Friday, December 26, 2014

[Letter of 2014] : 1. Joko Widodo

So, I have this project to close the year of 2014 in a sweet, fun, and rather "gw-banget" way: writing letters to those who made impact in my 2014. 

The first one, is to this person, Indonesia's 7th president. I wrote the letter for a writing competition in June. The letter went through the selection process and got into the big 150 (compiled in a book that I could not find where to buy), but unfortunately failed to win me some tablets and IDRs. haha. 

But anyway...I really like this letter, and I do think more people (other than the judges of the competition, or Mr. President himself) need to read this. 

Enjoy reading this, I hope you have fun! :) 

---

Jakarta, 25 Juni 2014

Yth Bapak Joko Widodo
di hati rakyat…#eaa #uhuk

Assalamualaikum Wr Wb

Apa kabar Pak Jokowi, semoga sehat selalu, panjang umur dan senantiasa diberkahi Allah…ini salam pembuka saya, sekaligus ucapan dan doa selamat ulang tahun kepada Bapak. :)

Perkenalkan, Bapak, saya Dyah Widiastuti, biasa dipanggil Wiwie, namun di media sosial memiliki nama yang agak-agak mirip nama ngetop Bapak, yakni…@dyahwie (haha, maksa ya Pak…mirip belakangnya saja sih…). Saya warga negara biasa, kebetulan mengabdi sebagai pelayan masyarakat di kantor seberang Taman Suropati. 

Betul Pak, kita sempat bertetangga, meskipun sebentar. #infopenting

Tidak pernah terbayang di benak saya, bahwa pengalaman 10 tahun lalu akan terulang. Sepuluh tahun yang lalu, jelang pemilu presiden 2004, saya menulis surat kepada kandidat calon presiden juga, idola saya jaman SMA sampai kuliah, Bapak Amien Rais. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UGM. Dalam surat tersebut, saya menuangkan kekaguman, pujian, harapan serta wejangan-wejangan (#eh #ups) kepada capres yang saya idolakan. Kini, sepuluh tahun kemudian, ketika membaca pengumuman mengenai lomba ini, maka saya tak ragu untuk mulai menulis. Niat utamanya mungkin bukan untuk menang lomba, tapi saya berharap sekali Pak Jokowi benar-benar berkesempatan untuk membaca surat ini. 

Aamiin.

Melalui surat ini, saya ingin menyampaikan hal yang kira-kira serupa yang saya sampaikan kepada Pak Amien Rais sepuluh tahun yang lalu. Boleh ya Pak, hehehe…

Pertama, saya berharap ketika Bapak terpilih menjadi presiden nanti (aamiin, insha Allah), Bapak tetap menjadi diri Bapak yang sekarang. Diri Bapak yang sekarang, yang saya tahu adalah orang baik. Saya sudah sering diberitahu, dan diingatkan, bahwa pastinya tidak ada politisi yang idealis, namun saya percaya bahwa Bapak adalah sedikit dari politisi yang masih baik yang kita miliki sekarang. Bapak tidak korupsi, Bapak amanah, Bapak berpihak kepada rakyat kecil (penganut Marhaenisme setahu saya). Menjadi politisi dan pemimpin yang baik, saya tahu sangat sulit Pak, terlebih lagi di negeri ini. Perlu keberanian superbesar. Kalau yang ini saya menyaksikan dan mengalami sendiri Pak, dari pengalaman lima tahun saya bekerja di birokrasi.

Yang kedua Pak, saya berharap Bapak berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang oportunis di sekitar Bapak, yang sekiranya akan membawa pengaruh kurang baik, dan akan “membelokkan” Bapak dari garis kepemimpinan yang baik dan amanah. Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat sekali, saya mem-bold dan meng-underline pesan dan harapan serupa untuk Pak Amien Rais, karena melihat ini sebagai ancaman yang nyata bagi setiap pemimpin yang relatif idealis (atau saya anggap idealis, hehehe). Saya pernah mendengar cerita dari tangan pertama, bahwa masuknya lobi kaum oportunis (yang merugikan rakyat) ini adalah fenomena yang cukup mengerikan dalam sistem demokrasi kita sekarang. Sebagai pemercaya dan penganjur demokrasi, saya sangat prihatin dan sedih melihat fenomena ini semakin memburuk saja dari hari ke hari. Ini yang menjadi sumber munculnya politik transaksional, yang seringkali menjadi penyebab utama hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Dalam konteks ini, saya percaya bahwa Bapak adalah orang yang berani berkata “tidak” kepada kekuatan-kekuatan oportunis itu…, dan semoga selalu diberikan kekuatan dan kemudahan ya Pak jika benar-benar menjadi presiden nanti...Aamiin, dan Insha Allah, rakyat berada di belakang Bapak.

Selanjutnya, yang ketiga, saya berharap jika Bapak terpilih menjadi presiden, Bapak mampu menjadi jembatan bagi aspirasi kaum minoritas dan maupun mayoritas. Nyuwun sewu Bapak, ini isu yang agak sensitif karena menyangkut SARA…tetapi saya putuskan untuk tetap saya sampaikan karena mungkin tidak akan ada kesempatan lain untuk menyampaikan.

Saya tidak sedikitpun ragu, bahwa Bapak akan melindungi dan memberi rasa aman kepada kaum minoritas, seperti yang diamanahkan Pancasila, dan ini sesuatu yang sangat penting bagi Indonesia. Di sisi lain, saya juga berharap Bapak akan mampu menunjukkan bahwa kekhawatiran kaum mayoritas jika Bapak terpilih tidak akan terjadi. Bapak tentu sudah mendengar bahwa kaum mayoritas, khususnya muslim, khawatir Bapak akan mendukung kristenisasi dan membuka peluang dominasi Islam liberal dalam masyarakat kita.

Semalam saya ngobrol panjang dengan sepupu saya, yang bercerita bahwa keluarga besar kami di Jogja (yang Muhammadiyah sejak lahir dan aktif dalam pengajian di tingkat pengurus ranting) sebagian besar tidak akan memilih Bapak dengan alasan Bapak dianggap dekat dengan pintu kristenisasi, mengacu kepada rekam jejak Bapak yang menggandeng dua wakil kepala daerah beragama nasrani di Solo dan DKI. Awalnya saya menganggap ini lucu dan memperlihatkan kesempitan cara berpikir. Namun kemudian saya coba berempati kepada mereka dengan melihat bahwa mungkin ada pengalaman hidup mereka yang membentuk cara pikir ini, dan tiba-tiba saya teringat kejadian yang pernah saya alami ketika saya bahkan belum masuk ke bangku TK. Waktu itu saya sedih dan marah kepada Bapak saya, yang meminta sekelompok pemuda dan pemudi asing untuk tidak lagi datang ke dusun saya di kaki merapi setiap hari Minggu pagi. Pemuda dan pemudi itu, seingat saya mengajak kami menyanyi dan makan-makan. Baru kemudian setelah saya agak dewasa saya tahu bahwa Bapak saya melindungi kami, anak-anak dusun itu, dari (apa yang dipersepsikan sebagai) kristenisasi. Waktu kecil, saya juga sering mendengar cerita tetangga-tetangga dusun kami (yang kondisi ekonominya kurang beruntung) berpindah keyakinan hanya karena sekardus mie instan.

Saya sendiri masih terlalu kecil untuk memahami atau mengkonfirmasi berita-berita tersebut waktu itu. Namun saya kira pengalaman inilah yang membentuk sikap sebagian dari keluarga besar saya di Jogja, dan mayoritas muslim Indonesia pada umumnya. Di satu sisi, kekhawatiran mereka bisa saya pahami, bahkan sejujurnya, saya sendiri juga terkadang memiliki kekhawatiran terkait ini, hehe. Namun demikian, jejak keluarga besar saya tidak saya ikuti. 

Saya sejujurnya ingin melihat apakah kekhawatiran ini akan terbukti ketika Bapak menjadi pimpinan tertinggi nanti. 

Saya katakan kepada sepupu saya semalam, bahwa Allah pasti punya alasan kenapa kita diciptakan sebagai orang Islam di INDONESIA, alih-alih di negara lain seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab, misalnya. 

Mungkin alasan Allah, salah satunya, adalah agar orang Islam di Indonesia belajar bertoleransi, belajar mengamalkan Islam yang bisa menjadi pengayom bagi saudara sebangsa yang bhinneka, belajar menjadikan Islam sebagai “rahmatan lil alamin” bukan sebatas “rahmatan lil muslimin”.

Harapan saya, Indonesia di bawah Pak Jokowi akan menjadi negeri yang lebih ramah dan adil kepada minoritas, namun saya juga berharap bahwa kondisi yang demikian ini bukan kemudian sesuatu yang buruk dan merugikan bagi kaum mayoritasnya, bahkan mungkin justru bisa menjadi “ladang amal” yang baik bagi mereka. Saya berharap baik kaum mayoritas dan minoritas akan sama-sama tenang dan tenteram, sehingga tidak ada pihak yang merasa insecure. Saya sendiri masih belum kebayang bagaimana langkah rinci untuk menciptakan kondisi ini, tapi saya sungguh berharap Bapak berkenan memikirkan dan mewujudkannya nanti…Saya siap bantu deh Pak, jika diminta. :)

Bapak Jokowi yang saya hormati, yang keempat, saya berharap jika Bapak terpilih nanti, Bapak berkenan untuk keep in mind bahwa Bapak adalah role model dan inspirasi bagi seluruh jajaran di birokrasi. Dua tahun yang lalu, ketika Bapak baru saja terpilih sebagai Gubernur DKI, saya hanya membayangkan saja bahwa anak-anak muda lulusan terbaik yang idealis berbondong-bondong ingin menjadi pegawai negeri jika presidennya adalah Pak Jokowi. (Waktu itu tidak terpikir bahwa Bapak akan benar-benar nyapres). Untuk mereka yang muda, idealis, lulusan terbaik, figur seperti Bapak matters, di tengah jebloknya pandangan masyarakat terhadap profesi pejabat publik dan pegawai negeri sipil pada umumnya. Untuk saya, ini urgen sekali, karena saya menemukan semakin besarnya rasa frustrasi dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pejabat publik dan birokrasi pemerintah kita pada umumnya, yang jika dibiarkan berlarut-larut akan berbahaya bagi keberlanjutan demokrasi kita (karena kemudian mereka jadi rindu sistem lama yang lebih otoriter).

Munculnya Pak Jokowi, Bu Risma, Pak Ahok atau Pak Ridwan Kamil, adalah generasi baru Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir, yang membuat saya berani sedikit berharap, bahwa rasa frustrasi dan ketidakpercayaan itu bisa dicegah agar tidak semakin bergulir membesar. Pemimpin-pemimpin seperti Bapak dan nama-nama yang saya sebutkan di atas saya harapkan akan terus ada dan bertambah banyak, juga untuk menginspirasi kami bahwa kami adalah “civil servants”, pelayan masyarakat, dan bukan sekedar pegawai negara.

Oh ya Pak, sebelum saya akhiri surat saya yang panjang (hehe, jangan-jangan Bapak sudah ketiduran baca surat ini karena saking panjangnya…) ini, saya ingin menyampaikan bahwa Bapak had done quite well di debat capres untuk isu Politik Internasional dan Ketahanan Nasional. Sebagai anak HI tulen, saya merasa surprised Bapak bisa belajar banyak dalam waktu singkat,…hehe, meskipun kelihatan agak grogi dan masih perlu melakukan pendalaman untuk beberapa isu sih, Pak. Tapi all in all, Bapak oke. 

Ternyata ucapan Bapak “wajah ndeso, otak internasional” itu bukan sekedar jargon kampanye ya... :D

Demikian Bapak, surat panjang yang mewakili suara hati saya sebagai rakyat Indonesia yang punya banyak kepentingan: sebagai seorang Indonesia, seorang muslim, seorang pemercaya dan penganjur demokrasi, sekaligus sebagai seorang seorang civil servant, calon anak buah Bapak nanti, aamiin. :D

Salam hormat saya untuk Ibu Iriana dan Pak JK ya Pak…jaga kesehatan selalu, dan semoga senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran, keberkahan dan keamanahan menuju 9 Juli nanti, dan untuk seterusnya. 

Terima kasih banyak sudah berkenan membaca. :)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Hormat saya,
Wiwie
@dyahwie

President Joko Widodo, taking the oath, with the Quran above his right shoulder
[photo source: http://d.ibtimes.co.uk/en/full/1405319/widodo-indonesia.jpg]