetap milih dan tetap bercokol di kekuasaannya. Mau ambil pilihan yang mana? Milih, awasi, dan tagih janji, menjadi warga yang kritis lahir batin. " (Titi Anggraini - Perludem) 

"One of the penalties for refusing to participate in politics, is that you end up being governed by your inferiors." (Plato)

"Minimal kita memilih untuk mencegah yang PALING buruk yang menang pemilu." (Eric Hiariej - Dosen FISIPOL UGM)

 Ngomong-ngomong, sebelum memutuskan bahwa tetap tidak ada caleg yang layak dipilih sehingga Anda sudah selayaknya golput, coba tanyakan kepada diri sendiri: sudahkah kita berupaya sedikit saja mencari informasi mengenai para kandidat ini? Jawablah dengan jujur.

Saya ingin coba mengungkapkan bahwa pemilu kali ini kita lebih beruntung dibandingkan lima tahun lalu. Lima tahun lalu, saya cukup ingat bahwa:

1) website KPU belum seinformatif sekarang, yang dilengkapi dengan downloadable CV masing-masing kandidat. Coba liat web KPU sekarang:  http://dct.kpu.go.id/index.php 


2) belum banyak platform (online) yang dibuat oleh kalangan masyarakat sipil yang menginformasikan kondisi kelayakan para kandidat legislatif kita seperti sekarang ini. Simak link-link di bawah ini:

http://litsuscaleg2014.wordpress.com/ --> liputan khusus mengenai caleg, good addition to the CV
http://www.bersih2014.net --> referensi caleg yang bersih
https://docs.google.com/file/d/0B5Oc2V6lhwrIeUVyWEF0cVNuOGM/edit --> referensi dari masyarapat pendukung pemberantasan korupsi

Saya terkesan dengan website KPU, dan saya juga sangat amazed dengan berbagai platform online yang memberikan informasi yang melengkapi website KPU mengenai masing-masing kandidat legislatif. Sekali lagi, lima tahun lalu saya ingat betul saya sendiri juga tidak tahu harus mencari informasi ke mana, tetapi waktu itu saya merekomendasikan memilih caleg perempuan dengan sejumlah alasan (baca di link ini ).

Cobalah periksa dan telusuri tautan di atas, cermati. Gunakan akses dan kemampuan serta kecerdasan yang Anda miliki dengan pemahaman bahwa menggunakan hak pilih dengan bertanggungjawab akan membawa kebaikan bagi bangsa. Saya yakin kita bisa mengubah budaya malas/menunggu disuapi yang selama ini masih melekat erat pelan-pelan akan bisa kita kikis, dan rekonstruksi menjadi budaya yang lebih peduli dan proaktif.

Anda memutuskan untuk tetap tidak memilih? Hehe, jika sudah sampai di sini, maka itu terserah pada diri kita masing-masing. Mungkin standar Anda tinggi sekali (been there, done that, many times, in different context...oops, haha), mungkin juga Anda sedari tadi tidak sependapat dengan argumen saya mengenai pentingnya partisipasi dalam pemilu dalam konteks yang lebih luas. Namun tentu Anda harus siap dan paham dengan konsekuensinya. Ketika Anda tidak memilih padahal sudah diberikan hak pilih, berarti Anda juga secara logis memilih untuk melepas hak Anda untuk mengkritisi hasil proses ini nanti. Mau protes anggota DPR yang terpilih itu korup, males, atau bodoh tak terhingga? Wah, ya maaf,...Anda telah melewatkan kesempatan untuk campur tangan dalam proses terpilih/tidak terpilihnya mereka kok. :)

Apapun keputusan Anda besok pagi, yang terpenting, misi saya melalui tulisan ini untuk menuangkan apa yang saya pikirkan dan renungkan hari ini sudah tuntas. Sekarang saya bisa shalat isya' dan bobo nyenyak.

 So...selamat memilih, semoga kita menghasilkan pemimpin  wakil rakyat yg lebih baik! :)

The Morning I Landed in My Hometown. To Vote

No comments:

Post a Comment