Saturday, September 06, 2014

Gengsi?

Posting ini sudah lama dipikirkan, namun baru sekarang dituliskan (akhirnya). Diniatkan sebagai #notetoself untuk #revolusimental yang telah dicanangkan dan prioritas personal yang telah ditetapkan (tsaah, bahasa akuh sangat Tim Transisi :p). Dan mumpung masih insomnia karena jet lag dan alasan-alasan lainnya. ;)g

Lebaran kemarin, tanpa sengaja saya menonton acara kompetisi hafiz (penghapal) Quran cilik di sebuah TV swasta. Hehe, ketinggalan banget ya, baru tahu ada acara yang bikin terbengong-bengong gini. Yep, anak-anak kecil mungil, tapi hapalan ayat Quran-nya bikin saya malu, dan bertanya pada diri sendiri: ngapain aja hidup selama ini jumlah hapalan surat pendeknya bisa dihitung dengan jari? Ouch.

Kali ini dewan juri membuat skema baru untuk para peserta, di mana peserta yang biasanya berkompetisi secara individu dipasang-pasangkan dalam tim yang terdiri dari dua orang. Salah satu tim terdiri dari dua orang anak perempuan kecil, mungkin berumur delapan atau sembilan tahun. Nama kedua anak perempuan ini Sabrina dan Sausan. 

Sabrina sepertinya anak perempuan yang menyenangkan. Ceria, senyam-senyum dan dengan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri yang terdiri dari seorang Pak Ustadz, Deasy Ratnasari dan satu lagi artis perempuan yang tidak saya ingat namanya. Sementara Sausan, lebih banyak diam, dan punya kebiasaan memantul-mantulkan kakinya. Mungkin karena gugup, tapi kesan yang muncul adalah over-confident. Atau dalam bahasa Jawa ala Jogja, saya akan menyebutnya "nggleleng". Sausan hampir tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri tentang perasaannya diduetkan dengan Sabrina. Hampir semuanya dijawab oleh Sabrina.

Namun ketika tiba giliran di-tes hapalan Quran-nya, Sausan terlihat super pede dan menjawab sebelum pertanyaan berakhir (bentuk pertanyaannya meneruskan potongan ayat gitu).

Ibu saya (yes, nonton sama ibuk-bapak, kader Muhammadiyah yang cukup militan, dan  penggemar acara-acara beginian :D) berkomentar bahwa Sausan ini agak sombong dan "nggleleng" itu tadi. However, saya justru membatin...Sausan reminds me a bit of myself. Untung saya lagi agak waras...kalo lagi nyebelin mungkin saya akan nyeletuk: "relax mum, look at your very daughter. she could be much more horrible than that." wkwkwkwk. :p

Setelah tes selesai untuk Sabrina dan Sausan, kembali mereka berdua ditanya-tanya oleh para dewan juri. Salah satu pertanyaannya begini:

"Sabrina dan Sausan saling sayang nggak? Gimana, seneng nggak jadi satu tim? Kalo sayang ayok bilang sayang ke satu sama lain."

Hanya Sabrina yang menjawab. Sausan diem aja. Ketika dewan juri bilang "Kalo sayang, peluk dooong." pun, hanya Sabrina yang berinisiatif maju memeluk Sausan.

Akhirnya Pak Ustadz, satu-satunya juri laki-laki angkat bicara. Beliau menegur Sausan.

"Sausan...Sausan nggak boleh gini ya...jangan gengsi-an untuk bilang sayang. Apalagi nanti Sausan kan jadi ibu...kan harus ngungkapin sayang sama anak-anak Sausan. Latihan ya, Nak....untuk nggak gengsian...."

Lupa kalimat persisnya bagaimana, tapi kira-kira begitulah.

Sungguh saya sebelumnya tidak terpikir kata-kata Pak Ustadz itu. I mean, I never thought of the drawbacks of being gengsi-an in expressing compassion. Nggak gampang ngungkapin rasa sayang, lho. Alasan saya sih karena dalam bahasa ibu saya ungkapan sayang terdengar awkward. Try this: "Aku tresno marang kowe, Buk, Pak, Mas, Le" OMG. Hahaha. Dibayangin aja udah geli setengah mati. Dalam bahasa Indonesia pun masih terdengar awkward. "Aku sayang Ibu, Bapak." Whew.  Dalam bahasa Inggris paling mending, mungkin. Salah satu indikator kegengsian saya yang lain adalah rendahnya frekuensi menangis (di depan publik) saya dibandingkan teman-teman Tim Perumus SabangMerauke. Joke-nya adalah otak saya tidak memiliki amygdala bahkan (bener ora nulise iki?). :p

 Intinya, saya semakin menyadari bahwa nasihat Pak Ustadz untuk Sausan sangat relevan juga untuk saya. There is actually a valid reason why I should consider a bit of change in me.

So...wish me luck? :D